
Tiga bulan berlalu, selama ini hari-hari yang di lalui Jakson seperti biasanya, hanya sibuk dengan dunia kerja dan aktingnya. Selama tiga bulan pula, gadis yang di tabraknya kerap tak sadarkan diri yang mulai membuatnya resah.
Sempat terpikir di benaknya untuk membawanya ke rumah sakit, memberi tanggung jawab pada Jim untuk menjaga gadis itu, tapi jelaslah hal itu juga bukan jalan keluar yang terbaik, di karena kan mereka tak tahu identitas dari sang gadis.
Hari ini Jakson kembali dari luar negri, dirinya telah menyelesaikan suting di negara London untuk bagian ending. Lelah bekerja, ia bermaksud kembali ke kediaman keluarganya, walau nantinya ia kerap mendapat omelan dan perintah dari sang ayah.
Entah sudah berapa bulan ia tak berjumpa dengan adik manjanya, si tukang perintah namanya, juga papanya yang bermata elang bak es kutub yang membeku, serta kakak lelakinya yang rupawan.
Tapi sebelum itu ia sempatkan kembali ke kediaman pribadinya, mengingat Jim masih di sana mengobati gadis yang sudah tiga bulan lamanya belum sadarkan diri. Jim juga kerap putus asa akan apa yang menimpa pasiennya ini.
Dirinya sudah berusaha sebisa mungkin menyelamatkan gadis itu, tapi belum juga berbuah keberhasilan seperti yang di harapkannya, padahal menurutnya pengobatannya lancar bersahaja tak ada kerusakan dan cacat sama sekali. Hal inilah yang menjadi beban pikiran dari Jim sang dokter.
Ting tong.. Ting tong..
Di depan pintu rumah mewah bertingkat dua, sosok Jakson bersama Sam dan Nadia tengah menunggu seseorang membukakan pintu menyambut kedatangannya. Bagaimana mungkin ia memencet bel padahal ini rumah sendiri!. Mau bagaimana lagi, Jakson lupa dimana gerangan dirinya menaruh kunci rumah yang imut itu.
“Sebentar!!” sahut Jim dari dalam yang kerap mendekat dan perlahan membukakan pintu pada tiga sosok yang berdiri di baliknya.
__ADS_1
Di bukanya pintu seraya kepalanya menjulur keluar menatap lekat sosok di sana yang membuatnya mendesah tak bersemangat.
“Hmm, bukannya kau punya kunci rumah, mengapa harus memencet bel!” gerutunya pada Jakson mengingat rumah ini tak lain milik Jakson sendiri, dan kunci rumah juga ada padanya.
Jelaslah Jim hanya menumpang untuk menjaga rumah selama pemilik rumah menelantarkan rumah mewah ini karena takut pencuri handal masuk membobol kediamannya.
“Aku yang punya rumah, terserah akulah!!” balas Jakson ketus kemudian berlalu membawa koper imut bersamanya memasuki rumah mewahnya.
“Dia lupa dimana menaruh kunci rumah!!” bisik Sam memberi tahu akan kecerobohan Jakson yang sempat panik dengan kesal mencari kunci itu.
“Sungguh pelupa!” gerutu Jim dengan nada pelan berbisik pada Sam menatap kesal pada Jakson yang kerap membaringkan tubuhnya di sofa.
“Dia belum sadar!” balas Jim dengan desahan pasrah.
“Bagaimana bisa, kau bilang dia akan siuman secepatnya, tapi apa ini, sudah tiga bulan berlalu dia belum sadar juga!!” gerutu Jakson panjang lebar tak percaya pada pengobatan Jim yang selama tiga bulan ini tak kunjung berbuah kesehatan.
“Aku sudah berusaha, aku juga bukan tuhan yang selalu menyelamatkan nyawa orang, kita tunggu saja, dia akan sadar, aku yakin!” balas Jim pula kerap ketus meyakinkan mereka seraya berlalu menghampiri kamar dimana Megan masih terbaring lemah.
__ADS_1
“Sam, apa kau sudah mendapatkan identitas dari gadis itu?” tanya Jakson kerap menatap sosok yang di maksud, mengingat sebelumnya ia telah berpesan agar Sam mencari tahu asal usul gadis yang di tabraknya ini.
“Itu, aku sudah mencari tahu, tapi dia sekarang tak punya keluarga!” jawab Sam agak prihatin mengingat sebelumnya ia mendapati riwayat hidup Megan dari salah seorang teman kepercayaannya.
“Apa tak ada keluarga dekat yang mencarinya, atau teman!!” tanya Jakson lagi kerap memastikan seraya mengambil kertas yang baru saja Sam ambil dari salah satu ranselnya.
Jakson menatap lekat kertas itu, ia tengah membaca tulisan di sana, ekspresinya kerap berubah mengamati apa yang tertulis di sana.
“Megan Stenli, usia 23 tahun, anak tunggal dari keluarga Stenli! Di sini tertulis orang tuanya meninggal akibat kasus pembunuhan, dirinya selamat karena tak berada di rumah saat itu, sahabat dekatnya bernama Karin!” jelasnya membaca tiap bait kata yang tertera di sana.
“Oh iya, aku menemukan ponselnya di saku bajunya yang penuh darah malam itu, aku pikir sudah rusak tapi ternyata masih bisa di gunakan, satu minggu yang lalu seseorang menelpon dari hpnya, aku tidak sempat mengangkatnya!” sahut Sam kerap menyodorkan hp Megan yang ia dapat saat malam kecelakaan itu.
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.