
“Ayo kak.. kita sudah terlambat, kita akan ketinggalan konsernya!” tuturnya kemudian memaksa Devan agar segera melanjutkan langkahnya ke ruang konser.
“A apa benar aku hanya berhalusinasi?” gumamnya yang masih tak percaya, dengan pasrah mengikuti Devina yang menyeretnya untuk ikut.
Segera Devan bergegas dari sana, meyakinkan diri bahwa ia salah lihat walau masih ragu dan ingin memastikannya.
Megan memasuki sisi panggung, di sana ternyata para kru sangat sibuk, mereka mondar-mandir ke sana sini. Para kru kian sibuk mempersiapkan segala keperluan dan kostum untuk penampilan Jakson selanjutnya.
Megan merasa canggung lantaran tatapan mereka tengah mengintimidasi, hati-hati ia melangkah] seraya mencari posisi yang tepat untuk mengambil foto.
Di samping itu, Devan dan Devina juga telah menduduki kursi mereka. Tampak lega Devina duduk di sana kemudian berteriak sejadinya saat melihat Jakson di atas panggung.
“Jakson oppa..” teriaknya memberi dukungan.
“O oppa?” gumam Devan yang menatap heran adiknya sekarang ini, karena ucapan barusan serasa menggelikan baginya.
Riuh di penjuru ruangan, meraung nama yang sama, Jakson. Malam kian larut, dan mereka masih setia memberi semangat dan juga dukungan pada sosok yang tengah berbahagia di atas panggung.
Megan juga mulai mengambil potret yang sesuai, walau ia masih kaku menggunakan kamera itu. Kamera yang entah siapa pemiliknya ini, ia hanya menjalankan tugas, tugas dari Jasmine untuk mengambil foto kenang-kenangan.
Keringat kian membulat di sela rambutnya, pertanda bahwa ia mulai lelah mengambil foto yang entah sudah berapa banyak, padahal belum lama ia berdiri dan mengambil foto. Sedari tadi, Jakson sadar akan kehadiran Megan di sana. Di sisi panggung yang tengah mengambil fotonya.
Sesekali Jakson mengirim senyum untuk Megan, dan senyum ia sukses membuat mata tertuju pada Megan, walau hanya beberapa orang yang sadar akan hal itu. Megan hanya bersikap biasa, bersikap normal dengan membalas senyum Jakson.
__ADS_1
Tapi bukannya sekali atau dua kali senyum itu terkirim, dan Jakson serasa fokus pada Megan di sana. Dan foto yang di ambil Megan juga sangat bagus dengan senyum Jakson yang menawan karena menatapnya.
“Apa dia sengaja tersenyum padaku? Tapi mengapa? Menatap dia selalu saja mengirim senyumnya? Aku merasa orang-orang di belakang ku juga mengirim aura pembunuh?” gumam Megan yang mulai resa akan tatapan Jakson yang sedari tadi mengganggunya, ingin ia tak merespons tapi tak berani jika nantinya Jakson berpikir bahwa ia tak senang.
“Apa Jakson sedang tersenyum ke arah kita?” ujar salah satu penggemar yang duduk berkejaran di belakang Megan.
“Mungkin? Jakky.. Kami membawa hadiah untukmu..” balas salah satu temannya kemudian kembali menyemangati Jakson.
“Huff.. Mereka tidak sadar, seandainya yang di tatap Jakson memang kalian, aku tidak akan gelisah seperti ini!” batin Megan yang mulai gugup.
Sementara itu, Mata Devina terus saja melirik dan memperhatikan wanita di sisi panggung, ia sadar bahwa Jakson terus saja mengirim senyum pada fotografer itu. Pikirnya Jakson sengaja tapi ia mulai curiga, lantaran sosok yang tengah serius mengambil foto di sana seperti orang yang ia kenal.
“Mengapa Jakson terus saja melihat wanita itu?” gumamnya menatap heran.
“Tidak ada!” tegasnya yang tak suka mengobrol dengan Karin.
“Anak ini..” decak Karin dalam hati.
Karin menyunggingkan bibir tanda kekesalannya kemudian tersenyum kecut lantaran tatapan Devan tengah melihatnya.
“Apa kau merasa tidak nyaman di sini?” tanya Devan.
“A aku nyaman, bisa menonton konser seperti ini jarang sekali terjadi dalam hidupku!” tutur Karin lemah lembut.
__ADS_1
“Baiklah.. Nanti aku juga akan memperkenalkan Jakson padamu!”
“Cih.. Pasutri ini sangat membosankan!” gumam Devina yang tak suka jikalau Devan perhatian dengan Karin.
“Ta tapi.. Sepertinya wanita itu tidak asing?” sambungnya, menatap kembali Megan di sana kemudian beralih fokus menatap Jakson di atas panggung yang dengan lembutnya membawakan sebuah lagu bersama permainan pianonya.
“Pangeran tampanku..” ujar Devina terkagum.
Sekali lagi Jakson tersenyum ke arah Megan yang tepat di depan pandangannya.
“Di dia menatapku lagi.. A apa lebih baik aku pergi dari sini saja? Lagian sudah banyak foto yang ku ambil!” jelas Megan dengan membalas tatapan Jakson kemudian segera beranjak dari tempatnya.
Karin mendapati tatapan Jakson, ia melihat ke mana arah pandang Jakson tertuju dan terkejut lantaran gadis yang sedang beranjak dari sisi panggung tak lain adalah Megan.
“Me Megan!” ujarnya tak percaya, sedari tadi ia sudah mencari Megan kemana-mana, takut jikalau Devan melihatnya.
To
Be
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
__ADS_1