
"Ada apa ini? bukannya Megan yang harusnya terbaring di sana!" batin Nadia heran, jelaslah semalam ia memberikan jus itu pada Megan tapi malah Jakson yang jatuh sakit.
Jakson berbaring di atas bidang empuk Megan. Di sana Megan dan yang lainnya tengah menunggu dengan harap cemas akan keadaan Jakson. Sementara Jim sudah sedari tadi mengamati dan memeriksanya tapi masih ragu menyampaikan diaknosanya.
“Semalam apa yang kau makan?” tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari mulut Jim, menghentikan kecemasan menjadi penasaran.
“Aku.. Sepertinya tidak makan apa pun! Kecuali.. sedikit camilan, beberapa kue, dan.. soda!” tutur Jakson mengingat-ingat apa yang ia makan semalam, dan yang di sebutnya itu
saat ia menikmati camilan mulai dari sore hati hingga larut, penuturannya sukses membuat mata tertuju padanya.
“Kau bilang itu sedikit?” kesal Jim, sudah ia duga jawaban itu akan terlontar, karena itu sudah kebiasaan Jakson.
“Ya.. Memang sedikit bukan?” ujar Jakson dengan polosnya menatap mereka yang tercengang menatapnya.
Berusaha Jakson mengirim senyum walau terasa kaku. Tapi tatapan itu kian berubah jadi tawa kecil membuatnya merasa heran.
“A ada apa?” tanya Jakson.
“Kau bilang ada apa? Biar ku jelaskan, perutmu sakit karena kau makan terlalu banyak!” seru Jim dengan senyum polosnya yang seolah siap memukul sosok Jakson.
“Be benarkah hanya karena banyak makan dia jadi sakit perut?” sahut Nadia gugup, pikirnya Jakson sakit karena ulahnya, padahal dari tadi ia menunggu Megan yang mengalami hal ini, tapi yang terjadi sekarang malah sebaliknya.
“Benar!” jelas Jim, sebenarnya ia menyembunyikan kebenaran tentang sakit Jakson ini, pikirnya kejadian ini di sengaja.
“Ja jadi dia akan baik-baik saja kan Jim?” seru Sam pula.
__ADS_1
“Tenang saja, jagoan ini akan pulih setelah minum obat!” yakin Jim.
“Ta tapi perutku masih sangat sakit!” ujar Jakson masih meringis sakit dengan nada lemah.
Sontak mata Jim membulat memberi kode, sengaja ia melontarkan perkataan itu agar yang lain tak khawatir, tapi Jakson sama sekali tak mengerti dengan kode itu. Mereka saling menatap tajam, membulatkan mata beradu tatapan seolah tengah bertelepati.
Jim mengalihkan pandangannya menatap Megan dan yang lain, “Aaa.. Ini hanya sementara, cuma sakit biasa, nanti juga akan sembuh!” tuturnya tersenyum kaku.
“Ta tapi aaa..” sekali lagi Jakson angkat suara, tapi kali ini perkataannya tertahan karena tangan Jim sudah mendarat, mencubitnya di sisi perut.
“A ada apa Jakson?” tanya Megan yang mulai curiga akan sikap Jakson dan Jim.
“A aku tidak apa! Seperti kata Jim, aku akan baik-baik saja, benarkan!” balas Jakson tersenyum ramah, kemudian menatap Jim, dan Jim membalas dengan anggukan atas penuturan itu yang seolah sudah mengerti maksudnya.
“Be begitu!” jelas Megan lega.
“Tapi kami masih ingin di sini!” sela Sam.
“Sudah, kau tunggu di luar saja, ini urusan pasien dan dokter!” decak Jim membalas tegas perkataan Sam.
Sontak Megan dan yang lain saling menatap, penuturan itu sukses membuat mereka terdiam. Mereka menganggap perkataan Jim itu ada benarnya.
“Baiklah kalau begitu, kami keluar!” tutur Megan pasrah yang menarik Davin keluar bersamanya.
Sam dan Nadia juga ikut keluar, walau sedikit ragu meninggalkan Jakson dalam ruangan itu. Dan tinggallah Jakson bersama Jim sekarang. Tampak suasana mulai sunyi dengan saling menatap mengernyitkan dahi.
__ADS_1
“Ada apa sebenarnya?” seru Jakson memecah ke heningan yang langsung tau bahwa Jim menyembunyikan sesuatu sedari tadi.
“Hmm.. Biar ku jelaskan! Kau tau kan aku berbohong pada mereka!"
"Hmm.. jadi!" angguk Jakson.
"Sebenarnya perutmu sakit bukan karena banyak makan atau salah makan, tapi karena lektin?” tutur Jim.
“Lektin?”
“Begini, lektin adalah racun, dan tentu saja itu menyebabkan sakit perut, muntah-muntah dan juga diare! Kau mengalami gejala ini kan?”
“I iya, aku mengalaminya, dan sekarang perutku serasa kosong!”
“Jadi.. Dari mana kau mendapatkan lektin ini?” tanya Jim, sengaja ia menyembunyikan hal ini dari Sam dan yang lainnya karena ingin mencari tau kebenaran, kebenaran bahwa seseorang yang melakukannya dengan sengaja.
“A aku juga tidak tau!”
“Ta tapi.. Terakhir kali aku meminum jus di kamar Megan!” ingat Jakson pasti, terakhir kali ia hanya minum jus yang di berikan Nadia pada Megan semalam.
“Jus? Di kamar Megan? Apa yang kau lakukan di sana?” ujar Jim yang kembali bertanya, merasa curiga dengan Jakson sekarang, ada hubungan apa dengannya dan Megan.
To
Be
__ADS_1
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.