
Megan masih tak ingin menanggapi panggilan Jakson. Kembali ia memutuskan panggilan dan melanjutkan kegiatannya mengamati foto hasil jepretannya. Dan sekali lagi Jakson memanggil, menggetarkan ponsel yang sedari tadi di genggam Megan.
“Aaakk.. Apa di sudah gila!” kesal Megan dan dengan sengaja mengangkat panggilan itu bersama luapan emosi.
“Halo, ada apa kau selalu menghubungiku!” Megan memulai dengan nada tinggi, meluapkan kesalnya pada sosok di seberang telepon.
Tentu saja, dibalik ponsel itu Jakson terkejut. Entah hal apa sehingga Megan berani membentaknya, pikirnya.
“Apa? aku hanya ingin bicara denganmu, ingin mendengar suaramu karena sekarang aku sangat bosan!”
“Bo bosan? Kau bosan jadi menelpon ku berkali-kali?”
“Itu karena kau tidak mengangkat panggilan ku! Mau bagaimana lagi!”
“Kau baik-baik saja?” sambung Jakson yang sekarang malah bertanya kabar pada Megan, padahal seharusnya Meganlah yang menanyakan hal itu padanya.
“Bicaralah, aku akan mendengarkan mu!”
“A aku baik-baik saja!” ujar Megan, “Bagaimana dengan mu?” tanyanya pula.
Selama ini Megan juga ingin mendengar suara Jakson, suara sang penyelamatnya. Ingin ia menjenguk Jakson di sana, tapi tak berani memperlihatkan diri pada Nadia dan Sam yang jelas sudah mengusirnya.
“Aku tidak baik, itu semua karena kau?”
“A aku? Maaf, itu semua memang salah ku!” Megan merasa bersalah, bersalah atas kejadian di lapangan waktu itu.
“Yah, itu salah mu karena pergi tanpa pamit padaku!” tegas Jakson dengan nada kesal.
__ADS_1
Megan mengerutkan dahi keheranan “Tu tunggu, kau marah karena aku pergi tanpa pamit?”
“Hmm, apa ada hal lain yang tidak ku ketahui agar aku marah?”
“Bu bukan begitu, maksudku..” Megan kehabisan kata, pikirnya Jakson membencinya, “Apa Nadia dan Sam tidak menceritakan semuanya pada Jakson!” batin Megan berpikir keras.
“Aku merindu kan mu!” tutur Jakson yang berhasil membuat Megan terdiam, hal itulah yang sedari tadi ingin ia ucapkan.
“Bisakah kau datang menjengukku?” seketika suaranya terdengar sendu membawa harapan, berharap Megan mendatanginya.
“Aku, aku tidak bisa, maaf!” Megan menutup panggilan seketika, dan kembali bersedih di kursi itu, merenungkan dirinya yang kian gundah.
Megan menatap kosong layar ponselnya. Pasalnya Jakson berhasil membuatnya makin gelisah bersama debarannya yang samar.
Kala mendengar suara Jakson, terlebih saat Jakson mengatakan rindu, Membuat Megan bagai berhenti bernafas. Kata rindu, kata yang sama, sama seperti yang ia rasakan, rindu pada Jakson yang jauh dari pandangannya.
Megan tersadar dari pikirannya saat seorang anak mendekatinya. Anak perempuan yang begitu imut, berusaha duduk di atas kursi menikmati es krim yang baru saja ia beli tak jauh dari sana.
Megan mengamati anak itu sambil tersenyum lucu melihat tingkah imutnya.
“Kakak tidak mau es krim?” tanya anak itu dengan nada polos, memberikan kesan lebih imut kala mendengar suaranya.
Megan tersenyum kemudian mengusap kepala gadis kecil itu, “Apa es krimnya enak?” tanya Megan yang di balas anggukan.
Megan kembali tersenyum melihat tingkahnya, “Kalau begitu di mana kakak bisa membeli es krim seenak ini?”
“Di sana..” tunjuknya pada salah satu penjual es krim yang ramai di sana.
__ADS_1
“Terima kasih, nanti kakak akan mencobanya! Tapi, di mana orang tua mu?” tanya Megan lagi yang mulai mengamati sekeliling, berharap orang tua gadis itu juga mendekat.
“Ayah dan ibu sedang berkeliling bersama Naya!” tuturnya.
“Naya? Siapa Naya?”
“Dia adikku!”
“Lalu, mengapa kau tidak ikut bersama mereka?”
“Mama bilang, Naya tidak suka denganku, dia selalu menangis kalau bersama ku, jadi papa memberi ku uang dan menyuruh ku menunggu di sini!” jelas anak itu.
Mendengar penuturan itu membuat Megan bersedih, entah alasan tak masuk akal apa yang orang tuanya katakan sehingga begitu nekat membiarkan anaknya menunggu sendiri di bangku ini. Terlebih lagi taman bermain ini begitu ramai, bagaimana jika seseorang membawa atau bahkan menculik gadis kecil malang ini, pikir Megan.
“Kalau begitu biar kakak temani kamu di sini!” Megan mengambil keputusan, ia juga tengah menunggu Jessy dan Davin yang masih menikmati wahana di sana, jadi tidak ada alasan untuknya meninggalkan bangku ini, setidaknya sampai orang tua anak ini datang.
“Kakak tidak punya kerjaan?” tanya anak itu.
“Bi bisa di bilang begitu!” Megan sedikit berat menjawabnya, “Siapa namamu?” sambungnya bertanya.
“Melly!”
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.