
“Jadi sekarang ceritakan tentang dirimu?” ujar Jessy yang siap mendengar cerita Megan sekarang ini.
“A aku?” Megan terbatah, ia ragu menceritakan tiga bulan terakhirnya di rumah Jakson.
“Begini.. Mungkin kau tak akan percaya pada apa yang akan ku katakan jadi tidak perlu!”
“Bagaimana kau tau aku percaya atau tidak jika kamu tak menyatakannya dengan jelas!” sanggah Jessy yang mulai tak sabar mendengar kabar dari Megan selama ini.
“Atau kau tak ingin bercerita mengenai Devan dan Karin?” duga Jessy.
“Aaa.. I iya!” seru Megan, padahal ia tak terpikirkan oleh dua orang itu, hanya Jakson yang memenuhinya sekarang dan hampir saja ia menceritakan tentang kehidupannya di kediaman Jakson selama ini, tentu saja jika Megan mengatakan semua itu, Jessy pasti tak akan percaya jadi lebih baik jika ia tetap diam.
“Waahh.. Mereka berdua memang pasangan serasi, pasangan tidak tau malu!” ejek Jessy, begini lah sifat Jessy, ia cekatan dan mengatakan semua yang ada dalam hatinya, ia ceria dan cerewet tapi sangat berani dan dewasa.
“Kau jangan menemuinya lagi, lupakan semua yang pernah ia berikan, yang pernah ia katakan padamu dan juga janji palsunya! Masih banyak lelaki tampan dan kaya di luar sana, jadi jangan menangis dan bersedih hanya karena lelaki tak tau diri seperti dia! Dan juga, ingat jangan bertemu dengan Karin lagi, dia bukan sahabatmu, ada aku bersamamu!” bela Jessy.
Mendengar kata itu dari mulut Jessy membuatnya tersenyum, ia tak menyangka masih bisa bertemu dengan satu-satunya teman yang selalu membuatnya merasa di hargai dan di butuhkan. Sempat terpikir bahwa Megan tak punya teman lagi selain Karin tapi lihat yang di berikan takdir padanya, sekarang ia di pertemukan kembali dengan dua orang temannya dalam waktu singkat yang tak terduga.
Yang satu teman SMA sekaligus seseorang yang pernah mencintainya dan satu lagi adalah teman kuliah yang selalu membantunya saat kesulitan, walau hanya kebetulan saat mereka selalu bertemu.
Megan mendesah kasar, bukan saatnya mengatak semua itu pada Jessy, terlebih lagi Jessy juga termasuk fans fanatik dari Jakson. Mau tak mau ia harus menyembunyikan ini dulu.
“Sekali lagi aku ingatkan, kau jangan berani-berani bertemu Devan dan Karin lagi!” jelas Jessy sekali lagi, sungguh ketakutan terbesarnya adalah melihat Megan kembali terburuk seperti terakhir kali bertemu.
“I iya aku janji tidak akan menemui mereka, kecuali kebetulan!” jelas Megan meyakinkan temannya ini.
__ADS_1
Kring ...
Suara lonceng terdengar dari arah pintu, menandakan seseorang tengah membuka dan memasuki pintu itu.
“Selamat datang pak, ada yang bisa saya bantu!” ujar seorang pelayan kafe menyambut kedatangan seorang lelaki gagah saat memasuki kafe.
“Tolong bungkuskan dua es krim rasa vanila spesial!” jelas lelaki itu.
Sontak, mendengar samar suara lelaki itu, Megan dan Jessy menatap tajam padanya, bagai suara yang tak asing di telinganya.
“Devan!” tutur Davin dengan polosnya seraya mengunyah es krim yang sedari tadi ia nikmati.
“Sttt..” dengan sigap Jessy menutup mulut Davin kemudian mengajak Megan tertunduk bersamanya.
“Jessy, kita tidak perlu seperti ini kan?” tanya Megan agak canggung.
Dan saat tatapan Devan tengah sibuk melihat-lihat suasana kafe, sesigap mungkin Jessy kembali tertunduk seraya membuat Megan dan Davin juga ikut tertunduk.
“Merunduk!” pinta Jessy.
Tentu saja tatapan Devan terhenti dan fokus pada tiga orang yang tengah tertunduk diam di sana. Walau sedikit aneh ia hanya mengabaikannya. Tak sampai berapa menit, pesanannya sudah siap. Setelah membayar, Devan segera pergi dari sana. Ia juga tak curiga, tak juga merasa aneh akan tiga sosok di meja sudut itu.
“Huff.. Dia sudah pergi!” seru Davin sedikit lega, entah mengapa ia juga harus ikut melakukan perintah Jessy ini.
Kringg ... Kringg ...
__ADS_1
Ponsel Megan berdering, ia terkejut kemudian merogoh tas selempang yang ia letakkan di sisi kursi.
Jakson caling, Megan makin terkejut, sudah seminggu ia berusaha menghubungi Jakson tapi tak ada tanggapan, dan sekarang Jakson sendiri yang menghubunginya. Megan masih terdiam, ia ragu mengangkat telepon karena perkataan Nadia kembali terbayang di depannya.
“Apakah aku hanya merepotkan mereka!” gumam Megan.
“Apa sih yang kau bicarakan, kenapa tidak mengangkat teleponnya?” ujar Jessy, ia termenung melihat Megan yang tampak ragu.
“Tidak apa, ini hanya nomor salah sambung!” ujar Megan kemudian mematikan ponselnya.
Megan mendesah kasar, dengan tak rela ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
“Ada apa? Kenapa kau terlihat sedih! Ada yang mengganggu mu?” tanya Jessy yang peka akan raut wajah Megan.
Megan tersenyum kecut berusaha menyembunyikan masalahnya, “Tidak, aku baik-baik saja!” tuturnya.
“Kita ke mana setelah ini, aku masih ingin menghabiskan waktu dengan mu!” tanya Megan lagi yang berusaha mencari topik pembicaraan.
“Terserah saja!” jelas Jessy.
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.