
Jessy menatap tajam, padahal ini kesempatan sekali seumur hidup untuk bertemu sang idola. Tentu saja Jessy tak akan melewatkannya, mau itu tengah malam atau bahkan di waktu pentingnya ia akan menemui Jakson sang pemilik halunya.
“Apa, kenapa menatapku begitu?” balas Megan.
“Megan tolonglah aku, kabulkan permohonanku! Aku ingin bertemu Jakson, tolonglah!” pinta Jessy.
“Ku mohon” Jessy kembali memasang wajah memelas membuant Megan hanya terdiam tak tega.
“Bukakankah Jakson juga memintamu untuk menemuinya, aku akan ikut bersama mu, ya!” bujuk Jessy dengan muka memelas memohon belas kasih dari Megan.
“Kalian urus saja masalah kalian! Aku tak akan ikut campur!” ujar Davin, ia tau kalau Megan pasti akan pergi lantaran selama ini Megan juga ingin menemui Jakson tapi ragu.
“Mau ke mana kau?” tanya Jessy, “Jangan coba-coba kabur, kau juga terlibat di sini, karena kau tidak memberi tahu padaku bahwa kau bertemu Jakson!”
“Aku? aku mana tau kalau kau begitu gila kerena Jakson? Aku ada urusan dan tidak bisa bertemu dengannya!”
“Tidak bisa!” Jessy menghentikan Davin kemudian memaksanya kembali duduk.
Tentu saja Davin tak ingin terlibat dengan Jakson lagi, perkataan Nadia terakhir kali membuatnya takut jika Megan akan bertemu Nadia di sana, tak terkecuali bahwa ia sangat tak suka melihat Megan kembali bersama Jakson, tapi ia juga tak bisa jika Megan kembali bersedih.
"Haihh.." desah Davin.
“Aku tidak ingin kembali ke sana lagi!” sambungnya.
“Megan.. Ku mohon!” Jessy kembali memohon.
__ADS_1
Sementara Megan masih terdiam, ia ragu haruskah menemui Jakson, tapi takut jika Nadia dan Sam berada di sana yang tentu saja akan membuatnya merasa tidak nyaman. Tapi tatapan dan tingkah Jessy juga membuatnya tak nyaman.
*
*
“Apa benar Megan akan datang? Tapi, siapa wanita barusan? Teman Megan kah?” Jakson kian bertanya-tanya.
Ia sangat berharap jika Megan datang sekarang. Sungguh, sosok itulah yang membuatnya gundah dan rindu.
“Padahal, mama dan Julia sudah datang menjengukku! Tapi mereka malah mencari Megan!”
“Aku juga tidak bisa menjelaskan apa pun pada mama dan Juli saat itu!” Jakson teringat akan kunjungan Mamanya tiga hari yang lalu.
Jelas sekali saat itu ruangan ini serasa bergembira akan kebisingan Jasmine dan Julia. Tapi lihat sekarang, Jakson malah sendiri dalam bilik sunyi ini.
Jakson masih setia di bidang empuk itu. Siang berganti malam, dan malam berganti pagi dan ia sudah resah di sini, apalagi bau rumah sakit begitu sensitif untuk hidungnya.
Jakson meraih ponselnya, ia ingin menghubungi Megan sekali lagi tapi ragu.
“Ini sudah larut! Apa dia akan datang? Padahal aku berharap dia segera datang!”
“Entah kenapa, akhir-akhir ini aku selalu saja mengingatnya! Aku ingin melihatnya, meminta dia agar selalu di sisiku! Apa aku bisa?"
"Aku tidak tau ada apa sebenarnya diantara Megan dan Nadia! Sam juga tak menceritakan apa pun padaku mengenai kepergian Megan dan Davin yang tiba-tiba!”
__ADS_1
Jakson terus saja menatap kosong jam di ponselnya. Harpannya mulai pudar menunggu Megan yang tak kunjung datang.
Krek..
Terdengar suara pintu, sesigap mungkin Jakson meliriknya, ia mulai berdebar berharap Megan yang datang. Tapi harapannya pupus kala melihat Jim yang ada di sana.
“Ssstt.. Kenapa malah kau yang datang?” kesal Jakson kemudian membalut tubuhnya dengan selimut.
“Kau berharap seseorang menjenguk mu?” goda Jim.
“Ya..”
“Siapa?”
“Bukan urusanmu..”
“Lihat siapa yang datang!” jelas Jim memberi tahu.
“Suruh saja mereka pergi! Aku ingin sendiri!” jelas Jakson, ia menebak mungkin saja yang di maksud Jim adalah Nadia dan Sam atau Jasmine dan Julia yang datang berkunjung.
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.