
“Ya, ini aku Jessy! Jessy tetangga mu saat SMP!” jelas Jessy dengan nada tinggi, membuat para pelanggan di sana menatap ke arah mereka.
“Ya ampun kau sangat cantik dari terakhir kali kita bertemu!” jelas Davin pula yang tak mau kala, seraya meraih tangan Jessy kemudian memeluknya.
“Ka kalian saling kenal?” seru Megan bertanya, yang juga tampak bingung akan situasi sekarang.
“Tentu saja!” tutur Jessy dan Davin bersamaan kemudian kembali duduk di kursinya.
“Davin ini tetangga ku, dia juga teman SMP ku!” jelas Jessy.
“Mungkin sudah 8 tahun ya kita tidak bertemu! Dan kau semakin tinggi saja!” ujar Davin pula.
“Aku rajin olahraga loh semenjak kau pergi!”
“Tapi aku masih tinggi!” canda Davin sedikit tersenyum.
“Ya ya.. kau memang tinggi dari dulu dan aku yang pendek!” balas Jessy tersinggung.
“Megan, ke mana saja kau selama ini? Mengapa tidak pernah menghubungiku?” Jessy mengalihkan pandangan, membuka topik pembicaraan tentang Megan selama ini.
Megan merespon sama, tadinya ia senang melihat pertemuan manis Jessy dengan Davin, siapa yang tau, kedua temannya ini saling mengenal. Mungkin saja sekarang ini keberadaannya menggagu kedua temannya ini.
“A aku.. Selama ini aku ada di..” ujar Megan yang mulai mencari alasan.
__ADS_1
“Dia ada bersama ku selama ini!” jelas Davin seketika, menyela ucapan Megan yang belum selesai.
“Lalu kenapa kau tidak menghubungi ku? Kau tau, ada banyak hal yang ingin ku ceritakan pada Megan saat ini!” jelas Jessy yang sekarang mengintimidasi Davin.
“A aku mana tau kalau Megan teman mu!”
“Sudah-sudah, sekarang aku ada di sini! Jadi apa yang ingin kau katakan?” sahut Megan yang menghentikan percakapan yang kunjung membuatnya resah akan pertengkaran singkat mereka.
“Begini.. Kau tau kan sebelumnya aku hanya di rumah menikmati waktu berharga ku?” sebut Jessy yang memulai ceritanya dan di balas anggukan serius oleh empat pasang telinga pendengarnya.
"Sebut saja diri mu pengangguran!" sela Davin, dan hal itu sukses membuat Jessy menatap kesal padanya.
Jessy melanjutkan ceritanya, ia menceritakan kejadian yang ia alami selama tiga bulan terakhir. Kadang ia berekspresi marah kadang juga bersedih, seolah menghayati setiap kejadian yang terjadi pada hidupnya dalam tiga bulan ini.
“Kalau begitu berhenti saja!” saran Davin.
“Mudah sekali mengatakannya, sekarang berhenti pun tak akan bisa mengganti semua kerugian yang telah ku perbuat!” desah Jessy.
“Jangan berhenti kalau begitu! Kau bekerja saja di sana sampai kau benar-benar bisa mengganti rugi untuk bos mu!” seru Davin lagi.
“Jessy, kau baru menjalaninya.. Sekarang kau juga harus lebih dewasa bukan! Setidaknya bos mu tidak meminta hal yang begitu sulit, hanya ingin kau jadi sekretarisnya, apa salahnya itu!” seru Megan pula memberi nasehat.
“Baiklah, dari awal aku memang ingin bekerja di sana jadi aku tidak bisa berhenti hanya karena masalah sesepele itu bukan? Tapi, tapi aku melamar jadi pegawai perusahaan bukan jadi sekretaris, aku bahkan tidak tau apa itu sekretaris!”
__ADS_1
"Jessy itu tidak sesulit yang kau pikirkan! perlahan kau jiga akan terbiasa dengan pekerjaan itu!" saran Megan lagi.
“Hmm.. Bercerita dengan mu memang membuat beban pikiran ku berkurang!”
"Tapi di mana kau bekerja?" tanya Davin.
"Tentu saja di perusahaan terbesar di kota ini, J grup!"
"J, J grup?" seketika Megan tak percaya pada pendengarannya sehingga kata itu terlontar dengan tekanan.
"Ada apa!" tanya Jessy menatap heran.
"Bu bukan apa-apa!" sanggah Megan.
"Pokoknya jalankan saja pekerjaanmu itu jangan selalu mengeluh!" jelas Davin, ia tau bahwa Megan pasti mengingat keluarga Jakson jika mengangkut J grup.
Kala mendengar J grup tadi membuatnya terbayang akan Jakson. Bukan hanya Jakson, tapi juga keluarga Jakson, baik itu Jonatan, Jasmine, Julia dan Justin. Megan menebak, siapa gerangan bos dari Jessy yang ia bicarakan ini, apakah itu Jonatan ataukah Justin.
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.