Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 15


__ADS_3

Megan berdiam diri di dalam kamar saat setelah ia bangun dari tidur lelapnya atas suruhan Jim untuk beristirahat penuh. Dirinya juga mulai bosan jika hanya berdiam diri.


“Dia menyuruhku tidur!! tiga bulan aku tidur apa itu tidak lama baginya!” gerutunya.


“Apa di rumah besar ini hanya ada pria saja!” gumamnya lagi kian mengingat Jim dan Jakson yang bergulat hebat sebelumnya.


“Aku bahkan belum tau nama mereka! mereka orang baik atau bukan? aku pasti sudah banyak merepotkannya!” jelasnya lagi.


“Tapi, tampaknya lelaki itu tukang marah!” duganya yang kian mengingat sosok Jakson yang memberi perintah pada Jim untuk membersihkan dapur yang berantakan karena ulahnya.


“Bagaimana aku harus membalas budi, tidak mungkin kan aku di sini terus! sekarang saja aku tak punya apa-apa, aku harus berbicara dengannya dulu!” lanjutnya kian meratapi nasibnya yang sama sekali tak memiliki pekerjaan dan rumah sekarang ini.


Jikalau ia mengingat teman, pasti yang terpikir di benaknya adalah Karin sahabatnya. Tapi sekarang sudah tak mungkin baginya untuk mencari Karin yang jelas sudah menghianatinya. Tempat bergantung sekarang adalah pemilik rumah ini, pikirnya. Dengan desahan lemah Megan kian mendekat mengamati pekarangan rumah dari balik jendela seraya menikmati beberapa buah.


*


*


Tak.. Tak.. Tak..


Jam bergema di ruangan kamar pribadi Jakson yang menunjukkan pukul 09:36 malam, dirinya kerap mengamati situasi di luar ruangan melalui cctv yang baru saja di pasangnya. Melalui monitor komputernya ia menatap lekat layar itu, tampak suasana sunyi di setiap sudut rumah begitu juga di halaman depan.

__ADS_1


Krekk..


Brukkk..


“Aduh, kenapa malah jatuh!” ujar Megan yang baru saja keluar dari kamarnya sambil memunguti beberapa buah yang jatuh dari dekapannya.


Jakson mulai memerhatikan tiap gerak gerik Megan di monitor itu. Dengan mengendap endap, takut suara gaduh yang di timbulkannya akan mengganggu Jakson, Megan menuju dapur kemudian mendekat pada kulkas besar.


Ia mulai memasukkan kembali buah-buah itu. Tak butuh waktu lama, Megan beranjak dari sana menghampiri lemari berisikan camilan di sudut ruangan. Tanpa malu-malu, ia menatap sekelilingnya kemudian mengambil bungkus perbungkus makanan di sana. Merasa tangannya sudah penuh, ia beranjak dari sana menuju ruang tamu, di sana ia menyalakan tv dan sesekali menikmati makanannya.


“Hm.. kenapa dia belum tidur, ini sudah larut, dan lagi dia bersikap seolah rumah ini miliknya, apa tidak khawatir sama sekali dengan pembunuh yang mengincarnya itu!” ujar Jakson berpikir terlalu jauh dengan desahan lemah menatap Megan di sana.


Megan terbatuk sepanjang jalan, saat sampai di meja, tak hati-hati kakinya kerap tak sengaja menendang kaki meja yang membuatnya meringis sejenak.


“Haha.. Gadis ceroboh!” ujar Jakson yang masih setia mengamati Megan di monitor dengan tawa kecilnya menganggap itu lucu.


“Aaahh, syukurlah leherku tak apa sekarang!” jelas Megan merasa lega seraya mengatur nafas dalam-dalam kemudian beranjak dari sana.


“Apa dia sudah tidur! Aku ingin berbicara dengannya, rumah besar begini seperti kuburan saja! Apa iya dia betah tinggal di sini?” ucap Megan yang menghentikan langkahnya seraya menatap pintu kamar Jakson yang tertutup rapat.


“Besok saja, aku akan menanyakan namanya, sekalian aku ingin berbalas budi!” lanjutnya seraya kembali pada sofa di depan tv melanjutkan tontonannya.

__ADS_1


“Memangnya bagaimana kau akan membalas budi!” gumam Jakson.


Beberapa menit kemudian Megan terlelap di sofa dengan keadaan tv masih menyala. Jakson yang tak bisa tidur sama sekali mendesah kesal menatap Megan di sana.


“Apa dia tidak bisa kembali ke kamarnya!” gumamnya seraya beranjak menghampiri Megan dengan membawa selimut.


Ia tak tega melihat Megan tidur di ruang tamu, sempat terpikir ia akan menggendongnya kembali ke kamar tapi di urungkan mengingat phobianya yang menjadi alasan dirinya tak ingin dekat dengan Megan. Setelah menyelimuti tubuh Megan, ia juga kerap membersihkan kantong camilan yang berserakan di sana.


“De.. Van..” gumam Megan dalam tidurnya yang membuat Jakson terkejut.


“Apa kau masih mencintainya, pacarmu itu sudah menelantarkanmu!” jelasnya kerap kesal dengan desahan kasar di akhir kata.


“Dengan siapa aku bicara sekarang haaa! aku berbaik hati mengendongmu kembali ke kamarmu, berterima kasilah!” sambungnya seraya melilit tubuh Megan dengan selimut kemudian membawanya kembali ke kamar.


To


Be


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.

__ADS_1


__ADS_2