
Mereka akhirnya tiba di lapangan. Selama itu, Jakson juga menikmati pagi ini. Penyamarannya tak terbongkar, tak pula merasa terganggu. Megan mengambil tempat untuk duduk di barisan kursi pada lapangan basket.
Tampak ramai di sana, sementara Davin dan Sam juga ikut berdiskusi bersama para pemain basket di pinggir lapangan itu. Sepertinya mereka akan bertanding, dan benar mereka akan memulainya.
Peluit berbunyi, tanda para pemain memasuki lapangan. Barisan pelari pagi juga ikut mengambil tempat untuk menonton mereka. Jakson juga duduk berdampingan degan Megan menanti aksi Davin dan Sam.
“Sudah lama aku tidak menonton pertandingan basket, apa lagi menonton Davin!” tutur Megan, setiap kali melihat penampilan basket Davin, selalu membuatnya terkagum.
“Dia jago main basket?” tanya Jakson yang seolah meremehkan Davin.
“Bukan jago lagi, dia adalah master dari master basket!” puji Megan.
“Cihh.. Pujian mu berlebihan!”
“Iya sih, tapi menurutku itu sesuai dengan kemampuannya! di SMA dulu dia adalah ketua klub basket, aku saja sangat menyukai bagaimana dia mendribel bola! Dan.. Aku bangga menjadi muridnya! Dia yang terbaik!” tambah Megan yang mulai bersemangat melihat aksi Davin, tanpa sadar membuat Jakson makin kesal.
“Hmm..” ujar Jakson yang pasrah seraya mengamati tiap barisan penonton yang mulai riuh memberi sorakan untuk para pemain di sana.
__ADS_1
“Di sini sangat berisik!” decaknya, sekarang suasana hatinya makin buruk akan teriakan penonton ini, padahal permainan basket itu hanya di lakukan untuk bersenang-senang.
Tatapan Jakson langsung tertuju pada sosok mencurigakan di antara barisan penonton. Sudah ia duga, seseorang tengah mengikutinya, tepatnya mengikuti Megan. Berusaha Jakson tak menghiraukan, bersikap netral seolah tak melihat orang itu. Tapi sosok itu malah mendekat, dan kini duduk tepat di belakang Megan. Megan sendiri tidak menyadarinya, ia hanya menikmati pertunjukan para pemain basket di lapangan.
Jakson terus melirik dan mengawasi. Ia takut jikalau orang ini berbuat hal nekat dan melukai seseorang. Dan di waktu yang bersamaan saat Davin mencetak angkat, orang itu mengeluarkan sebuah pisau kecil dari sakunya.
Pelan-pelan pisau itu akan mendarat di tubuh Megan. Tentu saja Jakson tak tinggal diam, cepat-cepat ia meraih Megan sebelum orang itu mendaratkan pisaunya.
Bagai adegan romansa dalam drama, Megan terkejut lantaran Jakson berani menarik dirinya hingga begitu dekat. Kesenangan dan fokusnya sekarang adalah detak jantung Jakson yang bisa ia dengar begitu jelas lantaran kepalanya mendarat di dada bidang itu. Bersama dengan detak jantung Jakson, Megan juga makin berdebar. Sejenak ia terdiam.
Buggg..
“Aaakk..” Jakson meringis sakit dengan suara tertahan, pisau itu sukses mengenainya.
Megan terkejut kala mendengar rintihan lemah Jakson. Ia mengangkat kepala menatap lekat wajah Jakson sekarang ini. Megan keheranan dan semakin terkeju saat berbalik, karena tatapannya langsung tertuju pada pisau yang tertancap di lengan Jakson, hal itu sukses membuatnya makin panik.
Sosok tadi secepatnya meninggalkan tempat tanpa mencabut terlebih dahulu pisau di lengan Jakson. Ia juga panik lantaran salah sasaran. Bukannya melukai Megan malah melukai Jakson. Nasibnya juga di pertaruhkan karena gagal menjalankan misi.
__ADS_1
Cepat-cepat penjahat itu beranjak, walau banyak orang yang mengejarnya. Para penonton yang duduk di sana juga ikut mengejar, dan sebagian membantu Megan menjaga Jakson. Salah seorang yang ada di sana segera menelepon ambulans.
Buggg..
Sebelum penjahat itu makin menjauh, bola basket sukses mendarat di kepalanya yang membuat penjahat itu terjatuh. Bola yang baru saja di lempar Davin dengan segenap tenaganya.
“Hmm.. Kau pikir aku hanya bermain-main! Aku datang untukmu, dan kau berani menyakiti seseorang di sini!” seringai Davin yang bangga, kemudian mengejar penjahat itu yang masih saja berusaha kabur walau sudah terluka terkena lemparan bola basket tadi.
Tadinya Sam ingin mengejar penjahat itu bersama Davin tapi niatnya ia urungkan lantaran melihat Jakson di sana yang tengah kesakitan dan mulai di kerumuni banyak orang.
“Jakson.. Apa kau bisa mendengarku! Bertahanlah, ambulans akan tiba!” ujar Megan yang kian panik, ragu mencabut pisau kecil itu dari tubuh Jakson yang sudah banyak mengeluarkan darah.
“Jakson? Maksud Anda dia Jakson willy, aktor terkenal itu!” sahut salah seorang yang membuat Megan makin panik lantaran baru saja menyebut nama yang begitu terkenal di kota ini.
To
Be
__ADS_1
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.