
“Astaga.. Aku lupa! Alfin tidak pernah menggunakan bahan bekas atau bahkan pemberian orang lain!” batin Megan yang mulai ingat akan prinsip Alfin.
“Ma maksudku.. I itu bukan bekas ku, dan jangan berpikir itu bekasku, itu jelaslah punyamu.. aku hanya tak sengaja duduk di sana.. lalu, tadi aku juga sudah menghapus jejakku, Jadi itu milikmu sekarang!” jelas Megan yang mulai gugup entah apa yang ia katakan sekarang ini, yang jelas biasa membuat Alfin tak berpikir bahwa kursi itu adalah bekasnya.
“Oh.. Begitu! memang benarkan kursi ini milikku dari awal!” balasnya dengan ekspresi datar kemudian mulai duduk menyamankan diri di sana.
"Ya.. dari awal itu memang kursi mu!" tambah Megan.
“Haa.. Seperti rumornya, dia memang mirip anak kecil!” sambungnya dalam hati, tertawa bangga bersama tatapan kagumnya akan sosok yang di tatapnya saat ini.
“Apa? Kenapa menatapmu begitu!” tanya Alfin yang sadar akan tatapan gila itu.
“Tidak ada, aku.. aku hanya ingin pelukan perpisahan!” tutur Megan yang langsung saja memeluk sosok imut yang tengah terdiam duduk di sofa itu.
Jelaslah Alfin terkejut, sungguh tidak bisa di percaya bahwa ia tengah di peluk saat ini. Dengan sigap Megan melepas pelukannya walau masih ingin, ia berlalu secepat kilat dari sana, sadar kalau Alfin akan marah atas ketidak sopanannya ini.
"Maaf.. aku tidak bisa menahan diri! Sampai bertemu di lain waktu!” teriak Megan di sela larinya seraya menyempatkan tuk mengirim lambaian pada Alfin di sana.
__ADS_1
Alfin hanya menatap tajam, ia masih terdiam hingga Megan tak terlihat lagi. Ingin ia marah tapi sosok itu sudah pergi, ingin ia berteriak tapi takut seseorang mendengarnya, terpaksa rasa kesalnya ia pendam dan perlahan keluar bersama desahan beratnya menerima tindakan Megan yang semena-mena.
“Apa dia melakukan itu seperti dalam drama!” gumamnya, ia ingat akan salah satu drama yang di bintanginya, dan pelukan perpisahan seperti yang di lakukan Megan tadi sangat populer dalam drama itu.
“Haih.. Gadis yang aneh!” sambungnya mendesah kasar bersama senyum tipisnya menganggap sosok yang di temuinya ini cukup lucu dan unik.
Sementara jauh di sana, Megan merasa senang dan riang gembira. Saat ini ia bermaksud kembali ke kamarnya, mengingat malam sudah sepertiga dan ia juga sudah mengantuk.
Di dalam mobil lamborghini berwarna biru pula, Devan masih terbayang akan wajah Megan. Setelah selesai dari pertemuannya dengan Jakson, ia berusaha mencari Megan tapi tak di temukan.
“Kakak sudahlah.. Lupakan saja kak Megan! Dia sudah memulai hidup baru sekarang ini!” saran Devina yang sedari tadi mengamati Devan yang tampak gusar, penuturannya ini hanya tebakannya.
"Ternyata benar kakak memikirkan kak Megan!"
“Haih.. Dari awal ini pilihan kakak sendiri, jadi jalani dan tanggung akibatnya sendiri! Dan.. Aku sarankan agar kakak tidak perlu mengganggu kak Megan lagi, dia sudah berusaha keluar dari masalah ini, sekarang dia sudah bisa menjalani hidupnya, jangan bawa di kembali ke masa lalunya!” jelas Devina seraya menatap Karin dari arah pintu yang masih saja sibuk menerima telepon.
“Aku.. aku akan berusaha untuk tak menemuinya, tapi aku ingin melindunginya, aku ingin tau mengapa dia bisa bersama Jakson! Aku juga tidak punya keberanian untuk bertanya lebih jauh tentang Megan pada Jakson tadi!” tegasnya.
__ADS_1
“Terserah kakak saja, aku sudah mengingatkan!” pasrah Devina.
Di depan pintu pula, Karin kerap menelpon seorang suruhannya untuk membuntuti Megan agar tau informasi setiap waktu dari Megan.
“Jangan lupa, ikuti dia dan terus awasi, akan ku naikkan imbalannya jika kau berhasil melukainya, mengerti!”
Tut.. Tut..
Karin matikan ponsel saat selesai memberi perintah. Ia merasa cemas lantaran Megan terus saja menghantui dan muncul di depan Devan. Setelah selesai menelepon ia mendapati tatapan Devan dan Devina yang tengah menunggunya di dalam mobil. Ia mendekat dan duduk di kursi depan tepat di samping Devan mengemudi.
“Maaf sudah membuat kalian menunggu!” ujarnya tersenyum polos.
“Tidak apa, kalau begitu kita pulang?” jelas Devan yang di balas anggukan oleh sang istri, dan dengan anggukan itu ia segera melajukan mobil menuju tujuan.
To
Be
__ADS_1
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.