
“Hmm.. Apa yang ku lakukan ini benar?” gumam Jakson.
Sekarang dirinya terbaring di bidang empuk, menatap langit-langit kamarnya di bawa terpaan sinar lampu.
Jendela terbuka lebar, suara jangkrik juga mulai riuh dari luar. Malam mengganti posisi membawa gelap yang serasa sejuk menampar kulit. Mereka baru saja menikmati makan malam pertama di rumah ini.
Memang agak canggung, tapi mereka bisa mengakrabkan diri satu sama lain. Bahkan setelah makan malam, mereka kian sibuk dengan urusan masing-masing. Dan di sinilah Jakson sekarang, di dalam kamar yang bisu.
Jakson mengalihkan pandangan menatap monitor, di layar itu masih memperlihatkan situasi rumah melalui rekaman cctv. Salah satu cctv mengintai kamar Megan. Sebelumnya Jakson bermaksud memasang cctv di kamar Megan tapi diurungkan, mengingat Megan adalah wanita yang juga punya privasi.
Di layar itu menampakkan kesibukan Megan bersama Julia dan Nadia. Mereka tampak berbincang dan bercanda gurau.
“Sejak dia sadar aku tidak pernah melihat dia tertawa seperti itu!” gumam Jakson lagi dengan wajah teduh.
“Apa Julia sebahagia itu bisa mendapat teman baru!” sambungnya. Ia tau betapa inginnya Julia memiliki saudara perempuan.
Di sisi lain, tepatnya di balkon atas, Sam dan Davin sedang berbincang. Pertemuan pertama bagi mereka, tapi harus membahas masalah besar.
“Kamu bisa melindungi Megan kan?” tanya Sam.
“Tentu saja, memangnya kenapa!”
“Tidak ada, hanya saja ku pikir lebih baik kau yang membawa Megan! Dia malah akan dalam bahaya jika terus berada di sini! Dan juga nama Jakson akan buruk nantinya jika masalah ini terungkap!” ujarnya tanpa pikir panjang.
__ADS_1
“Aku di sini hanya sementara, ini hanya rencana untuk membuat pembunuh itu menampakkan diri, setelah itu aku bisa membawa Megan pergi dari kalian!”
“Begitu ternyata, kuharap kau selalu melindungi Megan! mulai sekarang kau juga bagian dari kami, mohon bantuannya untuk menjaga Jakson, dia sumber uangku!”
“Aku akan berusaha sebisaku! Ini sudah larut, aku kembali ke kamar dulu untuk melapor.. terima kasih atas waktunya!” ujar Davin berpamitan seraya membuang ketempat sampah kaleng minuman kosong yang baru saja selesai di teguknya.
“Hmm.. Selamat malam!”
Sam menatap langit malam di bawa terpaan rembulan. Ia mendesah kecil “Merepotkan saja!” pekiknya kesal.
Ia masih tak bisa menerima keberadaan Megan dan Davin di sini, meski untuk memancing pembunuh tapi ini jelas bukan pekerjaannya, malah nantinya ia yang repot. Ke khawatirkannya pada diri sendiri menjadi pemicu untuknya angkat suara. Jika terlibat akan pembunuh tidak menutup kemungkinan mereka yang tinggal di rumah ini juga akan ikut terluka.
“Apa wanita itu tidak sadar akan situasinya, dia tampak biasa saja!” sambungnya lagi kemudian meneguk minuman kaleng dan langsung menghabiskannya.
“Bukan siapa-siapa!” balasnya ketus.
Jakson duduk di samping Sam, ia juga kerap meraih beberapa botol kaleng di depannya. Karena merasa sesak di kamar, ia mencari udara segar hingga kemari, tapi siapa sangka mendapati Sam yang masih gundah di sini.
“Apa kau masih kesal padaku?” tanyanya menduga bahwa dirinya menjadi beban pikiran Sam sekarang ini.
“Iya! Aku kesal karena kau terlalu baik!”
“Hmm.. Aku bukan orang baik, aku hanya melakukan pertolongan kecil saja!” Balas Jakson ketus, menganggap pujian itu layaknya cemoohan kesal Sam.
__ADS_1
“Apa pantas, kau bukan polisi! Kalau Megan ikut dengan Davin bukankah itu lebih baik, kita tidak akan terus berjaga untuknya bukan!”
Mendengar itu, Jakson hanya terdiam, ia juga tak bisa membalas karena ucapan itu benar adanya dalam situasi ini.
“Apa kau punya alasan melakukan ini? ini bukan sekadar tanggung jawab kan?”
“Mungkin!” ketusnya.
“Jelaskan dengan benar agar aku bisa menerima keputusanmu!”
“Aku ingin memastikan sesuatu! Jadi biarkan dia di sini, tinggal bersama kita dulu, satu bulan saja apa cukup! Untuk Davin, aku bisa menyuruhnya membawa Megan kapan saja!”
“Kalau begitu selesaikan kepastianmu lebih cepat, aku tidak ingin menjadi target pembunuhan, aku yakin kau juga tak ingin bukan!” ujar Sam kemudian beranjak dari sana saat minuman kalengnya habis.
Tinggallah Jakson seorang diri, ia merenung, mengingat kembali saat Megan menggenggam tangannya. Memang bukan hal besar, Jakson hanya ingin menyentuh Megan lagi, memastikan bahwa dirinya baik-baik saja. Mengingat tidak semua wanita bisa bersentuhan dengannya yang membuatnya serasa tidak normal.
Sentuhan Megan tak membuat Jakson merasakan gejala apa pun, dan ini yang kedua kali dalam hidupnya. Mantan kekasihnya adalah orang pertama yang bisa menyentuh dirinya selain Julia dan Jasmine.
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.