Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 19


__ADS_3

Keesokan harinya. Di kediaman Jakson suasana sunyi sudah melanda. Sudah pukul sembilan pagi tapi penghuni rumah masih di ruangan masing-masing menikmati pagi ala orang pemalas.


Dari lantai dua, sosok Davin tampak sibuk mengamati ponselnya dengan penampilan kasualnya tapi masih tampak menawan. Rambutnya masih basa menandakan dirinya baru saja melakukan ritual pagi.


“Kemarin aku sudah mengobrol banyak dengan Megan! Senangnya bertemu lagi! dan lagi.. sudah tidak ada Devan di sampingnya!” gumamnya dengan seringai tipis seraya mengingat kemarin malam ia sudah berbincang banyak dengan Megan walau hanya sekadar membahas hal sepele.


“Apa dia tidak sadar aku berusaha mendekatinya!” lanjutnya dengan senyum kemudian menghampiri kamar Megan.


Sesuai janji semalam, ia akan mengajak Megan keluar untuk berbelanja sekalian membeli beberapa barang keperluannya.


Sementara di kamar Jakson, sosoknya masih setia dengan bantal guling. Jikalau ponselnya tak berdering ia mungkin tak akan bangun dari lelapnya dunia mimpi. Dengan tubuh lemah, Jakson meraih ponsel yang berdering tepat di sampingnya, ia mengangkat panggilan tanpa tahu siapa gerangan yang menelepon.


“Halo!” ujarnya lemah.


“Kau benar tak apa kan!” tanya seseorang dengan tegas yang membuat Jakson terkejut seraya menjauhkan ponsel dari telinganya kemudian menatap layar ponsel yang bertuliskan nama Sam.


“Ternyata kau, mengapa menelepon sepagi ini?”


“Sepagi ini? Ini sudah jam sembilan pagi.. Dan lagi apa Jim bersamamu sekarang!”


“Dia tidak ada di sini!”


“Lalu kau hanya berdua dengan Megan, apa kau tak takut!”


“Takut apa?”


“Kemarin kan kau kirim pesan SOS padaku!”


“Itu kemarin, sudah dulu aku baik-baik saja! cepatlah pulang banyak yang harus kau kerjakan!”


“Apa ini, kemarin kau manja sekali.. Membuatku khawatir saja! sekarang kau seperti tak membutuhkanku!” ujar Sam kecewa.

__ADS_1


“Cepat pulang!!” tegas Jakson mengakhiri panggilan kemudian melempar asal ponselnya di atas ranjang dan melanjutkan matanya tuk terpejam ke dunia mimpi.


“Dia cinta pertama ku!” ucapan Davin yang terngiang di pikirannya.


“Aaakkk sial.. Mengapa aku terganggu akan ucapan itu!” pekiknya seketika duduk dari baringnya seraya mengamati ruangan kamarnya.


“Apa karena selama ini aku tak bisa merasakan cinta seperti mereka!” ujarnya gusar seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Aku memang sudah menjomblo beberapa tahun, mengapa sekarang aku harus terganggu akan ucapan itu!”


“Sangat mudah baginya mendapat cinta dari Megan bukan, secara.. tak ada lagi Devan di sisi Megan!”


“Apa rumahku akan jadi saksi keharmonisan kalian!”


“Sudahlah, aku tak akan pusing dengan mereka lagi!” ujarnya mengakhiri gundahnya seraya menuju kamar mandi dan meraih sikat gigi kemudian membersihkan dirinya yang tampak lemah.


Di kamar Megan pula, ia sudah sibuk dengan kertas dan pulpen. Ia kerap menulis rencana hidupnya di sana, apa yang akan di dilakukannya? Ke mana dia harus bergantung dan di mana dia harus bekerja?.


J grup adalah salah satu perusahaan interior terbesar ke dua di negeri ini. Perusahaan ini tak lain dan juga bukan lain adalah milik dari Jonatan Willy ayah dari Jakson sendiri.


“Setidaknya aku harus melamar di sini dulu walau ini bukan keahlianku tapi apa salahnya di coba!” gumam Megan seraya mengamati koran itu, membacanya dengan saksama tentang persyaratan kerja.


“Aku harus membeli ponsel, tapi.. Aku kehilangan dompet ku malam itu, aku tak punya uang sekarang!”


“Apa aku kerja part time dulu di sekitar sini!”


*


*


Tring.. Tring..

__ADS_1


Di kamar Jakson bergema deringan ponsel, bukan berasal dari ponselnya tapi ponsel yang berada di salah satu laci yang tak lain adalah ponsel Megan. Sudah beberapa hari Megan sadar tapi ia lupa mengembalikan ponselnya.


Jakson beranjak dari kamar mandi, ia juga sudah selesai dari ritual pagi. Dengan hanya berbalutkan sehelai handuk melilit di pinggang rampingnya ia meraih ponsel itu.


“Ini bukanya ponsel Megan, aaaa.. aku lupa mengembalikan ini!”


“Tapi, siapa yang menelepon?” tanyanya seraya menatap nomor tanpa nama di layar itu kemudian dengan acuh ia memutuskan panggilan.


Tut.. tut..


“Ee.. Mengapa dia tak menjawab panggilan ku?” tanya Davin heran seraya menatap lekat ponselnya yang jelas tertulis nama Megan di sana kemudian menatap pintu kamar Megan yang tertutup rapat.


Davin mendekat pada kamar Megan, pikirnya Megan masih tidur.


Tok.. tok..


“Megan, kau di dalam?” serunya di depan pintu yang membuat Megan berhenti dari kegiatannya seraya mendekat dengan maksud membukakan pintu pada sosok di baliknya.


“Iya.. Ada apa!”


“Kau sudah bangun, mengapa tak menjawab panggilanku!” tanyanya langsung.


“Panggilan? Panggilan apa?” tanya Megan pula keheranan.


To


Be


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.

__ADS_1


__ADS_2