Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 37


__ADS_3

Megan terkejut, kiranya Devan mengenalinya. Perasaannya kian memburu tak karuan, takut apa yang dihindarinya terjadi.


“Maaf nona, sapu tangan mu jatuh!” seru Davin seraya menepuk pundak Megan, memberi tahunya akan sapu tangan itu.


Megan berbalik, sedikit lega karena Devan tak mengenalinya, tapi rasanya ia masih tercekik akan situasinya sekarang. Sapu tangan yang di pegang Devan sekarang tak lain adalah hadiah kecilnya untuk Megan sendiri. Cepat-cepat Megan meraih sapu tangan itu, takut Devan menyadarinya.


“Moga saja dia tak mengenali sapu tangan ini!” ujar Megan dalam hati.


“Te terima kasih!” jelas Megan kemudian mulai berbalik melanjutkan jalannya, tapi tangan Devan kembali mendarat di bahunya, menepuknya dengan lembut.


Megan kembali terkejut “Nona, apa kita pernah bertemu sebelumnya!” ujar Devan, ia mulai penasaran akan wajah yang berbalut selendang itu, karena mendengar suara yang mengingatkannya akan Megan.


“A aku..” ujar Megan kian gugup mencari wacana lain.


“Pak Devan, Anda sudah di tunggu!” seru sang sekretaris, mengingatkan Devan akan tujuannya datang kemari, yang tak lain menghadiri pertemuan.


“Baiklah, aku datang!” jelasnya, kemudian menatap lekat sosok Megan sebelum beranjak dari sana.


Akhirnya Megan bisa bernafas lega atas kepergian Devan, terlebih lagi Devan juga tak mengenalinya, Nadia dan wanita yang bersamanya kerap menatap heran.


“A ada apa?” tanya Megan kian canggung mendapati tatapan mereka.


“Apa kau tidak mengenal dia?” tanya Nadia pula yang kian membuat Megan bingung.

__ADS_1


“Dia mantanku!” batin Megan berteriak.


“Apa, maksudmu lelaki tadi!” jawabnya yang berusaha bersikap normal, jelaslah ia tau siapa lelaki barusan.


“Dia adalah CEO dari perusahaan Jione grup, salah satu perusahaan terbesar di kota ini! Akhir-akhir ini dia menjadi sorotan karena ketampanannya, tapi sayang.. dia sudah menikah!” jelas wanita itu yang seolah tau semua tentang Devan dan latar belakang keluarganya.


Sembari bercerita, wanita itu juga kerap menuntun jalan, menuntun Megan dan Nadia ke ruang VIP yang telah di persiapkan Jakson untuknya.


Sungguh tak mengejutkan lagi bagi Megan setelah mendengar penuturan itu yang seolah mengagungkan Devan. Ia sudah berusaha merelakan Devan, merelakannya bersama sahabat terdekatnya, dan lagi ia berharap tak sampai bertemu di lain waktu.


*


*


Di sisi lain, “Jawab dengan benar, bagaimana caramu masuk ke rumah besar itu, dan apa yang kau inginkan dari Megan!” interogasi Davin pada sang penjahat yang ia tangkap kemarin malam.


“Bagaimana kau masuk?” tanya Davin lagi.


“Aku masuk saat lampu mati!” ujarnya yang kian emosi menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan Davin sedari tadi.


“Apa kau yang mematikan lampunya!”


“Tidak, bukan aku!” bentaknya lagi.

__ADS_1


Davin mendesah, penjahat di depannya sudah di fonis memiliki gangguan jiwa, dan benar terlihat dari tingkahnya sekarang. Sungguh tak terduga bahwa orang ini masih mau menjawab semua pertanyaannya, dan dia juga mengakui akan pembunuhan yang sudah ia lakukan sebelumnya.


Tapi ada yang menjanggal, jika memang yang di katakan penjahat ini benar, bahwa ia tak bertemu Megan semalam, lalu siapa gerangan sosok yang bertemu dan berusaha menyakiti Megan?.


“Permisi pak, ini rekaman cctv yang dia ambil dari depan rumah Jakson, sepertinya ada orang lain yang masuk ke sana semalam!” tuturnya seraya memberikan sebuah plasdiks rekaman cctv yang baru saja di tontonnya bersama rekan yang lain.


“Orang lain? Ternyata begitu.. ada orang lain yang mengincar Megan, jadi.. tepatnya orang itu yang menyakiti Megan semalam” tebak Davin, ia kerap menyusun semua informasi yang telah di kumpulnya.


*


*


“Apa? Devan bertemu dengan Megan?” bentak Karin, ia sedang menelepon dan kerap emosi mendapat informasi yang tak pernah di bayangkannya. Ia kesal, kesal akan pertemuan singkat Devan dan Megan yang bahkan tak lebih dari pertemuan biasa.


“Dasar tidak becus.. Aku bisa memaafkan mu atas kegagalan kemarin, tapi kali ini harus berhasil, secepatnya singkirkan dia!” perintahnya.


“Dan.. hilangkan semua jejak, jangan sampai kau ketahuan hingga menyusahkan aku, pastikan cctv di sekitar tempat itu harus kau hancurkan!” pintanya sebelum menutup panggilan.


Tut.. tut..


To


Be

__ADS_1


Continue


Jika terdapat kesamaan nama, tokoh, karakter, dan tempat saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2