
“Apa sekarang sudah aman!” tanya Jakson lagi berharap Nadia tak akan kembali lagi.
“Keluarlah, sudah aman!” perintah Megan.
Jakson serasa sesak, nafasnya tersengal. Keringat kian bercucuran di sela rambutnya layaknya ia baru saja melakukan olahraga malam, padahal hanya bersembunyi tapi terasa seperti olahraga batin yang menguji kesabarannya. Melihat segelas jus yang di genggam Megan, Jakson langsung meraihnya sebelum Megan meminum itu.
Jakson meneguk jus itu dengan sangar, tanda ia sangat kehausan. Sementara Megan hanya menatapnya, ia tau alasan dari sikap Jakson, tak lain karena rasa haus yang melanda akibat sesak yang ia rasakan dalam lemari.
“Ahh.. Leganya!” desah Jakson saat selesai meneguk jus itu hingga tak tersisa lagi.
“Apa kau sehaus itu?” seru Megan dengan dahi mengerut.
“Kau bilang apa? Tentu saja aku haus... Apa kau pikir aku yang terkenal ini pantas kau masukkan ke dalam lemari itu!” jelas Jakson menunjuk lemari itu seraya mendekat, menatap tajam pada Megan.
“Ta tapi kau baru saja masuk ke sana bukan!” jelas Megan sedikit gugup.
“Benar! Dan aku ingin hanya kau saja yang tau akan hal ini!” tegas Jakson di telinga Megan, maksud lainnya agar Megan tak memberi tahu orang lain soal itu.
“Ti tidak akan!” balas Megan dengan menutup rapat bibirnya seraya menggeleng kepala tanda iya dari ucapan Jakson itu.
Merasa puas akan jawaban Megan, Jakson meraih salah satu kursi dan duduk di sana, “Jadi.. apa kau akan pergi besok?” tanyanya.
“Ti tidak!” jelas Megan.
__ADS_1
“Apa maksudmu tidak!” balasnya, ingin ia memperjelas lagi penuturan itu, karena sebelumnya ia mendengar kata iya dari Megan di ruang tamu.
“Bukankah kau akan pergi bersama Davin besok?” sambungnya.
“A apa kamu begitu ingin aku segera pergi? Kalau begitu baiklah besok aku akan katakan pada Davin agar segera pergi!” jelas Megan, karena penuturan Jakson barusan serasa memberikan perintah untuknya segera pergi.
“Bu bukan begitu, kau.. kau tidak perlu mengatakan pada Davin untuk segera pergi! Ka kau boleh tinggal di sini lebih lama!” jelas Jakson seraya bangkit dari duduknya, ia terkejut mengetahui bahwa Megan mengundur kepergiannya ini.
Megan hanya menatap heran akan respons Jakson. “Mungkinkah dia benar-benar masih ingin jika aku tinggal di sini, atau itu hanya alasannya saja agar aku bisa lebih lama bekerja dengannya dan membalas budi!” pikir Megan.
Sementara Jakson yang mendapat tatapan itu kerap merasa gugup kemudian kembali duduk di kursinya.
“I itu, aku ingin membalas budimu waktu itu, jadi aku mengundur waktu untuk kembali.. tapi hanya beberapa hari ke depan, setelah itu aku benar-benar akan pergi!” jelas Megan.
“A apa, lakukan apa?” ujar Megan heran.
“Aku sudah mengirimkan sebuah file padamu! Sekarang juga aku ingin kau jadi teman latihanku!”
“File? Te teman latihan?” gumam Megan yang kerap mencari file yang di maksud Jakson pada ponselnya, dan benar saja ia mendapat filenya, file yang tak lain adalah naskah drama yang di bintangi Jakson.
“I ini bukannya naskah drama mu?” ujar Megan terkejut saat mendapatinya.
“Hmm.. Jangan sia-siakan itu, aku bersusah paya meminta file itu dari penulis hanya untuk di perlihatkan untukmu!” tuturnya.
__ADS_1
“Ka kalau begitu, apa yang harus ku lakukan sekarang!” tanya Megan mulai gugup, karena ini bukanlah keahliannya.
“Benar juga, aku memilihnya sebagai lawan mainku tapi apa di bisa.. Dalam drama ini hanya ada beberapa adegan yang termasuk romantis!” batin Jakson yang kian membuka bait per bait untuk mendapatkan adegan yang bisa membantunya lebih terbiasa saat di depan kamera nantinya.
Ini adalah tantangan baru untuknya, selama ini tak pernah sekali pun Jakson memerankan adegan romantis atau semacamnya. Bisa di bilang Jakson sendiri yang memilih membuat dirinya kesulitan. Kalau bukan tuntutan Jim yang menyuruhnya terbiasa di sisi wanita agar phobianya bisa membaik, Jakson tak mungkin menerima drama ini. Ia juga berpikir, sudah saatnya menantang ketakutannya, apalagi saat ia berhasil menyentuh tangan Megan dan terbiasa, hal itu memberinya harapan.
“Buka halaman 52 adegan ke tiga!” seru Jakson.
Sesuai perintah Megan melakukannya, dan ia terkejut saat membaca setiap kata dan adegan di sana, “A apa ini tidak salah!” jelas Megan.
“Ada apa, apa kau tak mau melakukan nya?” tanya Jakson.
“Bu bukan begitu tapi, i ini ada adegan ci ci ciu.. Man!” ucap Megan terbata.
“Ka kau jangan membuatku gugup, a aku juga tidak bisa melakukannya!” balas Jakson pula yang tak tau harus bersikap seperti apa lagi, karena ini termasuk ciuman pertamanya.
“Ba bagaimana ini?” batin Megan yang gugup.
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.