
Bib.. Bib..
Klakson berbunyi dari depan pintu. Tak lain dan bukan lain, Sam dan Nadia memberi kode keberangkatannya. Dari jendela Jakson hanya menatap lekat mobil yang membawa mereka, terasa hampa dua sahabatnya akan pergi, tapi mau bagaimana lagi, mereka juga butuh waktu bersantai, walau sekedar bertemu dengan sanak keluarga.
Jakson kerap melamun di depan jendela, di tatapnya mobil yang kerap menghilang di balik pagar. Ia juga rindu pada rumah, rindu pada sang adik yang manja, rindu pada ibu, ayah dinginnya, dan kakak sekaligus sang idolanya.
Tapi apalah daya, jika dirinya kembali, mungkin saja tak bisa kembali ke dunia akting. Papanya tak suka dengan dirinya yang terjun di dunia perfilman, ayahnya hanya ingin jika ia menjadi direktur dari perusahaan besarnya karena akan pensiun sehingga menginginkan kedua putranya melanjutkan usahanya ini.
Tringg.. Tringg..
Suara dering ponsel mengagetkannya dari lamunan singkat, ia kerap mencari asal suara, mencari keberadaan ponselnya yang kian bergema dalam rumah sepi itu.
Diraihnya ponsel di atas tumpukan buku, bertuliskan nama mama di layar itu, dengan sigap pula ia mengangkat panggilan, penasaran apa yang ingin di sampaikan wanita kesayangannya ini.
“Halo ma!” serunya membuka obrolan.
“Aku sendiri di sini!!” jelasnya memberi tau dengan nada sedikit manja karena mamanya juga kerap merindukannya.
__ADS_1
“Baiklah, mama bisa datang bersama Julia, aku tak ada kerjaan besok!!”
“Oke bakilah ma, sampai jumpa besok, jangan lupa bawakan aku masakan enak buatan mama.. ummuahh!!” ujarnya sebelum mengakhiri panggilan.
“Biklah, karena mama akan datang, maka aku harus bersih-bersih, bisa di pukul aku jika mama melihat semua ini, ssstt!” sambungnya kerap menatap seluk beluk rumah yang kian berantakan dengan debu di mana-mana bersama dengan pakaian yang bertumpuk tinggi di salah satu sofa.
Jakson memulai bersih-bersihnya, dengan alunan lagu menemaninya di kesunyian malam yang menusuk. Tak lupa ia mengunci pintu dan jendela, agar dirinya merasa aman.
“Malam begini, tak mungkin ada paparazi yang menyusup kan, kalau pun ada orang yang menyusup kemari pasti dia pencuri!!” gerutunya mengamati suasana dari luar jendela sebelum menutup tirai dan melanjutkan kegiatannya.
Beberapa menit kemudian ia telah selesai dari kegiatannya, dirinya kian merasa lelah. Keringat membulat di sela rambutnya, ia baru saja melakukan olahraga malam. Dengan desahan lega ia merebahkan tubuhnya sejenak pada sofa seraya mengamati ruangan yang sudah tampak lebih baik dari sebelumnya.
Jakson kerap menyalakan tv sebagai hiburan dari kekosongannya sekarang. Di tontonnya drama sendiri yang kerap membuatnya terkagum bangga dengan aktingnya.
“Aku memang tamvan ternyata, tidak sia-sia aku menjaga wajah ku ini!!” ujarnya bangga kerap menatap wajahnya lewat kaca ponselnya.
“Seharusnya ayah bangga atas pencapaian ku ini, kalau tak di paksa belajar bisnis aku tak akan kabur dari rumah!!” sambungnya kerap menatap layar tv dengan tertegun mengingat masa dimana dirinya pertama kali memulai karir artisnya dengan uang tabungan sendiri.
__ADS_1
“Sudahlah, semua sudah berlalu, sekarang aku mulai mengantuk, hoamm!!” sambungnya menyadarkan diri dari lamunan masa lalu dan perlahan beranjak dari tempatnya menuju kamar kesayangannya.
“Tapi, apa wanita itu beluam sadar juga, mengapa?” ujarnya kerap menatap pintu kamar di mana Megan masih tertidur yang sudah tiga bulan lamanya.
Jakson melangkahkan kaki mengintip ruangan itu. Di bukannya pintu menatap wanita lemah itu yang sudah di penuhi dengan alat batu pernafasan dan infus.
Jelaslah semua itu bentuk usaha Jim dalam menyelamatkannya, tapi sudah selama ini dia juga belum sadar padahal luka luarnya juga sudah menghilang tanpa jejak.
“Semoga kau cepat sembuh!” seru Jakson di depan pintu sebelum beranjak menuju kamarnya, ia kerap merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Megan, dirinya akan bertanggung jawab penuh saat sosok itu sudah sadar, sebagai bentuk maaf atas kejadian naas yang tak di sengaja itu.
Dalam ruangan, jari-jari Megan kerap bergerak perlan, seolah merespons ucapan Jakson barusan. Matanya juga kerap berkedip pelan dengan bibir yang berusaha mengucap satu kata dengan kaku. Berat rasanya bibinya mengucap kata itu, tubuhnya juga terasa berat tak bisa ia kontrol.
Di salah satu meja di ruang tamu, kerap bergetar ponsel Megan di sana, seseorang tengah menelponnya, bertuliskan polisi di sana.
To
Be
__ADS_1
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.