Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 79


__ADS_3

Kini Megan beralih, ia menatap Jakson yang terbaring di ruangan itu. Mengintip melalui kaca di balik pintu, walau pandangannya samar, ia tetap ingin melihat Jakson di sana.


“Megan!” seru Davin di kejauhan yang mengalihkan fokus Megan dari melihat Jakson.


Beberapa menit lalu, Megan menelepon Davin, tapi panggilannya tak terjawab, mungkin karena Davin sibuk. Megan membutuhkan seorang teman yang bisa menghiburnya saat ini.


“Jakson akan baik-baik saja! Kau jangan bersedih!” tutur Davin meyakinkan, karena raut wajah Megan terlihat sendu yang mulai mengganggunya.


“A apa dia akan baik seperti semula!” Megan menatap senduh, sudah berapa kali ia mendengar kata itu, tapi hatinya belum bisa meyakinkan keraguannya akan kondisi Jakson saat ini, kata itu seperti hanya terucap tapi tak bermanfaat, malah rasa bersalahnya lah yang kian memenuhi dirinya.


“Ya, dia akan baik-baik saja, percayalah!” yakin Davin.


“Tapi.. aku ingin melihat dia sampai sembuh, aku ingin merawatnya! Dia seperti ini karena ku kan?”


“Megan! Ini bukan salah mu, ini tidak di sengaja! saat ini situasinya tidak baik, Nadia dan Sam sudah memutuskan agar kita tak terlibat lagi, demi kebaikan mereka dan kebaikan untukmu juga, kita harus segera pergi!”


“Davin.. Aku tidak ingin pergi! Aku ingin menjaga Jakson!” seketika air mata Megan jatuh bersama rasa bersalahnya, ia sudah membulatkan tekat untuk menjaga Jakson tapi tampaknya situasinya tak memungkinkan.

__ADS_1


“Megan, Nadia dan Sam tidak akan mendengar perkataan kita saat ini! Lebih baik kita pergi saja dulu, turuti apa mau mereka, setelah beberapa hari baru bicarakan itu pada Nadia dan Sam!” saran Davin, ia juga tak suka jika Megan harus mengalami dilema seperti ini, apalagi terlibat lebih jauh dengan Jakson.


“Ba baiklah! Kita pergi dulu!” setuju Megan.


Megan mulai berpikir bahwa setelah pergi dari rumah Jakson, ia akan menjenguk Jakson nantinya. Tapi siapa sangka harapannya terkubur dalam-dalam.


*


*


Kali ini Megan termenung, ia menatap pemandangan di balik jendela yang membentang luas di hamparan bukit. Tapi pemandangan itu belum bisa menyejukkan hatinya yang masih gelisah.


Dan sudah satu minggu berlalu tapi tak ada kabar dari Jakson. Selama ini, Megan menghubungi Jim untuk mengetahui perkembangan keadaan Jakson. Tapi Jim juga sama sekali tak mengirim kabar, padahal Megan sudah cemas.


Setelah hari itu, Jakson di pindahkan di rumah sakit tempat Jim bekerja. Jim menyembunyikan perihal keadaan Jakson dari media publik dan wartawan.


Bahkan drama Jakson saat ini juga tertunda. Tak ada pemberitaan mengenai Jakson, melainkan mengenai Jacob. Mengan sudah tau bahwa Jacob sepupu Jakson, duganya Jacob sengaja membuat dirinya jadi topik pembicaraan agar akson terhindar dari media. Tapi sampai kapan Jakson harus sembunyi, apalagi yang menimpa Jakson saat ini karena Megan.

__ADS_1


Sesekali Megan menatap foto Jakson, ia begitu rindu, begitu hampa, begitu merasa bersalah atas semuanya. Bahkan ia belum meminta maaf atau berterima kasih. Megan beralih pada nomor ponsel Jakson, ingin ia menelpon tapi ragu.


“A apa lebih baik aku tak menghubunginya! Dia akan lebih baik kan tanpa aku di sana!”


“Dari awal aku memang bukan siapa-siapa di antara mereka!” gumam Megan.


“Ta tapi kenapa? Kenapa hatiku begitu sakit, kenapa aku masih peduli, dan kenapa aku selalu memikirkannya!”


Megan kembali meneteskan air mata, dirinya sekarang telah hilang arah. Ia tak tau harus melakukan apa agar pikiran dan jiwanya bisa sedikit tenang. menangis bahkan belum bisa meredakan keterpurukannya.


Di sela pintu Davin melihatnya, melihat Megan meneteskan air matanya lagi. Sudah berapakali ia mendapati Megan seperti ini, dan saat bertanya Megan hanya berkata baik-baik saja, tentu saja itu mengganggu Davin.


Davin mendesah kasar, sekarang ia ragu, haruskah menghampiri Megan atau tidak. Jakson sudah tersimpan dan tertanam di hati Megan, walau apa pun yang ia katakan nanti pastilah Megan hanya mengangguk dan kembali menyembunyikan lukanya.


To


Be

__ADS_1


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2