Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 83


__ADS_3

“Ke kenapa Megan tidak mengangkat panggilan ku!” gumam Jakson yang resah.


“Jakson, sudah ku bilang jangan hubungi Megan lagi! Dia dan Davin tidak akan kembali!” jelas Nadia kemudian mengambil ponsel Jakson dan menyimpannya.


“Tapi kenapa tidak kembali, dia bahkan belum berpamitan padaku!” sanggah Jakson.


Nadia hanya terdiam, jelas tak mungkin jika ia mengatakan bahwa dirinya lah yang mengusir Megan. Tapi itu semua demi kebaikan Jakson, pikirnya.


Setelah satu minggu, Jakson baru bertemu dan bermain dengan ponselnya, walau keadaannya belum membaik. Dan sudah banyak panggilan yang terlewat dari Megan. Saat Jakson sadar tiga hari lalu, ia tak mendapati Megan dan Davin, melainkan kabar bahwa mereka sudah pergi dan tak akan kembali lagi.


Jakson serasa sedih, ia ingin mendengar semua penjelasan dari Megan, karena Nadia dan Sam tampak menjelekkan Megan. Jakson curiga, mungkinkah terjadi sesuatu selama ia tak sadarkan diri, sehingga Megan harus pergi secepat itu tanpa berpamitan. Padahal ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Megan, dan lagi rumah sakit sungguh membosankan baginya.


“Pergilah Nadia, aku ingin sendiri!” ujar Jakson seraya memperbaiki posisi tidurnya di ranjang pasien, mengusir Nadia yang membuatnya terganggu.


“Baiklah, aku tak akan menggagu tidur mu, beristirahatlah!” setuju Nadia yang perlahan keluar dari ruangan itu walau ragu.


Brak ...


Jakson mengerutkan dahi, kemudian meraih ponselnya kembali di atas meja. Ia menatap kosong layar ponselnya. Padahal ia berharap agar Megan menghubunginya lagi.

__ADS_1


“Haihh, mengapa dia pergi tanpa pamit? lalu mengapa dia juga tak mengaggangkat panggilan ku, orang penting seperti aku ini malah dia abaikan! Sungguh dia orang pertama yang memperlakukan ku seperti ini! Tapi, setidaknya tinggalkan pesan untukku!” decak Jakson kemudian menelpon sekali lagi.


Tapi, Megan juga tak mengangkat panggilan itu. Jakson mulai resah, ia melempar asal ponselnya kemudian menarik selimut. Ia membungkus dirinya dalam balutan selimut itu sambil mengingat kembali kejadian terakhir kali, kejadian di lapangan waktu itu. Jakson menatap luka di lengannya, menatapnya dengan senyum lantaran tangan inilah yang menyelamatkan Megan saat itu.


“Aaakkk.. Tidak bisa begini, aku tidak melakukan sesuatu yang mengganggunya kan, tapi mengapa dia tak memberi kabar atau mengunjungiku saat ini! Apa dia sama sekali tak khawatir padaku, padahal aku penyelamatnya? Aku ingin bertemu dengannyaaaa!” resah Jakson yang mulai gaduh di atas ranjangnya.


Sejenak ia mengatur nafas, menetralkan diri sambil memainkan ponselnya. Ia ragu, ragu menelpon Megan, tapi jika tak melakukannya juga membuatnya gundah.


“Megan!”


“Megan!!”


“Megan, temui aku.. bisakah?” ia merekam lagi dan kembali di hapus.


“Tidak bisa begini, dia sama sekali tak aktif! Apa hanya aku yang begitu tersiksa di sini! Hanya aku.. yang khawatir padanya?”


Jakson kembali meraih ponselnya, ia menatap beberapa foto Megan di sana. Sungguh, saat ini ia begitu bosan, kesepian dan sangat rindu pada Megan. Entah sejak kapan dirinya jadi gelisah jika tak ada Megan, yang jelas selama Megan bersamanya itu sudah cukup membuatnya tenang.


“Megan bahkan tak datang menjenguk ku padahal aku sudah di sini selama seminggu! Sebenarnya apa yang terjadi sehingga dia pergi terburu-buru!”

__ADS_1


“Aaakk.. sadarkan dirimu Jakson, dia bukan siapa-siapa, kau juga bukan siapa-siapanya! Dari awal kau hanya bertanggung jawab dan bahkan mengasihaninya! Jadi.. sudah sewajarnya dia pergi, kau juga sudah kembali ke kehidupan mu seperti sebelumnya!” tegas Jakson, ia meyakinkan diri agar tak berpikir tentang Megan lagi.


“Ya, aku harus melupakannya!” tegasnya.


Beberapa menit kemudian, Megan dan dua temannya berada di taman bermain. Mereka menikmati setiap wahana dan bahkan membeli beberapa camilan. Tak lupa mengambil foto, Megan memotret banyak foto di ponselnya, setidaknya hal kecil ini bisa jadi kenang-kenangan nantinya.


Sekarang karena lelah, Megan duduk di salah satu kursi bersama anak-anak muda di sana. Sementara Davin dan Jessy masih sibuk memilih permain apa yang akan mereka mainkan.


Belum lama Megan duduk, ia di kagetkan oleh deringan ponselnya. Tentu saja yang tengah memanggil atas nama Jakson. Megan kembali mendesah kasar, lantaran Jakson sudah dari tadi meneleponnya tapi dan ia sama sekali tak menggubris, bukan hanya panggilan, pesan beruntun juga Jakson kirimkan tiada henti.


“Ada apa sih dengannya, kenapa menghubungi ku terus! Dia harusnya tau aku tidak ingin berbicara dengannya! Aku sudah berusaha menahan diri, tapi dia..” kesal Megan.


To


Be


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.

__ADS_1


__ADS_2