
Tiba di lokasi suting, seperti kemarin suasana juga riuh akan penggemar hari ini. Bukan hanya penggemar dari Jakson, tapi juga beberapa penggemar dari berapa aktris dan aktor lainnya yang ikut andil dalam drama terbaru musim ini. Sebuah drama dari penulis terkenal, dan tentu saja di sutradarai oleh sutradara terkenal pula.
Sesuai perkataannya, Jakson hadir di sana walau sedikit terlambat, dan keterlambatan ini mengukir sejarah untuknya karena belum pernah terjadi selama ia berkarier.
Flasback on
“Jakson, ayo kita bekerja!” seru Sam dia ambang pintu kamar. Ia menatap Jakson yang duduk di tepi ranjang menatap Megan.
“Sssttt!” balasnya yang kian menatap Sam, jari telunjuknya ia daratkan di bibir, perintah tak terucap agar Sam tidak bersuara lagi.
“Apa kau sudah gila! Kita harus bekerja, pertemuannya sudah hampir di mulai! Kau tidak mungkin melewatkan pembacaan naskahnya kan?” jelas Sam kian kesal melihat Jakson yang seolah sedang menjaga berlian di sana.
“Bilang saja pada mereka aku akan datang terlambat!” perintahnya.
“Apa aku tidak salah dengar, kau berkata datang terlambat! Apa sekarang kau sudah tak memegang janjimu lagi!” jelas Sam lagi.
“Aku menepati janji, tapi kalau sutradara sendiri yang tak menepatinya bagaimana?” seringai Jakson.
“Maksudmu?”
“Sutradara itu mendapat masalah di pagi buta, mungkin butuh waktu untuk menyelesaikannya!” jelas Jakson memberitahukan informasi yang di berikan Julia padanya tentan pelanggaran lalu lintas dari sepupunya.
“Hmm.. Jangan karena dia sepupu mu jadi kau seenaknya saja datang sesukamu!” gerutu Sam.
__ADS_1
“Dia sendiri yang membutuhkan aku sebagai pemeran utama bukan, apa salahnya aku memberi dia kesulitan sedikit, lagi pula dia selalu saja menghina ku!”
“Terserah saja, aku tak ada hubungannya dengan keluargamu itu!” pasrah Sam kemudian meninggalkan Jakson yang masih setia duduk di sana menunggu Megan membuka mata.
Sedari tadi Jakson terus mengamati Megan, tapi tak berani menyentuhnya, sesekali ia ingin tapi di urungkan, takut sosok itu terbangun karenanya. matahari kian menerpa wajah Megan. Dengan tangannya, Jakson menghalagi cahaya, mengahalagi agar tak memyilaukan Megan dari tidurnya. Jakson tersenyum, tersenyum mendapati tingkahnya yang seperti ini. Sungguh, ia mulai menaru hati pada Megan yang entah kapan dimulai.
*
*
Jakson memasuki ruang pertemuan. Dan benar saja, sudah banyak aktris dan aktor yang duduk berjejer di sana, mereka menunggu kehadiran sang sutradara, yang tak lain adalah sepupu Jakson sendiri.
Masalah pelanggaran lalu lintas kerap menguras waktu sutradara itu di kantor polisi. Dan Jakson lebih dulu tiba di sana darinya. Jakson bergabung, tanpa menyapa, tersenyum atau saling menegur, ia duduk di sebelah sang aktor ternama yang mendapat peran kedua dalam drama ini, Alfin.
Di sisi lain, tepatnya di ruang tunggu, Megan bersama Nadia dan para kru aktris lainnya. Mereka tak ikut masuk dalam pertemuan yang hanya di hadiri para artis dan manajernya. Jakson berjanji akan menyelesaikan rapat itu dengan cepat, karena ia tak bisa meninggalkan Megan jauh dari pandangannya.
“Ya, ada apa?” balas Megan, ia tampak terkejut akan wanita itu yang mencarinya.
“Nona berdua ini, mari ikut saya! Saya mendapat perintah untuk mempersiapkan ruang tunggu yang terbaik untuk anda!” jelas wanita itu melayani.
“Kalau begitu baiklah, mari!” seru Nadia menyetujui, ia sudah tau akan hal ini karena Jakson yang memberi tahunya.
“Apa tidak papa?” tanya Megan ragu.
__ADS_1
“Tidak apa, ikut saja!” yakin Nadia.
Mereka berdua mengikutinya. Di salah satu lorong, Megan melihat Devan berjalan dari arah berlawanan. Megan kerap panik, ia benar tak percaya Devan ada di sini.
“Nadia, boleh pinjami aku selendang mu itu!” pinta Megan, menunjuk selendang yang melilit di leher Nadia.
“Untuk apa?” tanya Nada heran.
“Pinjami aku saja, hanya sebentar!” mohon Megan.
Nadia tak bisa menolak, ia melepas dan memberikan selendangnya itu. Dengan sigap, Megan memakai selendang itu layaknya sebuah jilbab, menutupi sedikit wajahnya agar tak terlihat oleh Devan.
“A ada apa Megan?” tanya Nadia lagi yang kian heran melihat tingkah Megan.
“Tidak ada apa-apa!” jelas Megan.
Langkah demi langkah, Mereka kian berpapasan, dan Megan masih menyembunyikan wajahnya di balik selendang itu.
Saat Mereka hampir saling menjauh “Tunggu nona!” seru Devan menghentikan mereka yang membuat Megan kerap terkejut, Megan harap-harap cemas barharap Devan tak mengenalinya.
To
Be
__ADS_1
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.