Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 14


__ADS_3

“Jim, kau mendengarnya kan, pembunuh berantai! gila aku kalau begini terus!” jelas Jakson tampak panik.


Sekarang, di rumah besar ini hanya ada mereka bertiga. Megan sudah kembali ke kamarnya atas suruhan Jim untuk istirahat. Di salah satu ruangan Jakson dan Jim kerap membahas bagaimana kelangsungan hidupnya ini yang seolah terancam.


Setelah mendengar penuturan yang bahkan lebih menakutkan dari melihat hantu, Jakson sudah seperti orang gila, bukan gila karena apa, dirinya kian merasa takut, pikirannya juga kerap merasukinya akan bayangan seorang pembunuh dalam dunia drama. Lebih tak mungkin lagi bagi Jakson jika harus terlibat dengan dunia kekerasan, walau bukan dirinya yang menjadi target.


Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah jadi bubur, yang di katakannya sekarang di depan Jim sungguh berbeda dengan penuturannya di depan kedua polisi itu.


“Bagaimana ini Jim, tidak mungkin kan pembunuh ini datang kemari” tanyanya lagi.


“Bagaimana tidak mungkin, dia akan datang mencari Megan” jelas Jim pula menakuti sosok Jakson yang telah dilanda panik.


“Apa ini, bukankah kau sendiri yang ingin agar Megan tinggal bersamamu, mengapa sekarang sepertinya kau tak bersedia jika dia ada di sini!” lanjutnya seraya memperhatikan gerak panik Jakson sekarang padahal bersikap tenang saat diruang tamu.


“Aku, mana mungkin aku menarik kata yang sudah ku ucapkan, itu bukan gaya ku!” jelasnya membela diri.


“Apa masih peduli pada gaya mu sekarang! kau akan mati karena gaya mu ini” jelas Jim seolah memperingatkan Jakson.


“Jangan bicara sembarangan!” serunya dengan nada tinggi.


“Baiklah! kau jangan panik, begini saja, ganti kunci rumah ke digital, pastikan memakai sidik jarimu, dan.. dan juga pasang cctv di setiap sudut rumah, di taman juga tak apa, ini untuk berjaga jaga!” usul Jim memberi masukan, ia sebenarnya juga takut, ada kemungkinan pembunuh itu akan mencari Megan kemari dan tentu saja Jakson juga terancam karena sudah terlibat.


“Baiklah-baiklah, akan aku lakukan sekarang juga!” jelasnya seraya mencari keberadaan ponselnya.


Dengan menarik nafas panjang, Jakson menelpon beberapa security di kediaman keluarganya agar membantu membeli alat dan keperluannya sekarang.

__ADS_1


“Jangan panik begitu, bukankah polisi itu akan mengawasi Megan di sini!” seru Jim mengingatkan sebelumnya Davin bermaksud mengawasi Megan di sampingannya sekaligus menjaga sang aktor Jakson.


“Oh iya, apa mereka juga tau kecelakaan yang kau perbuat malam itu?” sambungnya bertanya takut kejadian malam kecelakaan itu di ketahui polisi yang jelas saja akan merusak citra Jakson.


“Aku tidak tau!” jelas Jakson yang masih tampak panik.


“Sudahlah, aku sesak nafas melihatmu ketakutan seperti ini, lebih baik aku kembali ke rumah sakit!” ujarnya yang kerap berlalu dan akan membuka pintu.


“Tidak boleh, kau tidak boleh pergi dari sini!” tegas Jakson menahan dengan menindih pintu agar tak terbuka.


“Apa maksudmu tidak boleh? aku ingin ke rumah sakit!” ucapnya yang mulai kesal akan tingkah gila Jakson.


“Aku bilang tidak ya tidak, apa kau tega meninggalkan aku sendiri” rengek Jakson yang kerap memeluk erat tubuh Jim yang membuatnya berusaha melepas dekapan itu seraya membuka pintu.


“Lepaskan aku, kau ini sudah besar, apa pantas bersikap seperti ini, lepas tidak!”


Jakson tak berkutik akan perintah itu, ia mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Jim, menahannya agar tak pergi.


Tampak jim sudah muak akan tingkah Jakson yang kekanak-kanakan, dengan sekuat tenaga ia memukul tangan itu, dirinya seolah bergulat hebat tapi Jakson sama sekali tak berkutik atau melepas lingkaran tangannya di sana.


Bukkk..


Mereka terjatuh di lantai, sakit seolah tak terasa tapi Jakson sama sekali tak mau melepaskan tangannya. Mereka bergulat hebat di lantai dengan suara gaduh yang kerap bergema dalam rumah sunyi itu.


“Aaakkk.. Lepaskan aku, apa yang akan di katakan fans mu jika melihat kelakuan bodoh mu sekarang!” ujar Jim yang tak tahan lagi akan ulah manja Jakson yang berlebihan.

__ADS_1


“Aku tak peduli!”


Krekk..


Pintu terbuka, Megan berdiri di ambang pintu menatap mereka berdua yang tengah bergulat hebat di lantai. Rambut kian acak-acakan bersama pakaiannya.


“Apa yang kalian lakukan!” serunya bertanya heran akan tingkah dua sosok yang tampak romantis di matanya.


Sontak akan seruhan itu, Jakson dan jim menatap lekat sosok Megan yang berdiri di ambang pintu. Tampak mereka sedang melongo, kemudian saling menatap lekat mengamati situasi mereka sekarang.


Buk..


Jakson dengan sigap mendorong tubuh Jim darinya seraya melepas lingkaran tangannya. Ia berdiri dan kerap menepuk pakaiannya yang tak kotor. Jim hanya menatap heran akan tingkah Jakson ini, sungguh berbeda, pikirnya.


“Ahaha, ini tidak seperti yang kau lihat!” ujarnya dengan senyum polos menatap Megan yang tampak masih melongo dengan pikirannya yang kian berimajinasi.


“Kenapa kau keluar!” seru Jim seraya bangkit dari duduknya dan mendekat pada Megan, takut pasiennya ini kenapa-napa.


“Aku, aku haus..” ujarnya malu-malu yang membuat Jakson dan jim saling menatap heran dengan desahan lemah.


To


Be


Continue

__ADS_1


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2