
“Aku ikut!” ujar Megan.
“Kalau begitu aku juga, tapi kalau ada apa-apa denganku kau yang bertanggung jawab!” serunya dengan desahan pasrah.
“Kau yang ikut kenapa aku yang bertanggung jawab!” sela Davin.
“Kau yang mengajakku!” ujar Jakson tak mau mengalah.
“Haihh.. Baiklah! Tapi ingat jangan jauh-jauh dari ku!” ujar Davin terpaksa.
“Oke bos!” serunya dengan seringai senang.
Jakson tak mungkin berdiam diri di mobil, tapi juga tak berani menerobos keramaian yang kian padat. Mau bagaimana lagi, dari awal niatnya ingin belanja, jadi terpaksa mengikuti dua orang ini.
“Andai saja Nadia dan Sam ada di sini, ini tak akan terjadi padaku!” gumamnya seraya membuka pintu saat setelah membetulkan masker dan topinya sebagai bentuk penyamaran. Di ingatnya biasanya Nadia yang selalu berbelanja membelikannya barang keperluan.
“Meski begini, ketampananku masih mencolok! Moga saja tak ketahuan! kau bisa melakukannya Jakson!” gumamnya lagi kemudian menatap keramaian.
Tiap lantai yang mereka susuri kian ramai, orang-orang bahkan kerap berdesakan di salah satu toko. Tampak Jakson hanya mengekor pada Megan dan Davin sedari tadi. Sebelumnya ia jarang keluar membeli bahan makanan terlebih lagi di tempat ramai seperti ini, jelaslah karena ada Nadia yang selalu mengurus keperluannya.
Sedari tadi Jakson bahkan belum membeli satu barang pun. Barang yang di perlukannya seolah tak penting lagi jikalau mengingat situasinya sekarang. Dari pada tinggal di mobil ia lebih memilih ikut karena bosan.
“Apa kau baik-baik saja!” tanya Megan memberi perhatian pada sosok yang kian tampak gugup dengan tertunduk dalam mengikutinya dari samping.
__ADS_1
“Kau pikir sekarang keadaan ku baik!” jelasnya menatap Megan.
“Pasti ini pertama kalinya kau datang kemari!”
“Sini, hati-hati jangan sampai kau hilang!” ujar Megan seraya meraih tangan Jakson menuntunnya berjalan bersamanya agar tak menjauh darinya.
Jakson terkejut, tangan Megan yang kerap menyentuhnya membuat ia berdebar tak karuan mengingat phobianya akan berefek di sini, pikirnya dia akan jatuh pingsan.
“Le lepaskan aku!” ujarnya gusar.
“Tidak, kau akan tersesat nanti, ini kebaikanmu juga! Dan lagi Davin sudah jauh di depan.. kita tertinggal!” seru Megan yang malah mengeratkan genggamannya seraya mencari sosok Davin yang kian tak terlihat dalam keramaian.
“Aku bilang lepaskan!” tegas Jakson kerap menarik tangannya dari genggaman Megan yang membuat Megan menatap heran padanya. Jangan kan Megan sebagian orang juga kerap menatapnya dengan heran.
“Aku, aku..” serunya yang tampak terkejut seraya mengepal tangan yang baru saja di genggam Megan kemudian dari sela topinya ia mengamati sekeliling yang kerap memperhatikannya.
“Ada apa, kau baik-baik saja?” tanya Megan heran.
“Bukankah itu Jakson!” teriak seorang gadis di tengah keramaian yang membuat mata tertuju pada Jakson.
“Me, mereka mengenaliku!” gumam Jakson seraya tertunduk dalam membetulkan topinya yang tak miring.
“Aaaa, oppa Jakson!” teriak rombongan gadis yang kian mendekat dan berkerumun di tempat Jakson berdiri.
__ADS_1
Mereka sudah berdiri di hadapan Jakson, bahkan Megan seolah tak di hiraukan di sana. Megan kian terjatuh akibat senggolan dari rombongan itu, membuatnya tak bisa melihat Jakson di sana. Jakson terpojok, ia sudah terbayang takut jika fansnya ini akan menyentuhnya asal. Ingin ia lari, tapi tak berani menerobos kerumunan fans wanita di hadapannya.
“Oppa.. aku ingin berfoto boleh tidak!” seru salah satu dari mereka yang seolah yakin bahwa yang di depannya sekarang adalah sang idola.
“Aku bukan Jakson!” tegas Jakson seraya menaruh kedua tangannya dalam dekapan dadanya, takut tersentuh oleh fansnya.
Tampak Megan kian kesal menatap kerumunan itu, membuat Jakson tak berkutik dari tempatnya yang juga tak berani angkat bicara. Sudah banyak pasang mata yang kian menatap kerumunan yang berbuat gaduh di sana.
“Ternyata dia memang terkenal!” gumam Megan dengan desahan kasar.
“Dia bukan Jakson!” teriaknya dari belakangan yang membuat mata tertuju padanya.
“Bukan Jakson, lalu siapa!” seru salah satu wanita di sana yang tampak heran menatap Megan karena mengganggu kesenangannya.
“Dia.. dia pacarku! Menjauh darinya!” tegas Megan seraya menghampiri kerumunan itu dan meraih tangan Jakson di sana.
To
Be
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
__ADS_1