
“Apa? kenapa menatapku begitu!” jelas Jonatan heran akan apa yang ingin di ketahui oleh istrinya ini.
“Apa benar kau datang untuk melihat Jakson?”
“Tidak, Aku tidak ada waktu untuk itu!”
“Apa kau membawa hadiah?” tanya Jasmine mencari ke segala arah dalam ruangan, berharap mendapat hadiah di sana.
“Tidak ada!”
“Aku melihatnya di sana, itu untuk Jakson bukan?” tunjuknya pada salah satu meja di sudut ruangan dengan tumpukan kado di sana yang entah apa isinya.
“Bukan! Itu bukan hadiah!”
“Kau ini.. bisa tidak jujur sedikit! Aku tau kau juga merindukan anak nakal mu itu, makanya kau datang kemari dan membawa semua hadiah itu kan?”
“Aku sudah bilang agar kau menyelesaikan perang dingin ini!” sambung Jasmine dengan segala penuturannya.
“Kapan aku bilang merindukan dia! Dan lagi, perang dingin ini tidak akan selesai kecuali dia sendiri yang meminta maaf lebih dulu padaku!”
“Kau hanya akan menyiksa diri sendiri kalau terus begini! Kau akan memberikan hadiah itu kan?”
“Sudah ku bilang itu bukan untuk Jakson.. Itu untuk mu!” jelasnya dengan memalingkan wajah menatap ke arah lain, pertanda ia tengah berbohong dari istrinya ini.
__ADS_1
“Baiklah.. untuk ku saja, biar aku yang memberikan itu pada Jakson nanti!” seringai Jasmine menggoda suaminya ini, ia tau kalau Jonatan juga pasti merindukan Jakson hingga rela meluangkan waktu datang kemari, walau ia tak berani mengakuinya karena rada percaya dirinya terlalu tinggi.
“Terserah saja!”
“Apa kau ingin bertemu dengan Jakson dan memberikan hadiah ini sendiri?” tanya Jasmine lagi.
“Kau saja.. aku ada urusan lain di sini, tidak ada waktu untuknya!” tagas Jonatan yang mulai kesal akan desakan pertanyaan dari istrinya.
“Cih, mulut mu bisa berbohong, tapi wajah mu tidak bisa bersembunyi dari kebohongan mu itu!” jelas Jasmine, tau kalau suaminya ini berkata lain dari yang di inginkan.
“Terserah apa yang kau pikirkan! Yang jelas kau harus mendapat hukuman karena membohongi ku!” jelas Jonatan membalas tegas perlakukan Jasmine.
“A aku tidak berbohong! Aku memang mengunjungi ibu, setelah itu baru aku kemari!”
“Intinya dari awal kau memang ingin datang kemari kan! Dan.. ke inginan mu sudah terwujud, jadi sekarang kau harus di hukum!”
“Kau sudah pandai ya mengatai istri mu!” ujar Jasmine tersenyum kecut memijat kasar kepala suaminya.
“Hati-hati dengan kepala ku! Atau jari mu tak akan lengkap lagi!” ancam Jonatan pula dengan membalas senyum itu.
“Dasar pria pemaksa ini.. Sama sekali tidak berubah, sudah jadi istrinya pun aku masih saja tak bisa membalas kata-kata menyebalkannya!” batin Jasmine mendesah kasar.
“Ya ya..” ujarnya pasrah.
__ADS_1
*
*
“Wah.. Untung saja aku tidak berlama-lama di sana! usia hidupku seakan berkurang! Aku sudah menyinggung pemilik perusahaan ternama di kota ini!” gumam Megan yang masih saja tertekan dan merasa bersalah.
“Ba bagaimana aku harus bersikap jika bertemu dengannya lagi? Menatapnya saja aku tidak berani, auranya sangat tidak seperti dengan Jakson! Sungguh.. aku tidak berani bertemu dengannya lagi, lain kali kalau bertemu aku harus menghindarinya!” sambungnya.
Saat ini, Megan tengah menunaikan suruhan Jasmine padanya. Ia menuju ke panggung konser untuk mengambil foto. Sambil berjalan ia mengamati beberapa foto di kamera yang menggantung di lehernya. Sebelumnya kamera itu di berikan oleh lelaki berkacamata yang mengikuti Jonatan tadi.
Sesekali ia tersenyum melihat foto-foto itu. Foto yang tak lain adalah foto Jakson bersama kedua saudaranya. Juga beberapa foto lucu yang menggambarkan ke akrabkan dari tiga bersaudara ini.
“I ini.. Apa kembaran Jakson? Tapi sedikit berbeda!” ujar Megan yang terkejut saat mendapati foto saudara lelaki Jakson di sana, Justin.
Yang menjadi fokusnya adalah Justin lantaran begitu mirip dengan Jakson, hampir saja ia salah mengira bahwa itu adalah Jakson, tapi Jakson sama sekali tak memiliki tahi lalat di pinggir mata kanannya, sedangkan yang di lihatnya sekarang jelas terpampang tahi lalat yang elegan bak setitik tinta.
“Dia terlihat lebih dewasa dari pada Jakson, dan tahi lalat ini.. dia lebih menawan! Jika dia jadi artis pasti akan terkenal juga!”
“Jelaslah mereka sangat menawan dan tampan, ayahnya saja masih terlihat awet dan gagah, ibunya juga masih cantik! Sungguh keturunan yang luar biasa!” tuturnya membayangkan Jakson dan keluarganya.
To
Be
__ADS_1
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.