
Megan menarik ponselnya dari dalam tas, sesuai dugaannya Jaksonlah yang tengah meneleponnya. Ia terdiam dan ragu mengangkat panggilan itu.
Lama Megan menimbang kemauannya, saat itulah Melly tak sengaja menyenggol Megan yang menyebabkan ponsel itu jatuh tepat di hadapan Jessy. Jelas saja, Jessy meraih ponsel itu dan bermaksud memberikannya, tapi Jessy di kejutan oleh layar ponsel itu. Layar ponsel yang tak lain foto Jakson dan Megan jadi walpapernya.
Megan mengulurkan tangan ingin meraih ponselnya, tapi Jessy sudah bagai batu dengan tatapan membara saat melihat walpaper itu. Megan meriah ponselnya sesigap mungkin, saat ini ia tak mau jika Jessy memberinya banyak pertanyaan atas semua yang ia lihat, tapi tetap saja pertanyaan itu tak bisa di hindari nantinya.
“Apa aku tak salah lihat?” ujar Jessy tak percaya, ia mulai mencerna apa yang baru saja di lihatnya ini.
“Apa?” sangga Davin pula.
“Sejak kapan? Sejak kapan kau menjadi fans Jakson, bahkan kau memasang walpaper ponselmu dengan fotonya!” jelas Jessy merasa syok.
“Aku? kau salah lihat, ini bukan foto Jakson tapi Alfin! Kau tau kan aku fans Alfin!” sanggah Megan.
“Jangan membohongiku, aku tau setiap inci dari wajah Jakson! Dan yang kulihat tadi jelas sekali itu Jakson idolaku! Jadi katakan yang sejujurnya, sejak kapan kau melirik idolaku sehingga berani mengedit fotomu dengannya? Bahkan aku tak bisa mengedit sesempurna itu!” tegas Jessy.
“Aku tidak mengedit apa pun, aku juga bukan fans Jakson, bukan!” tegas Megan membela diri.
“Benarkah?” Jessy tak percaya, ia meraih ponsel Megan ingin memastikan sekali lagi bahwa ia tak salah lihat.
Dan benar saja, kecurigaannya tepat. Foto itu adalah foto Jakson. Megan tak bisa mengelak atas bukti yang sudah begitu jelas.
“Bagaimana kau menjelaskan tentang ini?” tanya Jessy mulai menginterogasi.
“Itu..”
“Itu apa, ini jelas foto Jakson dan di sini juga ada kau! Lalu bagaimana kau mengedit foto ini sehingga tampak begitu nyata seolah-olah kau berada di satu tempat yang sama dengan Jakson ku?”
__ADS_1
“Aku tidak bisa memberi tahu mu?”
“Kenapa tidak bisa!”
“Ra rahasia!”
“Rahasia apa sehingga aku tak berhak mengetahuinya!” Jessy mulai penasaran sehingga tanpa sengaja meninggikan suaranya pada Megan.
“Itu benar foto Jakson!” seru Davin.
“Aku tau ini foto Jakson!” tegas Jessy lagi dengan nada sama.
“Maksudku.. itu foto Jakson dan Megan yang di ambil pada tempat dan waktu yang sama!” jelas Davin.
“Maksud mu.. Megan? Megan pernah bertemu dengan Jakson?” Jessy makin penasaran, sehingga tak percaya akan yang di dengarnya ini.
“Tapi, kapan? Dimana? Kenapa aku tidak tau!”
“Apa semua kegiatan Jakson harus selalu kau tau!” sanggah Davin.
“Megan.. beritahu aku semuanya, aku akan merahasiakannya jika itu perlu! plis!” jelas Jessy memohon.
“Jessy.. Aku!” Megan mulai tak tau harus bagaimana, ia juga mulai ragu mengatakan tentang Jakson saat ini.
Tapi tatapan Jessy bagai menghipnotis sehingga Megan juga tak bisa menolaknya.
“Baiklah-baiklah, akan ku ceritakan semuanya tapi tidak di sini!”
__ADS_1
“Melly!” terdengar suara serak nan berat memanggil nama itu.
Sementara Melly sendiri berbalik dan menatap sosok yang memanggilnya. Walau masih dalam dekapan Davin, fokus Melly dan Davin tengah mengarah pada sepasang suami istri yang mendekat, tak terkecuali Megan dan Jessy yang juga ikut mengamatinya sambil tersenyum ramah menyambut orang itu, menghentikan pembicaraan mereka sejenak.
“Papa, mama!” panggil Melly.
“Kamu ini dengan siapa! Papakan menyuruhmu menunggu di sini, kenapa malah bersama orang asing!” jelas papa Melly.
“Tadi Melly duduk di sini, tapi di temani kak Megan!”
“Maaf pak, saya dari tadi bersama anak Anda!”
“Terima kasih, dia tidak merepotkan mu kan?” ujar sang istri.
“Tidak sama sekali! Kedepannya saya harap bapak dan ibu tidak meninggalkan Melly dan menyuruhnya menunggu di sembarang tempat seperti ini, takut jika nanti dia kenapa-napa!” tutur Megan.
“Saya tidak bermaksud seperti itu, saya sengaja menyuruhnya duduk di sini agar teman saya bisa memantaunya!” seru Papa Melly.
“Teman?”
To
Be
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
__ADS_1