
Megan serasa terhipnotis, sosok yang di lihatnya sekarang tak lain adalah sang idola. Ia masih terkejut dan sesekali mengecek matanya berharap tak salah lihat.
“Be benar Alfin kan?” tanpa sadar kata itu terlontar dengan tidak sopan, walau memang ia masih ingin memastikan bahwa sosok ini memang Alfin idolanya.
Alfin menatap sinis, pertanyaan itu seolah mengejeknya “Lalu menurut mu siapa?” tanyanya pula dengan sinis.
“Be berarti benar Alfin..” jelas Megan yang kembali mengamati sosok itu, dan ucapannya di pertegas oleh Alfin dengan anggukan.
“Kenapa? apa setelah kau mengetahui aku ini Alfin, lalu kau ingin pergi setelah memakai kursiku!” ujar Alfin yang mulai mengintimidasi lantaran tak suka jika barang miliknya di gunakan orang lain, lebih tepatnya ia tak suka menggunakan barang yang sudah di gunakan atau di tempeli orang lain.
“Ti tidak, aku tidak akan pergi begitu saja!"
"Aku.. Aku ingin tanda tanganmu, kau tau.. aku ini adalah fans setia mu! Di panggung tadi aku menahan semua keinginanku untuk menyapa mu karena itu acara Jakson, tapi sekarang tidak lagi.. Bo bolehkah? bolehkah aku yang tidak sopan ini memeluk mu, ti ti tidak kau pasti tidak mau.. Aku hanya ingin tanda tanganmu, tanda tangan di sini!” jelas Megan panjang lebar, mengutarakan keinginannya yang terpendam beberapa saat lalu, kini perasaannya tengah terluapkan kala melihat sang idola.
Alfin sendiri hanya menatap heran pada sosok yang tengah meminta dengan bertingkah imut di depannya. Ia hanya terdiam menyimak permintaan itu, dan berpikir keras mengamati Megan dari kepala hingga kaki.
__ADS_1
“Wanita gila dari mana ini? Apa.. Apa benar aku punya fans seperti ini!” batin Alfin, ia ragu antara memberi tanda tangan di lengan baju Megan atau tidak.
Tapi tatapan imut Megan yang tengah menunggu tanda tangan berharga darinya membuat ia luluh, dan pada akhirnya ia memberikan satu tanda tangan besar di lengan baju itu walau ragu.
Megan bahagia, tubuhnya merespons kebahagiaannya. Ia melompat kegirangan serasa memenagkan lotre, kemudian berhenti saat keinginan berfoto terlintas bagai kilat di keningnya.
Dengan sigap, sebelum Alfin angkat suara, Megan mengambil ponselnya, ia menyeriangai bersama tangannya yang bergerak memperlihatkan ponselnya itu, tanda bahwa ia ingin mengambil foto dengan sang idola.
Alfin mengerti maksud dari seringai dan ponsel itu, tanpa pikir panjang lagi bersama desahan kasarnya ia mengangguk, mengiyakan permintaan kecil itu, permintaan yang tak lain biasa di minta oleh para penggemarnya.
Tanpa aba-aba Megan mendekat “1,2,3, ciis” memberi aba-aba untuk mengambil foto dengan berselfi, seraya mengambil kesempatan mendekati Alfin, walau hanya bau parfum Alfin yang dapat tercium dengan jarak sedekat itu.
“Sannnnngat puas.. Hasilnya juga sangat bagus!” balas Megan kegirangan.
“Jadi.. Aku harus memberimu hukuman apa karena sudah duduk di sana?” jelas Alfin seraya menunjuk kursi itu.
__ADS_1
“Hukuman? Hukuman apa, aku kan hanya duduk sebentar di sana!” balas Megan yang masih mengamati foto di ponselnya ini, cuek terhadap kursi itu yang serasa mengganggunya.
“Hanya duduk? Bukankah sama saja bahwa kau telah menggunakannya dan bersantai di sana!”
“A aku memang hanya duduk sebentar, tapi baiklah kalau itu untuk idolaku, aku tinggal membersihkannya kan?” jelas Megan yang mulai membersihkan kursi itu sebisanya, tanpa tau tatapan Alfin tengah mengintimidasi.
“Sudah.. sekarang bisa kau pakai lagi!” sambungnya yang mulai beranjak dari sana dengan perasaan senang.
“Pakai lagi? Bukankah ini sudah jadi bekas mu.. Kau bawa saja kursi itu!” tegas Alfin yang membuat Megan terkejut.
“Membawa? Kursi itu..” tunjuk Megan yang di balas anggukan sinis oleh Alfin. "A ada apa dengannya? apa dia sengaja menyusahkan ku karena tak sengaja duduk di sana?" sambungnya dalam hati.
To
Be
__ADS_1
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.