Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 66


__ADS_3

“Mama dan papa sudah memilih Karin sebagai calon mu, dia adalah pilihan mama dan lebih pantas bersanding dengan keluarga kita di banding wanita dari anak seorang sopir!”


“Mama..” bentak Devan yang kian kesal menahan emosinya sedari tadi.


*


*


“Devan.. Devan, apa yang kau pikirkan!” tanya Karin dari sampingnya yang sedari tadi menatap Devan tengah termenung.


“Aa ti tidak ada!” ujarnya yang sadar akan lamunan panjangnya tentang pertengkaran hebatnya dengan sang ibunda tercinta.


Pikiran Devan kembali normal, jelas sekali ia sangat kesal, lantaran keinginan mamanya sekarang terwujud. Mamanya juga sukses membuat retakan di antara Megan dengannya, membantu Karin menyingkirkan Megan di hati Devan. Tapi, walau Megan adalah anak seorang sopir dari keluarga Karin tetap saja ia tidak bisa melupakannya.


Kala itu, saat pertemuan pertama mereka, Devan sudah tertarik dengan Megan. Ia salah menduga bahwa Megan adalah anak dari teman ayahnya, tapi ternyata Megan adalah anak seorang sopir dari rumah besar Karin.


“Apa aku bodoh karena selalu memikirkan dia? Tidak tau bagaimana dengannya, apa dia masih mengingat ku!” gumamnya berdecak kesal.


“Walau bagaimana pun aku masih saja..”


“Haa ,sekarang ini.. harusnya aku tidak begini! Aku sendiri yang memilih Karin dan membiarkan Megan pergi tanpa membenarkan kesalahpahaman yang terjadi waktu itu!” pikirnya dengan mendalam.

__ADS_1


Devan kembali fokus, fokus menatap Jakson seraya pasrah bahunya jadi sandaran untuk Karin.


Susah payah Megan pergi dari lautan penonton dan tatapan Jakson. Nafasnya tersengal, degupan jantungnya kian bergema bersama rasa gugupnya. Sungguh, masih terbayang senyum manis Jakson yang serasa menghipnotisnya.


“Di dia membuat ku gugup!” tutur Megan seraya menarik nafas dalam-dalam.


Megan memasuki salah satu ruangan yang tak lain ruang ganti Jakson, ia bertemu Davin dan yang lainnya di sana. Saat masuk tatapan terus saja tertuju padanya lantaran kamera yang di bawanya sangat mencolok hingga di sangka paparazi.


Megan berusaha tak menggubris, berusaha tak menghiraukan tatapan mereka. Perlahan ia mendekat, dan duduk di samping Davin yang juga tengah mengirim tatapan yang sama.


“Ada apa denganmu?” tanyanya.


“Ti tidak ada, aku hanya sedikit gugup!” jelas Megan.


“E.. I itu” ujarnya yang terhenti, pikirnya tak mungkin ia mengatakan bahwa ia gugup karena Jakson terus saja menatapnya.


Tanpa pikir panjang, sebelum ia memberi alasan yang bisa di terima Davin. Megan meraih segelas teh panas di atas meja tepat di depannya, teh itu tak lain adalah milik Davin tapi teh itu belum tersentuh. Tegukan demi tegukan dan gelas itu kian kosong. Tampak Megan mendesah kasar dan menaruh kembali gelas itu di piringnya. Wajah heran terus saja tertuju padanya, entah apa yang terjadi.


“A apa? Mengapa kau menatapku begitu!”


“Ka kamu.. Teh ini masih panas!”

__ADS_1


“Panas? Sepertinya tidak!” balas Megan sejujur jujurnya.


“Apa maksudnya tidak! Aku sengaja menaruhnya di sana agar segera dingin tapi kamu malah.. Apa lidah mu tidak melepuh!” tutur Davin kian mengutarakan keheranannya Kemudian mengamati bibir Megan yang jelas tengah memerah dan bengkak.


“A aku..” balas Megan yang juga tak tau harus berkata apa lagi lantaran Davin sudah mendaratkan salah satu tangannya di pipi Megan kemudian menatapnya.


Megan hanya terdiam heran, karena ia merasa baik-baik saja. Megan sadar bahwa hal ini juga pernah terjadi sebelumnya tapi ia mengabaikannya. Barulah ia ingat akan ucapan dokter tentang penyakitnya, penyakit yang sudah di deritanya selama delapan tahun. Dan penyakit ini berawal dari kecelakaan saat ia masih duduk di bangku SMP.


“Ayo.. Aku akan membawamu ke rumah sakit!” jelas Davin mengambil keputusan seraya menarik tangan Megan akan segera beranjak bersamanya.


“Ti tidak perlu Davin.. Aku baik-baik saja!” tolaknya lantaran sudah ingat tentang masalahnya, entah mengapa ia bisa lupa akan penyakitnya ini.


“Tapi lidahmu..” tutur Davin.


“Sudah, tidak perlu ke rumah sakit! Aku harus kembali mengambil foto, soalnya tante masih ingin beberapa foto!” jelas Megan yang mulai beranjak dari sana, menjadikan Jasmine sebagai alasan agar menghindar dari ajakan Davin.


Davin hanya terdiam melihat kepergian Megan, “Megan ini.. Padahal bukan sekali dua kali aku melihatnya melakukan ini! Waktu itu aku berharap bahwa yang ku lihat itu salah, tapi sekarang.. Sepertinya sudah jelas bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu dari ku!” batinnya yang ingat pertama kalinya ia melihat Megan asal ceplas meminum sesuatu yang panas dan pahit saat SMA tapi Megan sama sekali tak merasakan apa pun.


To


Be

__ADS_1


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, qsaya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2