
Di salah satu kamar tepatnya di lantai dua rumah besar Jakson, Davin kerap membereskan barang bawaannya dan di bantu Megan sendiri.
“Jadi mulai sekarang kamu tinggal di sini!” ujar Megan.
“Hmm, aku akan menjagamu, ini juga perintah atasan ku!” angguknya pelan seraya mulai membongkar baju dari salah satu kopernya.
“Apa benar orang itu pembunuh seperti yang kamu maksud!” tanya Megan.
“Apa kamu tidak percaya, dia sudah banyak membunuh loh, dan salah satunya orang tuamu!” jelas Davin memberi tahu.
“Apa! jadi dia pelakunya..” pekik Megan yang seolah tak percaya.
Di ingatnya kala itu ia sempat membantunya karena merasa kasihan. Meski begitu ia tak tau sama sekali bahwa saat itulah dirinya sudah menjadi target dari pembunuh itu sendiri. Dan pada hari kejadian, Megan beruntung karena tak berada di rumah, kejadian naas itulah yang malah menimpa kedua orang tersayangnya.
“Hmm.. Aku memang bodoh! bagaimana bisa aku membantunya waktu itu, mungkin jika saat itu aku tak menolongnya orang tuaku masih di sisiku sekarang?” ujarnya tampak sendu dengan tertunduk dalam di sisi ranjang tempat Davin sibuk membereskan bawaannya.
“Sudahlah jangan di pikirkan lagi, ini juga bukan salahmu, waktu itu kau kan tidak tau kalau dia adalah seorang pembunuh!” seru Davin seraya meraih tangan Megan bermaksud menghiburnya dari ingatan kelam masa lalunya.
“Tapi.. Aku merasa bersalah pada ayah dan ibuku”
“Malam itu, malam saat aku mengalami kecelakaan seseorang mendorong ku.. Apa dia juga orangnya?” ujarnya lagi seraya mengingat masa kelam malam kecelakaan yang menimpa dirinya.
“Kecelakaan.. Maksudmu kecelakaan di jalan raya itu” tanya Davin.
“Iya..” balasnya dengan anggukan pelan.
__ADS_1
“Tapi, bukan dia pelakunya.. Aku sudah melihat cctv dari jalan itu, terlihat dua orang mencurigakan yang mengikutimu, dan salah satu dari mereka mendorongmu ke jalanan!” jelasnya seraya memberi tahu, sebelumnya ia sudah memeriksa rekaman cctv di area itu.
“Be benarkah bukan dia..” jelasnya tak percaya.
“Dan lagi kau tinggal di sini karena Jakson ingin bertanggung jawab atas kecelakaan itu!”
“Ee.. bertanggung jawab? Mengapa?” tanya Megan yang kian tampak heran.
“Jelaslah karena dia yang menabrakmu!” jelas Davin memberi tahu, pikirnya Megan sudah tau bahwa Jakson yang menabraknya makanya di izinkan tinggal di rumah ini.
“Kau bilang apa!! dia menabrakku?” ujar Megan yang seolah tak percaya, waktu itu ia sudah bertanya pada Jakson dan Jakson mengaku sebagai penyelamatnya.
“Iya”
“Haa, di ternyata membohongiku!” pekik Megan kemudian beranjak dari duduknya mencari sosok Jakson, dirinya tampak termakan kesal, maksudnya ingin balas budi atas pertolongan Jakson tapi ini jelaslah juga tanggung jawab Jakson sendiri.
“Haihh, ada apa dengannya!” sambungnya yang tampak bingung.
Degan langkah kesal Megan menuju kamar Jakson, ingin ia mendapat kepastian darinya. Sudah dari kemarin dia sadar tapi Jakson tak memberi tahu yang sebenarnya.
“Hei aktor tampan!” tegas Megan di depan pintu kamar Jakson seraya mengetuk pintu dengan sedikit kasar.
Krekk..
Bukk..
__ADS_1
Saat pintu terbuka, dengan sigap Megan mendorong tubuh Jakson ke dinding, menindihnya dengan ke dua tangganya. Jakson terkejut akan tingkah Megan ini, terlebih lagi mereka begitu dekat. Wajah Megan, tubuhnya, dan juga nafasnya yang begitu dekat tepat di depannya kian membuat dirinya takut, mengingat phobianya akan beraksi.
“A apa yang kau lakukan?” ucapnya dengan menyilangkan dua tangganya di depan dada.
“Aku yang seharusnya bertanya, apa yang kau lakukan!” tegas Megan dengan tatapan elang kian ia kirimkan pada sosok di depannya yang kerap ketakutan.
“Apa maksud mu!”
“Kau berbohong padaku bukan! Penyelamat, bukankah lebih tepatnya kau yang menabrakku malam itu!” jelasnya kian mendekatkan wajah.
“Dia tau dari mana?” batin Jakson.
“Itu, aku memang menabrakmu, tapi aku juga tak sengaja melakukannya, walau bagaimana pun aku sudah menolongmu, wa wajahku saja jadi lecet malam itu!” jelasnya kian menepis kedua tangan Megan seraya menjelaskan pembelaan dirinya.
“Hmm.. Memang benar dia sudah menolongku.. Tapi mengapa dia tak memberi tauku dari awal” batin Megan berpikir.
“Baiklah, aku sudah mendapat kejelasan.. Dan lagi aku tidak suka pada orang yang suka berbohong!” serunya seraya beranjak dari ruangan itu, meninggalkan Jakson yang masih bengong dengan seribu pertanyaan heran.
“Dia membuat ku takut, kupirik dia gadis lugu, haihh..” gumamnya dengan menghela nafas pendek kemudian menutup kembali pintu kamarnya.
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.