
Jasmine mengendap-endap memasuki rumah besar keluarganya. Sekarang ini malam sudah larut, ia ke asikan mengobrol bersama anak muda di rumah Jakson sampai lupa waktu. Takut dirinya ketahuan karena pulang larut begini, Jasmine berusaha tak bersuara. Tampak rumah besar ini mulai sunyi walau lampu masih terang benderang di mana-mana.
Mengendap-endap ia ingin menuju ke kamarnya “Moga-moga dia sudah tidur!” tuturnya mengamati ruangan takut dirinya bertemu sang suami, Jonatan.
Tapi keberuntungan tak berpihak padanya “Siapa yang kau maksud sudah tidur!” seru Jonatan di balik sofa, mengejutkan Jasmine dari langkahnya.
Jasmine yang sedari tadi berdebar sekarang makin berdebar hebat lantaran sudah ketahuan. Jonatan mendekat mengirim tatapan tajam pada istrinya yang sudah seperti pencuri di rumah sendiri.
“Dari mana kamu?” tanyanya dengan ekspresi dingin.
“I itu.. A aku dari soping!” balas Jasmine gugup yang perlahan memperlihatkan barang belanjaan di tangannya.
“Moga saja dia tidak curiga!” batin Jasmine harap cemas.
Barang yang di perlihatkan sekarang tak lain adalah belanjaan Julia, untung saja sebelumnya Julia meneleponnya agar mengambil barang belanjaan di salah satu toko.
“Hmm.. Kau tidak menyembunyikan sesuatu dari ku kan?” tanya Jonatan lagi yang memastikan.
“Ti tidak ada.. Aku mana berani!” tutur Jasmine yang perlahan berlalu dari sana walau mata Jonatan terus saja melihat ke mana ia pergi.
“Tunggu!” seru Jonatan menghentikan, jelas terlihat bahwa Jasmine makin terkejut akan seruhan itu.
“Apa lagi!” jelas Jasmine berbalik menatap suaminya.
“Kau benar belanja kan!” tanyanya sekali lagi, dan emosi Jasmine sudah sampai pada titiknya.
Jasmine tersenyum lebar menatap dalam pada suaminya itu “Kau sudah lihat aku membawa banyak belanjaan, apa kau masih ingin memeriksanya juga! Aku sudah sangat lelah dan sekarang kau bertanya hal sepele seperti ini! Bikin emosi saja!” sembur Jasmine dengan tegas, kemudian berlalu dari sana dengan kesal, meninggalkan suaminya yang tertegun diam menatapnya.
“Wanita api itu selalu saja membara!” gerutu Jonatan kesal.
__ADS_1
Tinggg ...
Ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk di sana.
“Pak, nyonya baru saja mengunjungi kediaman tuan muda Jakson!” isi pesan yang masuk dari ponselnya yang di kirim oleh mata-mata kepercayaannya untuk menjaga Jakson.
“Ternyata benar dugaan ku! Jasmine sama sekali tidak pernah memberitahu ku kalau dia menemui Jakson!”
"Aku harus marah atau bagaimana? Walau bagaimana pun dia ibu dari anak nakal itu!” ujar Jonatan berdecak kesal kemudian kembali ke ruang kerjanya.
Selama ini, ia tau kalau istri tercintanya selalu bertemu Jakson. Tapi tetap saja ia pura-pura tidak tau, pura-pura tidak bertanya dan curiga akan tindakan istrinya. Sudah lebih dari lima tahun, dan selama itu pula ia menyuruh beberapa orang untuk mengikuti Jakson diam-diam.
Jonatan mengakui kesuksesan putranya itu. Walau jalan yang pilih Jakson bertentangan dengan apa yang sudah ia rencanakan, tapi tatap saja ia merasa bangga, dan menurutnya ketenaran Jakson sekarang hanyalah sementara.
Ia menunggu saat dimana Jakson jatuh dari sana, jatuh dari impiannya yang sudah di atas puncak. Sehingga dengan muda ia akan meraih tangan Jakson kembali dan memaksanya masuk ke jalan yang sudah ia tentukan. Tentu saja tidak ada tempat kembali selain rumah, pikir Jonatan.
“Anak tengik itu, sekarang lebih populer dari ku!” gumamnya tersenyum kecut menatap sebingkai foto yang tak lain foto ke tiga anaknya.
Ketukan pintu mengagetkannya, sontak Jonatan masukkan foto itu ke dalam laci. Dia ambang pintu mendekat Jasmine dengan membawa segelas teh hangat.
“Apa kau masih bekerja di hari libur!” seru Jasmine meletakkan gelas itu di depan Jonatan.
“Hari libur pun aku tidak punya waktu untuk bersantai, tidak sepertimu yang punya banyak waktu berkeluyuran di luar sana!”
“Hmm.. Suami ku ini sungguh lucu, ingin sekali aku mencincang mu! Tapi aku tak berani!” jelas Jasmine tersenyum sinis memberikan cubitan kasar di pipi Jonatan.
“Aakk.. Sakit! Tangan mu sungguh kasar!” ringis Jonatan membalas sinis tatapan istrinya ini.
“Katakan ada apa?” sambungnya bertanya, ia tau sikap istrinya sekarang tak lain karena menginginkan sesuatu, pastinya.
__ADS_1
“Ini lah yang ku suka dari mu suamiku, kau sangat peka!” seringai Jasmine yang duduk tepat di depan suaminya ini.
“Bukan aku yang terlalu peka, tapi kau yang bersikap baik setiap kali membutuhkan sesuatu, siapa pun akan tau soal itu.. Jadi..”
“Begini.. kan sebentar lagi Jakson ulang tahun! Aku ingin..” jelas Jasmine mulai gugup mengutarakan keinginannya.
“Tidak bisa!” tolak Jonatan seketika, seolah tau ke ingin nan istrinya ini.
“Tapi aku belum selesai bicara!”
“Tidak perlu bicara lagi, aku sudah tau kau mau apa, dan aku tak mengijinkan!” tegas Jonatan.
“Tapi..”
“Tidak ada tapi!” tutur Jonatan yang mulai tak ingin mendengar perkataan Jasmine lagi.
“Tapi aku hanya ingin pergi ke rumah ibu!” tegas Jasmine dengan nada tinggi yang membuat Jonatan terkejut.
Jelaslah Jonatan mengira bahwa Jasmine ingin bertemu Jakson tapi yang di dengarnya barusan malah sebaliknya, tidak sesuai dengan tebakannya.
“Ke rumah ibu? Untuk apa!” tanya Jonatan heran.
“Makanya dengar dulu jika seseorang berbicara!” tegas Jasmine seraya menarik nafas dalam-dalam, berusaha agar tak terlalu emosi.
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.