Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 20


__ADS_3

“Panggilan apa yang kau maksud?” tanya Megan heran.


“Ee.. Aku meneleponmu barusan!”


“Menelpon? Tapi sekarang aku tak punya ponsel!”


“Hei-hei jangan bercanda begitu! Jelas aku juga menghubungi mu beberapa hari lalu!”


Penjelasan Davin membuat Megan terdiam heran, sudah jelas dirinya sekarang tak punya ponsel, kiranya Davin salah nomor.


Krek..


Di depan kamarnya Jakson berdiri menatap heran akan sosok Megan dan Davin yang tampak berbincang heran di ambang pintu tepatnya di samping kamar Jakson. Dalam diamnya ia menghampiri mereka dengan maksud akan memberikan ponsel Megan yang beberapa hari ini ia lupa mengembalikannya.


“Apa yang kalian lakukan!” tanyanya langsung.


“Tidak ada!” ujar Megan.


“Tidak ada apanya? Ini.. Aku lupa mengembalikan ponsel mu, tadi seseorang menelpon.. mengganggu saja!” ujar Jakson seraya menyodorkan ponsel Megan kemudian tepat setelah Megan meraih ponsel itu ia menuju ke dapur.


“Jadi selama ini ponselku ada padamu?” tegas Megan.


“Pantas saja kau tak mengangkat panggilan barusan!” ujar Davin seraya menatap Megan yang mulai sibuk mengutak atik isi ponselnya berharap file penting masih tersimpan.


“Sudahlah! Aku ingin keluar.. Kau mau ikut!” ajak Davin dengan senyum tipis.


“Boleh saja, tapi kita mau ke mana?” tanyanya.


“Belanja! Aku masih membutuhkan beberapa barang!”


“Aku tidak punya uang!” teganya dengan desahan lemah di akhir kata.

__ADS_1


“Tenang saja, aku yang traktir, apa kau lupa.. Temanmu ini banyak duit!” ujarnya lagi seraya menarik tangan Megan.


“Ya ya.. Aku ingat kau selalu berkata begitu saat SMA!” balasnya.


“Mau ke mana mereka?” ujar Jakson heran menatap mereka saat dirinya tengah menikmati soda yang ia ambil dari kulkas.


“Kalian mau ke mana?” tanyanya yang menghentikan langkah Megan dan Davin di depan pintu.


“Mau belanja! Kau mau ikut?” tanya Davin.


Tampak Jakson terdiam sejenak, ia menimbang-nimbang pikirannya antara ikut dan tidak. Ia harus berpikir dua kali sebelum bertindak, mengingat dirinya yang terkenal pastilah banyak di gandrungi penggemar di mana pun ia memijakkan kaki.


“Belanja ya.. Di dapur cemilanku sudah menipis, aku ikut sajalah!” gumamnya mengambil keputusan.


“Tunggu sebentar aku siap-siap dulu!” serunya seraya kembali ke kamar memulai aksinya merias diri.


Seperti biasa, penampilannya hanya dalam bentuk penyamaran agar wajahnya tak terekspos. Dengan buru-buru Jakson menyambar topi dan masker yang menggelantung di dinding kemudian meraih sweter rajut kesayangannya serasi dengan celana jeans berwarna biru navy.


Tak lupa ia menyemburkan parfum paforite sebagai pelengkap. Setelah merasa siap ia baru sadar akan keberadaan dompetnya. Di dapatnya dompet di salah satu laci kemudian dengan sigap ia berlari menghampiri dua sosok yang menunggunya.


Klakson berbunyi di halaman, menandakan keberadaan Megan Dan Davin yang menunggunya di sana.


“Aku datang!” ujarnya dengan nafas terengah-engah kemudian dengan sigap ia memasuki mobil dan duduk di bangku penumpang.


Merasa sudah siap, Davin melajukan mobil menuju tujuan. Tak selang waktu lama, mereka tiba di salah satu pusat perbelanjaan yang padat akan pembeli. Jakson tercengang menatap keramaian itu.


“Kita belanja di sini!” ujarnya heran seolah tak percaya.


“Ya memang di sini, memanahnya mau di mana lagi.. Ini tempat terlengkap loh!” ujar Davin menjelaskan.


“Hei.. aku orang terkenal, kalau tempatnya padat begini mereka akan tahu siapa aku!” jelasnya membela diri.

__ADS_1


“Apa kau bercanda, pasar seperti ini memang selalu ramai, kalau mau kau tunggu di sini saja!” ujar Megan memberi solusi dengan agak kesal yang masih tak percaya bahwa Jakson orang terkenal.


“Di sini, itu lebih parah! Kalau seseorang lewat dan mengenali aku bagaimana? Lihat.. posterku saja ada di mana-mana!” lanjutnya menolak dengan tegas, tak ingin dirinya di tinggal sendiri di mobil.


Megan menatap sekeliling toko, dan benar saja poster wajah Jakson juga ada di sana.


“Wah, ternyata benar kau terkenal kupikir itu kebohonganmu saja!” ujar Megan tak percaya.


“Itu karena kau saja yang tak pernah menonton tv” tegas Jakson.


“Sudah, jadi bagaimana? jadi tidak beli di sini!” seru Davin bertanya.


“Ya” ujar Megan.


“Tidak” ujar Jakson.


“yaaaaa!”


“Tidakkkkk!”


“Kalian ini, sudahlah! tunggu di sini saja biar aku yang belanja sendiri!” ujar Davin mengalah memberi solusi pada dua orang ini yang serasa anak kecil.


“Tapi, aku ingin membantu mu!” seru Megan.


“Kalau aku di mobil, sama sajakan kalau aku tinggal di rumah.. tak ikut bersama mu juga!” seru Jakson pula yang kian kesal.


“Jadi kalian ini maunya bagaimana?” tanya Davin lagi dengan desahan pasrah.


To


Be

__ADS_1


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2