
Klak..
Lampu padam, di kamar, Megan masih setia mengamati jendela yang sedari tadi berbunyi dan mengganggunya. Megan menghampirinya, ingin ia tutup jendela itu, dan tiba-tiba seseorang muncul dari sana. Megan terkejut, sosok itu kian mendekat.
Ingin Megan lari tapi sosok itu sudah menangkapnya, di mulai dari menutup bibir Megan dengan sebuah sapu tangan, sekuat tenaga Megan melawan hingga berhasil lolos, tapi sosok itu menghalangi pintu.
“Tolong..” teriak Megan sekuat tenaga.
Sosok itu kian membius Megan, dan sekali lagi Megan melawan, tapi tak sengaja kuku orang itu mengiris leher Megan dengan ganas.
Buk..
Sosok itu memukul leher Megan, membuat Megan pingsan tak sadarkan diri.
“Tidak..” teriak Megan panik yang langsung saja duduk dari baringnya.
Jakson terkejut, ia terbangun dari lelapnya “Ada apa, kau baik-baik saja!” tanya Jakson di tepi bidang empuk itu.
“Jakson.. A apa yang kau lakukan di sini!” tanya Megan yang kerap mengamati ruangan, yang tak lain adalah kamarnya sendiri.
“Aku menemanimu!”
“Bagaimana, apa ada yang sakit?” tanya Jakson.
“Aku, semalam.. Seseorang ada di sini dan.. Dan aku..” ujarnya, kerap mengingat-ingat tentang kejadian semalam.
“Sudah, jangan di ingat lagi, aku ada di sini, kau akan baik-baik saja!” serunya menenangkan Megan yang masih panik dan larut akan kejadian yang menimpanya semalam.
__ADS_1
“Aku.. Tapi di mana Davin?” tanyanya, sempat terdengar suara Davin memanggilnya. Dan lagi Davin adalah seorang polisi, sudah pasti akan melindunginya bukan.
“Davin.. dia, dari semalam belum pulang!” jelas Jakson memberi tahu.
“Dia belum pulang, memangnya pergi ke mana dia?” tanyanya Megan lagi.
“Dia pergi menjalankan tugasnya! Kenapa? Apa kau mengkhawatirkannya sekarang!” jelas Jakson yang kerap kesal menjawab semua pertanyaan Megan mengenai Davin.
Jelas dia yang menemani Megan semalaman dan Megan malah mencari sosok Davin.
“Lalu, me mengapa kamu di sini? Bu bukankah kamu masih ada jadwal hari ini!” tanya Megan yang kian gugup, perkataan Jakson tadi terdengar bahwa Jakson mulai kesal akan pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan.
“Hhh.. Akhirnya kau bertanya tentang pekerjaan ku! Apa kau tidak tau, aku semalaman menemani mu di sini, aku lelah!” gerutunya.
“A aku tidak meminta mu menemaiku kan!” seru Megan malu-malu yang kerap merasa bersalah karena merepotkannya.
“A aku berterima kasih, dan maaf telah merepotkanmu!” ujar Megan.
“Sudah, aku akan bersiap untuk jadwalku! Kau juga harus bersiap, aku tidak biasa meninggalkanmu sendiri di rumah karena Davin tidak di sini, jadi mengertilah, walau kau sedang tak enak badan ini yang terbaik untukmu, aku jamin akan menjagamu!” jelas Jakson.
“Ba baiklah!” balas Megan, ia tau ini demi keselamatannya. Demi tak merepotkan yang lain Megan ikut perintah Jakson, setidaknya itu yang terbaik daripada tinggal sendiri di rumah.
Matahari sudah naik menyapa bumi. Kemarin malam karena kejadian ini, Davin meneleponnya subuh tadi, berpesan agar Jakson menjaga Megan karena ia sudah menangkap pelaku semalam.
Mau tak mau, Jakson ikut andil dalam menjaga Megan. Bukan hanya Megan, tapi untuk dirinya dan temannya juga. Semalam Jim bersama Sam menjaga Nadia di kamarnya saat lampu belum menyala.
Di depan cermin, Jakson berdandan, ia memakai sweter sepasang dengan kaosnya, lengkap dengan kacamata dan topi, dan yang paling penting sebagai pelengkap dari tampilannya ialah parfum lavender paforitnya.
__ADS_1
Tok.. tok..
Terdengar ketukan pintu, di sana sosok Megan tengah berdiri “A apa kamu sudah siap!” tanya Megan.
“Hmm.. Se sebentar!” balas Jakson, menatap sekali lagi wajahnya di depan cermin kemudian membuka pintu.
“Ayo!” sambungnya saat keluar, menuntun Megan bersamanya.
Di sisi Jakson, Megan mencium bau lavender darinya. Terlintas lagi bayangan Devan, saat di mana Devan menghadiahkan parfum berbau lavender di hari jadiannya yang ke dua.
“Apa yang kau pikirkan!” tanya Jakson mengagetkan Megan dari lamunannya.
“Ti tidak ada! Ayo, Sam dan Nadia pasti sudah menunggu!” jelasnya yang sekarang menuntun Jakson.
“Aihh.. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu!” gumam Jakson.
Ia dan Megan serasa sudah akrab, padahal diantara mereka harusnya tak ada hubungan apa-apa atau ketergantungan. Entah sejak kapan, kehadiran Megan sudah menjadi suasana baru bagi Jakson sendiri, kadang ia suka menggoda Megan, kadang pula ia peduli dan cemburu jika Megan bersama orang lain.
Seperti sekarang ini, alasan ia tak ingin Megan di rumah tak lain karena Jim ada di sini. Bayangan Jim yang selalu menggoda wanita menjadi ketakutan terbesarnya, mengingat Jim pandai memikat hati para wanita.
To
Be
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
__ADS_1