Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 74


__ADS_3

Sam menatap tajam, “Ya.. dia akan ikut, kemarin Davin juga mengajaknya, memangnya kenapa?”


“Hahh.." desah Jakson seraya kembali berbaring di bidang empuknya.


“Ada apa sih dengan mu? Kalau begitu aku pergi dulu!” pamit Sam.


“Tunggu, aku ikut!” teriak Jakson seketika.


“I ikut?” Sam terhenti dari kegiatannya membuka pintu karena teriakan Jakson menggema di gendang telinganya, memberi kesan mendalam lantaran Jakson bisanya tak suka beraktivitas sepagi ini.


*


*


Di luar gedung pula, Megan dan Davin sudah menunggu. Mereka tengah mengobrol ringan bersama pemanasan ringan pula. Jakson baru saja tiba di sana bersama Sam, dan raut wajahnya sudah tak bersemangat lantaran di suguhkan pemandangan yang tak ia suka.


“Mereka tampak serasi!” decaknya.


“Pagi, kalian sudah menunggu dari tadi?” sapa Sam.


“Tidak, aku dan Megan baru saja tiba!” balas Davin.


“Kalau begitu ayo..” sambung Sam yang mulai melakukan pemanasan ringan kemudian berlari kecil.


“Kita ke lapangan, tidak jauh kok dari sini!” pinta Davin.


Kemarin ia sudah melihat-lihat sekitar lokasi, dan mendapati lapangan di ujung jalan. Hanya saja tempat itu selalu ramai, terlebih lagi ada lapangan basket dan sepak bola di sana.

__ADS_1


“Oke saja!” jelas Sam mengikuti.


Megan dan Jakson juga berusaha mengikuti langkah dari dua orang di depannya. Sesekali Jakson melirik Megan, ingin ia berbicara tapi tak tau harus mengobrolkan apa.


“Apa? Kenapa kau melihat ku seperti itu? Kau ingin mengatakan sesuatu?” seru Megan yang sadar akan tatapan itu, tatapan yang mengganggunya.


“Aku hanya, hanya.. Ah iya, mengapa kau tidak ingin bertemu Devan semalam!” akhirnya ia menemukan topik pembicaraan, walau raut wajah Megan tak ingin membahasnya.


“Itu.. Dari awal aku memang tidak ingin bertemu mereka! Maaf, sikap ku semalam mungkin membuatmu terganggu, pasalnya aku langsung pergi setelah membuka pintu! Tapi aku benar-benar tidak mengira bahwa Devan ada di sana! Jadi.. Aku pergi karena terkejut!” tutur Megan.


“Jangan kau pikirkan lagi, itu juga sudah terjadi! Lagian, kalau aku di posisi mu aku pasti melalukan hal yang sama.. mungkin lebih parah, di tambah lagi aku ini bukan orang sabar!” jelas Jakson sedikit menghibur.


“Ya.. Kalau itu aku bisa mengerti!” tambah Megan seolah bercanda.


Matahari kian beranjak naik, keringat sudah membulat membasahi setiap inci wajah Megan dan Jakson. Nafasnya mulai tersengal lantaran merasa lelah, tapi dua pemuda di hadapannya terus saja melangkah hingga nafas terakhir. Saat menyadari bahwa Megan dan Jakson jauh tertinggal, Davin dan Sam juga berhenti kemudian duduk di salah satu kursi panjang di pinggir jalan.


“Haaah.. Aku sungguh lelah!” tegas Jakson.


“Kita istirahat sebentar di sini!” ujar Sam memutuskan.


“Terserah saja, lagian lapangan juga sudah dekat, di sana sudah mulai ramai!” seru Davin mengamati suasana lapangan yang tak jauh di sana.


“Ramai?” tegas Jakson.


“Kenapa?” tanya Megan.


“Kenapa apanya.. Aku ini artis terkenal mereka pasti..”

__ADS_1


“Pakai ini saja!” sela Megan yang langsung saja mendaratkan salah satu kacamata hitam miliknya di wajah Jakson.


“Ini masih bisa..” ujar Jakson, dan lagi Megan memberikan sebuah masker untuk Jakson.


“Aku mempersiapkan ini untuk berjaga-jaga, tapi malah berguna untuk mu!”


“Di dia perhatian padaku!” batin Jakson yang mulai kegirangan.


“Karena kau takut terekspos di sini, pakai juga jaket ku!” sodor Davin tersenyum bangga mendaratkan jaket yang baru saja ia buka.


Wajah kagum mulai terpampang di wajah Megan, matanya terperanga lantaran menatap tubuh Davin yang begitu memesona. Pakaian basket yang begitu serasi dengan tubuhnya, menampilkan betapa bugarnya tubuh itu. Terngiang bagai kilat, waktu SMA Davin memang anggota klub basket.


"Dia memang anggota basket!" gumam Megan.


Jangankan Megan, wanita dan para lelaki yang lewat di sana juga ikut terkejut melihat tubuh kekar itu.


“Apa tubuh lelaki begitu indah!” gumam Megan tanpa sadar.


Davin tersenyum, ia merasa malu mendengar itu dari mulut Megan, tapi juga merasa senang, yang artinya Megan terpukau akan dirinya.


“Biasa saja!” seru Jakson yang kesal, kemudian melanjutkan larinya, “Cih.. Melihat tubuh sepeti itu saja dia senang? Dia bahkan belum melihat tubuhku yang sempurna ini!” decaknya dalam hati.


To


Be


Continue

__ADS_1


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2