
“Di sana!" seketika pandangan Megan tertuju pada ujung jari yang di arahkan oleh papa Melly pada salah satu badut yang sibuk membagikan balon tak jauh dari mereka berdiri.
"Badut itu.. Dia adalah teman saya!” lanjuntnya membenarkan.
Sadar akan tatapan temannya ini, sang badut melambai yang di balas lambaian pula oleh lelaki ini, lelaki yang tak lain ayah Melly.
“Oh begitu ternyata!" gumam Megan, seketika ia teringat akan ucapannya tadi, yang mana ia sempat mengira bahwa orang tua Melly tak punya kasih sayang untuk gadis kecil ini.
"Maaf, saya sudah salah paham!” lanjutnya, sungguh ia tak tau, tapi mama Melly hanya membalas dengan senyuman ramah.
“Kalau begitu saya dan teman saya pamit dulu! Senang bertemu dengan Anda!” jelas Megan berpamitan.
“Melly.. senang bertemu denganmu!” jelas Davin pula seraya memberi tos pada Melly yang masih sibuk menikmati es kirimnya yang kian meleleh.
“Sekali lagi, terima kasih terlah menemani Melly di sini, dan maaf jika membuat kalian salah paham!” ujar sang ibunda Melly.
“Tidak apa bu!” ujar Megan, sungguh berat hati memgatakannya tapi orang tua Melly tak seperti yang ia pikirkan.
Megan dan dua temannya menjauh dari sana saat setelah berpamitan dengan kedua orang tua Melly. Mereka menuju salah satu taman yang tak ramai pengunjung. Di salah satu bangku panjang, Megan menceritakan semuanya pada Jessy, tentu saja Davin hanya menyimak dan sibuk dengan ponselnya.
Sementara Jessy bagai naik realcoster kala mendengar cerita Megan. Perasaannya campur aduk, sungguh tak percaya bahwa temannya ini tinggal di rumah sang idolanya yang sudah dua tahun ia idamkan.
“Jadi.. sekarang kau punya nomor Jakson?” sela Jessy saat Megan selesai dengan ceritanya, entah hal apa saja yang ingin ia tanyakan setelah Megan bercerita.
__ADS_1
“I iya, bahkan dia dari tadi menelpon ku!” jelas Megan.
“Aaakkk.. Idolaku menelepon mu? Biarkan aku yang mengangkat panggilan itu, yaa yaaa!” jelas Jessy kegirangan.
“Bu bukan begitu..” Megan dan dengan sigap menyambungkan panggilan yang sudah lebih dulu bergetar di balik sakunya sebelum Jessy menyadarinya, ia ingin menarik perkataannya tadi tapi sudah terlanjur bahwa Jessy sekarang tengah bertanya-tanya, terlihat dari ekpresinya saat ini.
“Bukan bagaimana? Kau sudah menceritakan semuanya, tidak perlu kau menyanggahnya lagi!”
"Iya iya.. jangan bertingkah, Jakson menelponku!" jelas Megan.
Jessy kian tak sabar, ia mendekatkan telinganya sedekat mungkin pada ponsel Megan hingga ponsel itu menjadi perantara antara telinganya dengan Megan saat ini.
“Kenapa kau tidak mengangkat telpon mu?” bentak Jakson seketika.
Megan kembali merapatkan ponsel di telinga tak terkecuali dengan Jessy yang masih saja mengikuti, ingin Jessy dengar percakapan antara Megan dan Jakson di balik ponsel yang membuatnya makin penasaran dan kegirangan.
“A apa? Ada apa kau terus saja menelpon ku! Aku kan sudah bilang tidak ingin berbicara denganmu!” Megan berbicara selmbut mungkin walau terdengar kasar.
“Kau.. Aku aktor terkenal, hanya kau saja yang tidak ingin bicara dengan ku! dan.. apa kau tau, kau baru saja menggertakku.. apa kau tidak takut padaku?”
“Takut? Ti tidak sama sekali!”
“Baiklah, kau tidak takut! Kalau begitu datang dan temui aku sekarang!” jelas Jakson yang mulai kesal, padahal sedari tadi ia menelpon dan menunggu Megan menjawabnya tapi ia malah di bentak balik oleh Megan padahal Jakson sudah menahan emosinya sedari tadi.
__ADS_1
“Ok aku akan.. Tidak-tidak! Kau sengaja mengatakan itu ya, apa kau pikir aku akan menemuimu? Aku tidak akan kesana! Sudah.. aku tidak ingin berbicara dengan..” Megan ingin mengakhiri tapi jemari Jessy lebih lihai dalam meraih ponsel itu.
“Halo.. Benar ini Jakson Willy?” Jessy bertanya dengan malu-malu walau masih tak percaya suara yang di dengarnya sekarang sungguh suara emas idolanya.
“Ada apa?” balas Jakson pula dengan nada tinggi, jelaslah ia tak tau siapa gadis di balik ponsel ini.
“Aku.. Kau ingin bertemu Megan bukan! Aku, Aku akan membawa Megan menemui mu, sekalian aku juga ingin bertemu dengan mu!”
“Siapa kau? Bagaimana aku bisa percaya kau akan membawa Megan ke mari!” tutur Jakson penuh curiga.
“Aku penggemarmu!” jelas Jessy kegirangan.
Tapi belum sempat Jessy mengatakan sepatah kata perpisahan atau bahkan bertanya lebih banyak lagi, Megan merebut paksa ponselnya.
“Sudah.. jangan telepon aku lagi?” jelas Megan kemudian memutuskan panggilan.
“Megan..” bentak Jessy.
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.