
Di lorong sebelumnya, Karin melangkah dengan kesal lantaran tertinggal dari Devan dan Devina yang sudah tak terlihat lagi di depannya.
“Dasar anak nakal itu.. Dia pasti sengaja hanya menarik Devan bersamanya dan meninggalkan aku!” gerutunya.
“Tapi, ini bukannya konser Jakson ya?” gumamnya saat mendapati salah satu poster di sana.
“Kalau begitu, Megan.. Aku tidak akan membuat Megan dan Devan bertemu, kalau sampai itu terjadi.. Tidak, tidak, tidak boleh!” ujarnya kesal seraya mulai mencari Megan dan menelepon salah satu suruhannya untuk membantunya.
*
*
“Dia ada di sini?” batin Karin yang masih setia melihat Megan dari kursinya sekarang ini.
“Apa? Kamu bilang apa barusan?” tanya Devan yang mendengar samar ucapan Karin, perlahan ia mulai mengikuti arah pandang Karin tapi dengan sigap Karin mendaratkan kedua tangannya di pipi Devan yang membuat Devan terkejut.
“A apa? Ada apa?” tanya Devan.
“I itu.. Tidak ada, aku hanya sedikit lelah di sini, anak muda ini sangat bersemangat menyoraki nama Jakson!” jelasnya mencari bahan pembicaraan.
“Aku dengar, kau dan Jakson satu sekolah di sekolah bisnis!” sambungnya bertanya yang mulai bersandar di bahu suaminya ini, walau tampak Devan kaku akan perlakuan Karin yang menempelinya sekarang.
__ADS_1
“Bukan hanya satu sekolah, tapi satu kelas juga” sambung Devan membenarkan walau tampak sedikit kaku.
Devan mengirim senyum kecutnya lantaran mengingat Megan. Biasanya hanya Megan yang selalu seperti ini dengannya dan sekarang keberadaan Karin masih sangat mengganggunya. Meski sudah menerima Karin sebagai istri, tetap saja ia masih belum bisa memberikan semuanya pada Karin terutama hatinya.
Devan melihat sekilas sosok Megan yang meninggalkan kursi dan barisan penonton. Ia kembali terkejut walau sebenarnya masih ingin memastikan, tapi sosok itu sudah menghilang di balik panggung.
“A apa benar itu dia?” gumamnya.
“Ada apa Devan?” tanya Karin.
“Tidak, hanya saja sepertinya aku melihat Megan!” ujarnya.
Karin mengangkat kepala, kemudian tatapan ia tujukan pada Devan.
“Tadi ada di.. Tidak sepertinya aku salah lihat!” ujar Devan yang mulai tak peduli dan kembali fokus pada panggung dan Jakson.
“Wa wanita itu.. Kak Megan!” batin Devina yang terkejut melihat Megan di sana sebelumnya.
“Pantas saja aku merasa dia tidak asing, ternyata dia..” sambungnya masih terkejut, dan sekarang ia mulai ragu memberitahukan pada Devan atau tidak tentang Megan.
“Sudah.. Kau jangan pikirkan dia lagi, bukankah dia sudah banyak membuat masalah! Sekarang ada aku, ingat.. kau tidak memerlukan dia lagi!” tegas Karin membelai lembut pipi Devan seraya tersenyum bangga serasa memenangkan pria ini.
__ADS_1
“I iya..” balas Devan sedikit gugup tersenyum kecut.
Penuturan Karin sukses membuatnya mengingat kembali masalah diantara ia dan Megan sebelumnya. Masalah yang sungguh tak sesuai dugaannya hingga harus berujung perpisahan.
“Megan aku mencintai mu!” ucapan itu terlintas di benaknya, walau terasa sakit.
“Ini semua salah ku!”
“Jika aku tau lebih awal bahwa ini semua rencana mama, maka aku..” sambungnya kesal.
“Devan.. Jika kamu lebih memilih perempuan kampungan itu.. Maka jangan panggil aku mama lagi! Sampai kapan pun aku tidak pernah merestui mu dengan wanita murahan itu!”
“Ingat.. kau adalah penerus keluarga ini, keputusan mu ada di tangan ku, dan Karin jauh lebih pantas untukmu dari dia! Dia hanya akan mempermalukan keluarga kita, mau di taruh di mana mukamu nanti!” tegas Devania yang tak lain adalah ibu dari Devan.
Perkataan itu masih terngiang di benak Devan. Kala itu ia bertengkar hebat dengan mamanya, lantaran harus memilih pilihan yang sudah di tentukan keluarganya. Pikirnya, selama ini Devania merestui hubungannya dengan Megan, tapi ternyata semua itu hanya alasan agar aku juga bisa dekat dengan Karin yang tak lain anak pemilik rumah besar di mana ayah Megan bekerja sebagai sopir.
Dan tentu saja, Karin adalah sahabat Megan satu-satunya begitu juga sebaliknya. Tapi hanya karena Devan lebih tertarik dengan Megan sehingga Karin tak punya tempat untuk mengisi hati Devan. Mau tidak mau ia hanya bisa memenangkan hati keluarga Devan.
To
Be
__ADS_1
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.