Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 77


__ADS_3

“Bu bukan.. dia hanya Jakson teman saya!” sanggah Megan seraya mengamati Jakson yang mulai kehilangan kesadaran.


“Berapa lama lagi ambulans akan tiba!” bentak Megan.


“Megan ada apa dengannya? Dia..” seru Sam yang langsung bergabung dan mulai panik saat melihat pisau tertancap di lengan Jakson.


“Jakson.. Le lengannya!” ujar Megan terbata lantaran tak sanggup berbicara lagi, apalagi saat melihat pakaian Jakson mulai penuh dengan darah.


Ia hanya menggenggam erat tangan Jakson yang mulai dingin bersama keringat. Begitu pula sebaliknya, Jakson juga menggenggam erat tangan Megan, takut melepaskannya. Nafasnya mulai tersengal, kesadarannya kian menurun, wajah Megan yang sedang khawatir padanya juga mulai tak jelas di pandangannya.


“Jakson bertahanlah, ambulans segera tiba, ku mohon bertahanlah!” harap Megan yang mulai sendu bersama paniknya yang menjadi.


“Me megan, aku senang kau baik-baik saja!” dengan suara kemah sebelum kehilangan kesadaran, Jakson mengucap kata itu agar kiranya Megan tak bersedih.


“Jak Jakson.. Kau akan baik-baik saja, bertahanlah!” seru Sam.


Saat yang tepat, ambulans tiba di lokasi walau Jakson sudah tak sadarkan diri. Megan dan Sam menemani Jakson di sana, sementara Davin masih mengejar penjahat itu.


Di atas mobil pun Jakson tak melepas tangan Megan, hingga tiba di rumah sakit terdekat. Cepat-cepat Jakson di larikan ke ruang ugd. Megan dan Sam menunggu di luar ruangan dengan panik. Harapnya Jakson baik-biak saja.


Setelah satu jam kemudian akhirnya dokter dari ruangan itu keluar. Sebelum memberi tahukan keadaan Jakson, dokter itu mendesah kasar.

__ADS_1


“Apa kalian keluarga pasien?” tanya dokter terlebih dahulu.


Megan dan Sam saling menatap kemudian mengangguk bersamaan, “Iya dok!” tegasnya.


“Begini, pisau yang menancap di lengan pasien ternyata memiliki racun!”


“Ra racun..” tegas Megan.


“Ya.. Botulisme! Ini di sebabkan oleh bakteri clostridium botulinum yang masuk melalui pisau yang tertancap di lengan pasien!”


“Tapi, Anda tidak perlu khawatir! Kami akan melakukan yang terbaik agar pasien bisa pulih seperti semula, dan untuk itu pasien harus menjalani rawat inap selama satu bulan!”


“Sa satu bulan?” ujar Sam, ucapan dokter itu bagai tamparan baginya.


“Dok.. Tidak bisakah dia dirawat di rumah saja” pinta Sam.


“Tidak bisa pak, kejadian ini sangat langkah jadi kami harus benar-benar memperhatikan keselamatan dan kesembuhan pasien! Saya harap kalian bisa mengerti!” tolak sang dokter.


“Kalau begitu saya permisi!”


Sam mendesah kasar kemudian merobohkan tubuhnya di kursi besi milik rumah sakit. Ia memijat kasar kepalanya, pikirannya sekarang tengah kacau dan tatapan dingin langsung ia tujukan pada Megan.

__ADS_1


“Dia, dia penyebab semua ini!”


“Jakson melindungi dia dari orang itu! Dari awal aku sudah tau seseorang mengikutinya, tapi mengapa? mengapa Jakson harus melakukan itu, mengapa?” batin Sam berdecak kesal, tapi tak berani mengutarakannya langsung pada Megan.


“Sam, semua akan baik-baik saja, Jakson juga!” seru Megan memberi kehangatan agar Sam tidak terlalu pusing akan apa yang menimpa Jakson saat ini.


Mendengar itu Sam tak berkutik. Ia tersenyum kecut, kata-kata seperti itu tidak akan mengubah semuanya jadi lebih baik, pikirnya. Sam menepis tangan Megan dari tubuhnya, “Jangan sentuh aku!” tegasnya menatap sinis.


Tentu saja penuturan barusan sangat menyakitkan bagi Megan, baru pertama kali ia mendapati sikap Sam yang seperti ini padanya. Tidak, dari awal Sam memang tak terlalu suka akan keberadaan Megan di sekeliling Jakson, tapi Jaksonlah yang membuatnya terdiam dan tak melakukan apa pun pada Megan.


“Sam.. Jakson ada dimana, dia baik-baik saja kan?” terdengar suara yang bergetar panik di sana membuyarkan pandangan Sam.


Sam menatap manik pemilik suara itu, ternyata Nadia. Nadia mendekat, dan langsung saja mengacak tubuh Sam, meminta kejelasan dari kabar yang baru saja ia dengar tentang Jakson.


“Apa, apa yang terjadi pada Jakson?” ujarnya mulai sendu.


“Dia..” tutur Sam, ia ingin memberi tahu semuanya pada Nadia, tapi melihat Megan ada di sampingnya ia mulai ragu.


To


Be

__ADS_1


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2