
“Sial.. Mengapa dia kembali lagi!” decak Karin kesal melihat Megan di sisi panggung itu lagi.
Dan benar saja, hal yang di takutkannya malah terjadi. Devan terkejut lantaran melihat Megan di sana. Sedari tadi tatapan Devan terus tertuju pada Jakson, tapi saat Jakson menghampiri sisi panggung, ia melihat Megan di sana. Bukan salah lihat lagi, Davin meyakinkan diri bahwa benar yang ada di sana tak lain adalah Megan.
“I itu benar Megan..” tuturnya yang langsung saja berdiri dari duduknya, bermaksud beranjak dari sana dan ingin menghampiri Megan.
“Devan!” Karin dengan sigap meraih tangan Devan, menahannya agar tak pergi.
Devan terdiam, ia menatap dalam sosok Karin kemudian menatap Megan yang jauh di sana. Devan sedang menimbang keputusannya antara mengikuti kata hati atau istrinya.
“Apa kau ingin pergi ke sana!” tanya Karin kesal.
“A aku..” balasnya ragu kemudian kembali duduk di tempatnya lantaran Megan juga sudah naik ke atas panggung bersama Jakson.
“Apa kau masih ingin menemuinya!” tanya Karin lagi, padahal sebenarnya ia sudah tau jawaban dari pertanyaan itu.
__ADS_1
“A aku hanya ingin menyapanya!” jelas Devan tampak sendu.
Memang benar bahwa ia ingin melihat Megan, berbincang lepas dan kembali seperti dulu. Tapi itu semua hannyalah pikiran singkat yang tentu tak akan terwujud. Status dan tanggung jawabnya sekarang sudah berbeda, bahkan ia ragu untuk memperlihatkan dirinya di hadapan Megan sekarang ini.
Devina juga terkejut lantaran sosok yang sudah lama di carinya, sekarang ada di depan mata bersama idolanya. Ia tampak cemburu melihat Jakson dan Megan di sana. Siapa pun pasti ingin berfoto bersama Jakson dengan sangat dekat bukan.
Sesekali Devina melirik Devan, ingin ia tau bagaimana reaksi kakaknya itu melihat sang mantan kekasih bersama kenalannya. Tapi sepertinya ekspresi Devan tidak sesuai harapan Devina, pikirnya Devan akan cemburu atau kesal tapi ia tampak netral tanpa ekspresi.
“Bukankah kakak masih mencintai Kak Megan? Mengapa dia sama sekali tak me.. Hmmm.. Aku salah, ternyata dia sangat cemburu!” tutur Devina mengamati Devan dengan teliti, ia yakin bahwa Devan sekarang tengah menahan emosinya, terlihat dari kepalan tangannya yang begitu erat dan sorot matanya yang membara.
“Apa kakak baik-baik saja?” seru Devina dengan seringai, bermaksud menggoda Devan.
“Tidak, aku hanya khawatir kakak tidak baik-baik saja, secara.. kak Megan ada..” ujar Devina.
“Devina..” bentak Karin dengan sigap.
__ADS_1
Padahal, berusaha Karin menenangkan Devan agar emosinya tak meluap lantaran melihat Megan di atas panggung dengan Jakson. Walau Karin tau bahwa Devan tengah menahan rasa yang bergejolak di hatinya tapi Devina malah menambahkan garam di sana yang membuatnya kesal sejadi-jadinya.
Devina terdiam, tak menggubris bentakan itu yang mengundang sorotan mata. Ia berusaha bersikap netral seolah tak terjadi apa-apa, kemudian mengamati Jakson dan Megan yang masih berfoto di sana.
Memang benar bahwa Devan tengah cemburu, cemburu melihat kedekatan Jakson dan Megan di sana, yang seolah memperlihatkan bahwa Megan baik-baik saja tanpanya. Hubungan di antara ia dan Megan sudah lama berakhir, dan bukan lagi haknya untuk cemburu seperti sekarang ini, terlebih lagi sudah ada Karin di sisinya.
Di atas panggung pula, Jakson mengambil ponselnya dari Sam, kemudian menyuruh Sam memotretnya dengan Megan. Tampak Megan masih berekspresi sama, lantara lautan penonton di depannya tengah menatapnya. Tatapan cemburu yang bercampur dengan rasa iri membuat Megan tak berani membalas tatapan mereka.
Saat setelah Sam mengambil foto, Jakson tersadar akan kamera yang menggelantung di leher Megan. Kamera yang tak lain milik Jasmine, pikirnya mamanya ini ada di antara lautan penonton dan tengah melihatnya sekarang.
Jakson kembali mengambil kamera yang menggantung di leher Megan, kemudian kembali menyerahkannya pada Sam dan mengambil foto sekali lagi. Tampak Megan masih terdiam kaku bersama tangannya yang serasa lemas memegangi piring kue yang di berikan Jakson tadi. Sorot mata masih juga tertuju padanya yang seolah mengintimidasi.
To
Be
__ADS_1
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.