
Jessy mengambil kesempatan untuk berfoto dengan Jakson, kesempatan emas kapan lagi. Tapi di tengah asiknya mengambil foto, Jessy malah harus menghentikan kegiatannya lantaran ponselnya kian bergetar hebat.
“Sial, ada apa sih dengan bos gila ini, mengapa harus menelpon di jam begini! Apa tidak sadar ini sudah tengah malam!” decak Jessy dalam hati yang kian kesal.
Mau tak mau Jessy harus mengutamakan ponselnya terlebih dahulu, apalagi yang tengah memanggilnya ini adalah bos sangarnya. Perlahan ia beranjak dari tempatnya duduk.
“Kamu mau ke mana? Apa sudah puas berfoto dengan Jakson!” seru Davin.
“Mau menerima telpon! Oppa tunggu sebentar ya aku akan segera kembali!” jelas Jessy tersenyum lebar pada Jakson dan malah menatap masam pada Davin.
Tentu saja fokus tertuju pada Jessy hingga ia meninggalkan ruangan. Tapi tidak dengan Jakson, ia malah merasa lega atas kepergian Jessy yang membuatnya tertekan sedari tadi lantaran harus tersenyum paksa.
Setelah pintu tertua rapat, Jakson melirik Megan kemudian beralih menatap Jim yang duduk di sana. Ia memberi isyarat agar Jim dan Davin juga segera meninggalkan ruangan, memberi waktu agar ia bisa berdua dengan Megan.
Paham akan maksud temannya ini, Jim mendesa kasar. Mau tak mau ia harus pergi dan untuk itu ia juga harus membawa Davin bersamanya. Jim menjelaskan pada Davin melalui tatapan, dan ternyata Davin cepat tanggap akan lirikan-lirikan dari bahasa mata ini.
“Kau mau makan buah?” tanya Megan pada Jakson.
“Boleh!”
Megan beranjak dari duduknya, menghampiri buah dia atas meja, dan mendapati Jim bersama Davin yang ikut berdiri dan siap untuk segera pergi.
“Kalian mau ke mana?” tanya Megan menatap heran.
Mendengar itu, Jakson membulatkan mata pada dua orang ini. Tentu saja Jim dan Davin akan mencari alasan untuk ini.
“Aku.. Ingin ke wc!” jelas Davin agak canggung.
Sekarang Megan beralih menatap Jim, menunggu jawaban “Aku.. Aku masih harus memeriksa pasien!”
“Kalau begitu kalian mengobrol lah, kami tak akan mengganggu!” cepat-cepat Jim beranjak dari sana bersama Davin walau terasa canggung akan tatapan Megan yang tengah menyimak.
__ADS_1
“Pasien? Di jam segini? Padahal ini sudah hampir tengah malam!”
Megan kembali duduk di sisi ranjang kemudian mengupaskan beberapa buah untuk Jakson. Hening mulai melanda, tak satu pun dari mereka yang angkat suara. Tentu hal ini membuat diantaranya merasa canggung.
“Situasi macam apa ini! Tidak bisa begini terus, aku harus bicara!” batin Jakson.
“Megan, Aku..”
“Maaf..” sela Megan, membuat Jakson menatap heran.
“Maaf untuk apa?”
“Aku, seharian mengabaikan panggilan mu! Dan Maaf telah membuat mu menderita hingga harus masuk ke rumah sakit, aku malah pergi tanpa pamit atau melihat mu sadar terlebih dahulu!” seketika Megan mengungkapkan kegundahan yang ia pendam.
“Ini terjadi karena salah ku!”
“Diam..” tegas Jakson.
“Megan, ini bukan salah mu! Ku mohon jangan salah kan dirimu atas apa yang menimpa ku! Aku akan baik-baik saja jika kau juga baik-baik saja!”
“Jakson, sekali lagi aku minta maaf! Aku..”
“Aku bilang diam! Aku tidak ingin mendengar kata maaf lagi!”
Suasana mulai berubah. Tadinya Jakson ingin meminta Megan untuk tetap tinggal bersamanya tapi Megan mendahuluinya angkat suara.
“Kalau begitu terima kasih!”
“Untuk apa?"
“Semuanya! Mulai dari menolong ku hingga memberiku tempat tinggal!”
__ADS_1
“Tentu aku akan melakukannya karena aku menyukai mu!” jelas Jakson tanpa sadar.
Mendengar itu, Megan terkejut hebat bersama debarannya. Ia menatap lekas manik mata Jakson yang membuatnya terhipnotis saat ini.
“Ka kau bilang apa tadi!” gumam Megan kemudian tersadar bahwa saat ini ia begitu dekat dengan Jakson.
“Tidak-tidak, maksudku aku ingin keluar!”
Megan mulai salah tingkah, ia membenarkan diri bahwa ia salah dengar atas ucapan Jakson barusan. Tapi kalau pun itu benar, ia hanya ingin keluar menghirup udara segar karena dirinya makin tak karuan.
Megan berdiri dan siap untuk pergi tapi Jakson menghentikannya. Ia mulai gugup, saat ini Jakson tengah memegang tangannya.
“Bi bisakah kau tetap di sisi ku?” tutur Jakson.
“Aku.. Ini sudah larut, Jessy dan Davin pasti menunggu ku!” alasan Megan, ingin ia cepat pergi karena dirinya makin merona dan berdebar hebat.
“Bukan itu jawaban yang ku mau!”
“Lalu..” Megan mulai bingung, ia berbalik dan menatap Jakson yang tertunduk dalam.
“Aku menginginkan mu!”
Megan terkejut mendengarnya, kemudian Jakson menariknya pelan dan mendaratkan satu kecupan di bibir mungil itu.
“Aku suka pada mu, Megan!” Jakson tersenyum kecil yang mana membuat Megan membeku akan tindakannya ini.
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.