
Jakson terdiam, “Hampir saja aku menyebut nama Megan di depan Devan! Pantas saja dia menutupi wajahnya seperti ini!” batin Jakson yang akhirnya sadar akan situasi antara Megan dan Devan sekarang ini.
“Siapa?” tanya Devan lagi yang menunggu jawaban.
Tin..
Lift sudah tiba di lobi, mereka keluar dari sana, Jakson dan Devan berjalan bersama, mengobrol singkat akan obrolannya yang belum selesai.
“Dia.. Dia Me.. Me.. Melly!” ujar Jakson yang tampak gugup, menyebut asal nama yang berawalan me.
“Oh.. Nona Melly! Dia sungguh imut, dan suaranya mengingatkan ku pada wanita yang ku cintai!”
“Be benar kah!” respons Jakson tampak canggung.
“Kalau begitu kita berpisah di sini, penggemar mu sudah menunggu mu di luar! Sampai jumpa, kapan-kapan aku ingin mengobrol dengan nona Melly juga!” pamitnya dengan senyum manis yang ia tujukan pada Megan.
“Hmm.. Sampai jumpa!” ujar Jakson dengan senyum kaku. “Mungkin lain kali aku tak akan membiarkan mu berbicara dengan Megan!” batin Jakson yang berkata lain.
Devan kian menjauh dari pandangan mereka. Sementara Megan kerap membuka selendang yang ia pakai. Sungguh lega melihat Devan tak menyadari kehadirannya, padahal Megan sudah menahan kegugupannya sedari tadi.
Nadia menatap lekat tangan Jakson yang masih menggandeng tangan Megan. Kesal jelas terpampang di wajahnya. Megan langsung menarik tangannya, saat menyadari mereka masih berpegangan.
Jakson melirik Megan yang sedang malu, pikirnya karena ia menggenggam tangan Megan sedari tadi, “Kau harus berterima kasih pada ku!” bisik Jakson.
“U untuk apa?” balas Megan yang berusaha menghindar dari kenyataan bahwa Jakson sudah menolongnya dengan tidak menyebut namanya di depan Devan.
“Kau pura-pura tidak tau atau sengaja! Tapi terserah, aku bisa memberi tau Devan sekarang soal dirimu!” ancam Jakson yang kerap merogoh ponselnya mencari nomor Devan.
__ADS_1
“A aku tau.. Aku akan membalasmu!” cegah Megan yang meraih tangan Jakson, menghentikannya mengutak-atik ponselnya agar tak menghubungi Devan.
“Hmm.. Kalau begitu apa yang bisa kau berikan padaku!” tanya Jakson.
“A aku juga tidak tau?”
“Tidak tau?” jelas Jakson dengan desahan lemah. Yang di dengarnya ini seperti lelucon.
“Lupakan saja, kita kembali sekarang, Devan sudah menunggu di rumah!” ujar Jakson yang kian menuntun jalan, memberi tau bahwa Devan sudah tiba di rumah karena sebelumnya ia mendapat pesan singkat dari Devan.
“Jekkyy...” terikan para fans saat ia keluar.
Jakson menyunggingkan bibir menatap ke segala arah sambil memberi lambaian hangat untuk penggemarnya yang sudah setia menunggunya hingga sesiang ini.
Jakson berpisah dari penggemarnya saat masuk ke dalam mobil. Ia duduk di depan bersama pak sopir. Masih teringat jernih saat di lift sebelumnya, jelas terasa sentuhan Megan yang ia genggam erat.
“Apa itu sudah termasuk romantis!” batin Jakson, duganya romantis seperti itu.
“Kalau begitu Megan bisa menjadi lawan mainku, untuk latihan..” gumamnya lagi.
“Ehem.. Megan, bukankah kau ingin membalas budi padaku?” tanyanya yang kerap berbalik menatap Megan yang duduk di antara Nadia dan Sam.
“Ya, ta tapi bagaimana aku membalas mu!” tanyanya, tak terpikir ia akan membalas Jakson dengan cara apa.
“Apa saja yang ku katakan nanti, apa kau setuju!”
“Se setuju apa? Bagaimana aku bisa setuju kalau kamu tak memberi tahu dulu apa yang kau inginkan!” tutur Megan, jelaslah bagaimana ia menentukan pilihan jika Jakson saja belum memberi tau keinginannya.
__ADS_1
“Nanti aku beri tahu, yang ku tanya sekarang apa kau setuju atau tidak?” tegas Jakson lagi, menatap Megan melalui kaca di depannya.
Megan terdiam sejenak, menimbang pilihan antara setuju dan tidak, “Ba baiklah aku setuju!” setuju Megan, yang entah apa yang di inginkan Jakson nantinya, dan ia mulai cemas memikirkan itu.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah. Benar saja, sosok Davin sedang menunggu di depan rumah. Di sana Davin masih mengamati cctv dan juga keadaan di sekitarnya.
“Apa pemeriksaan mu sudah selesai?” seru Jakson yang membuat Davin terkejut kemudian beralih menatapnya dan yang lainnya di sana.
“Sepertinya begitu!”
Davin ikut bergabung, bergabung bersama mereka memasuki rumah. Di ruang tamu mereka berkumpul. Tentu saja Davin ingin memberi tahukan mengenai kejadian semalam.
“Jadi, apa kau sudah menangkap penjahatnya!” tanya Jakson.
“Dia sedang di proses!”
“Apa kita sekarang sudah aman!” tanya Sam.
“Sepertinya begitu! Sudah aman.. Dan aku juga berterima kasih karena kalian telah membantu menjaga Megan, dan maaf karena telah merepotkan kalian berapa minggu ini!”
“Sudahlah, aku ingin ke kamar kalau kau berkata begitu terus.. Intinya sudah tak ada masalah!” jelas Jakson yang kian beranjak akan menuju kamarnya.
“Dan ya.. Aku akan membawa Megan bersamaku besok!” ujar Davin, yang menghentikan langkah Jakson.
To
Be
__ADS_1
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.