
Di salah satu toko makanan, empat sosok pada salah satu meja kian menikmati makanan di depannya. Jakson juga kerap menyantap makanannya sedikit demi sedikit, sembari menikmati susu panas pesanannya tadi, di tunggunya hingga terasa dingin. Di depannya, ternyata Megan juga memesan susu yang sama.
Dan keheranan pun kian melanda Jakson saat mendapati Megan yang langsung menikmati susu panas itu tanpa aba-aba seperti meniupnya terlebih dahulu.
“Dia tidak merasa panas kah?” gumamnya heran menatap Megan yang dengan santainya meneguk susu itu seolah tak merasakan panas.
“Hei, Apa itu tidak panas, punya ku saja masih panas tau!” jelas Jakson seraya meraih segelas susu itu dari genggaman Megan saat Megan akan meneguknya lagi.
Sontak Davin dan Julia terkejut akan penuturannya. Mereka juga kerap menatap heran pada sosok Jakson. Ada apa gerangan? Mungkin itu pertanyaan yang terlintas di benak Davin dan Julia saat ini.
“Panas? Sepertinya tidak” jawab Megan polos.
“Apa maksudmu tidak, jelas ini masih panas! Pasti lidahmu melepuh, buka mulutmu, biar ku lihat lidahmu dulu!” tegas Jakson memberi perintah seraya mendekatkan wajah menatap Megan.
Julia dan Davin yang duduk di sana menatap heran padanya yang bertingkah berlebihan. Dua orang ini seolah tengah menonton sandiwara sinetron. Dan hal itu juga sukses membuat Davin tersulut api cemburu.
Megan juga tak bisa menolak akan ucapan Jakson yang ingin melihat lidahnya. Tanpa mengucap satu kata ia kerap menjulurkan lidahnya, memperlihatkannya pada Jakson yang kian mengamati.
“Sudah ku duga lidahmu melepuh! Apa tidak sakit?” ujarnya peduli.
Megan menggeleng kepala akan pertanyaan itu, ia juga baru sadar akan tingkah Jakson yang perhatian padanya. Sempat terbayang sosok Devan di pikirannya jikala melihat tingkah Jakson saat ini.
“Benar tidak sakit? Ini.. Coba kau makan!” ujarnya dengan memberikan sebutir permen susu kesukaannya pada Megan.
__ADS_1
“Bagaimana? Sakit?” tanyanya lagi.
“Ti tidak!” jawab Megan malu-malu, ia tertunduk tak berani menatap Jakson yang tepat di depannya, yang kerap membuatnya salah tingkah.
“Aku baru sadar! Ternyata dia tampan!” batin Megan yang kian hanyut akan bayangan wajah Jakson.
*
*
“Hmm.. Aku tidak berpikir dia baik-baik saja! Bagaimana bisa tidak merasa panas!” gumam Jakson seraya menatap suasana di balik jendela mobil yang kian melaju.
Kejadian tadi kerap menjadi beban pikirannya. Jelaslah hal itu terasa menjanggal baginya, sungguh aneh.
Julia ikut menumpang di mobil Davin menuju kediaman pribadi Jakson, malam ini ia akan menginap di sana karena suasana di rumah besar Willy kian suram akan pertengkaran kecilnya dengan Jasmine pagi tadi.
“Tidak ada, jangan ganggu aku! Aku lelah!” seru Jakson cuek.
“Cihh, lelah bagaimana? Aku yang harusnya bilang begitu karena aku membelikan semua barang kakak hari ini!” jelas Julia lemah karena sebelumnya ia yang harus membelikan barang keperluan Jakson.
Julia tau masalah Jakson sebelumnya sehingga menyulutnya ingin membantu sang kakak. Tapi apalah, setiap kali ia di suruh pastilah mengeluh.
“Mau bagaimana lagi, aku jadi pusat perhatian! Dan lagi.. ini sepadan karena kau akan menginap malam ini bukan!”
__ADS_1
“Hmm! Oh iya, sejak kapan kalian jadi sepasang ke kasih!” serunya lagi dengan seringai menggoda.
Sebelumnya ia sempat melihat dari keramaian sosok Megan yang membentak para fans Jakson. Dengan lantang mengaku sebagai kekasih dari Jakson. Saat Julia mendengar penuturan itu, ia terkejut. Tapi di sela terkejutnya ia juga senang, setidaknya ada seorang wanita yang bisa bersama Jakson, harapnya agar phobia Jakson membaik. Lebih baik lagi jika mereka bisa jadi sepasang kekasih pada umumnya.
“A apa maksudmu sepasang kekasih?” seru Jakson yang tampak gugup, ia teringat akan ucapan Megan yang dengan lantangnya mengaku sebagai kekasihnya.
“I itu.. Aku, aku tidak sengaja melakukannya! Aku terpaksa!” seru Megan tampak gugup.
Jikalau mengingat kembali kejadian tadi, ia kerap malu akan dirinya, bisa-bisanya ia mengatakan hal itu dengan enteng di depan banyak orang.
“Aku, Aku minta maaf! Bukan maksudku ingin mengatakan itu tapi..” sambungnya kian tertunduk dalam.
“Ehem.. Su sudahlah, lupakan saja! Kau juga melakukannya untuk menolong ku!” jelas Jakson kerap bersikap normal sedingin yang biasa ia lakukan.
“Memangnya apa yang terjadi di antara kalian?” tanya Davin pula yang kerap penasaran, sedari tadi ia hanya menyimak obrolan mereka tapi tak kunjung mengerti, entah kejadian apa yang mereka bahas, pikirnya.
“Haha.. Itu hanya masalah kecil, lupakan saja!” jelas Megan gugup.
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.