
Di depan kamar Megan, Jakson serasa membeku. Ia baru saja melihat pemandangan yang seharusnya tak ia lihat. Tentu saja itu tak di sengaja, tapi sayang untuk di lewatkan. Matanya masih membulat membayangkan setiap lekuk tubuh Megan. Hingga sosok Megan kembali membuka pintu, mengagetkan Jakson dari lamunannya yang erotis.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Megan dengan nada sedikit kesal seraya tersenyum manis, serasa siap menerkam sosok di depannya ini.
“A aku tidak memikirkan apa pun!” yakin Jakson, takut menatap mata Megan yang membara.
“Benar begitu!” tegas Megan.
“I iya!” balas Jakson yang kian tertunduk tak berani.
Sementara itu, dari samping langkah kaki kian terdengar. Dengan sigap dan panik Jakson langsung mendorong Megan masuk ke kamar, ia menindih Megan di sisi dinding, kemudian menutup pintu tak rapat, menyisakan sedikit cela agar ia bisa mengintip.
“A apa yang kamu lakukan?” tanya Megan yang kian heran, di tambah sekarang ia begitu dekat dengan Jakson, bau Jakson dapat tercium darinya.
“Sssttt.. Diamlah sebentar!” perintah Jakson yang tampak panik yang perlahan mengintip lewat sela pintu, takutnya seseorang melihatnya apalagi kalau Sam dan Nadia yang mendapatinya.
Megan terdiam sesuai perintahnya. Tapi detak jantungnya kian berdentum bersama nafasnya yang tersengal. Padahal Jakson tak menyentuhnya sehelai pun tapi sosoknya sangat dekat, membuat Megan kaku tak karuan dengan menggigit bibir bawahnya agar tak bersuara.
Tok... tok...
Suara ketukan mengagetkan mereka berdua. Mereka yang sudah panik sekarang bertambah panik. Mata Megan dan Jakson kian bertemu dengan saling menatap canggung.
__ADS_1
“Megan.. Kamu di dalam!” seru Davin yang menunggu di sana.
Panik makin terlihat, “I itu Davin, aku harus membuka pintu!” ujar Megan yang berusaha menjauhkan Jakson darinya.
“Tapi, bagaimana jika dia melihat ku, dia akan salah paham!” sanggah Jakson berbisik, menghentikan tangan Megan dari memegang gagang pintu.
“Kau hanya perlu bersembunyi!” saran Megan, tentu saja jika tak ingin ketahuan maka cara yang lebih afdal adalah sembunyi. Entah kenapa, bahkan hal semudah itu tak terlintas di pikiran Jakson yang hanya di landa panik.
“Megan..” seru Davin lagi, tapi saat mendapati pintu tak tertutup rapat ia mulia heran yang perlahan memdorong pintu itu.
“Ce cepat bersembunyi!” ujar Megan kemudian menyuruh Jakson bersembunyi di atas kasur dengan berbalutkan selimut sebagai persembunyiannya, harapnya di sana ia akan aman.
Sebelum Davin membuka pintu, Megan sudah lebih dulu membukakan pintu untuknya.
“Kenapa lama sekali membuka pintu, apa yang kau lakukan di kamarmu!” tanyanya yang kerap melihat masuk ke dalam ruangan pribadi Megan.
“Ti tidak ada, tadi aku hanya beres-beres..” ujar Megan seraya menghalangi arah pandang Davin agar ia tak melihat Jakson di balutan selimut itu.
“Oh begitu, apa aku bisa membantu mu!” ujar Davin yang kerap membuat Megan makin panik seraya mencari alasan baru.
“Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkanmu!” tolak Megan dengan lembut.
__ADS_1
“Aku tidak keberatan, kalau begitu apa yang bisa ku lakukan!” jelas Davin yang sekarang malah menerobos masuk tak menghiraukan ucapan Megan sama sekali.
Megan tambah panik, ia mendesah kasar kemudian mengigit bibir bawahnya, harapnya Davin tak menemukam Jakson, “Ta tapi aku bisa sendiri melakukannya!” halang Megan.
“Kau jangan menolak bantuanku! jadi apa yang bisa ku bantu sekarang?” jelas Davin yang kerap menatap suasana kamar Megan sekarang.
“Davin, sudah aku bilang tidak perlu.. Kamu beristirahatlah, aku sungguh tidak ingin merepotkan mu.. Jadi kamu habiskanlah waktumu dengan bersantai ya, aku tau akhir-akhir ini kau pasti sangat sibuk!” saran Megan, susa paya ia mengeluarkan kata-kata manis, harapnya perkataan itu dapat di dengarkan Davin.
“Hmm.. Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Davin mulai curiga.
“Ti tidak ada, aku tidak menyembunyikan apa pun darimu!”
“Baiklah-baiklah.. Kau jangan gugup lagi, aku hanya bercanda! Aku akan keluar sesuai perintah mu, Ingat.. kalau ada apa-apa panggil aku saja, kau tau aku akan selalu ada untukmu!” jelas Davin seraya mendekap sosok Megan kemudian berlalu meninggalkannya saat mendapat anggukan kecil dari Megan.
Setelah menutup pintu kamar rapat-rapat, Megan mendesah lega, tanda Davin tak curiga bahwa Jakson ada di atas ranjang itu, walau sedari tadi ia berusaha menyembunyikan ke gugupanya.
“A apa yang barusan dia lakukan padamu!” tanya Jakson saat setelah bangun dari kuburannya di atas ranjang, yang sadari tadi menahan diri agar tak bersuara. Tapi ia sangat kesal saat melihat sosok Davin memberi pelukan pada Megan.
To
Be
__ADS_1
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.