Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 12


__ADS_3

“Haiihh, sungguh gadis malang!” gumam Jakson saat berada di kamarnya.


“Jim, berapa lama lagi kau akan sampai, jangan lupa belikan sekotak obat luka” pesan suara yang ia kirim pada sosok yang di maksud, dirinya kerap peduli pada Megan yang terluka.


Drttt... Drtt...


“Suara apa itu!” ucapnya terkejut akan suara getaran ponsel di atas meja tempat ia berdiri sekarang.


“Haahh, ternyata ponsel sialan ini, tapi, polisi! Mengapa polisi harus menelpon dari nomor ini, apa janga- jangan wanita itu seorang buronan? Tidak mungkin!” gumamnya seraya meraih ponsel itu, antara ragu dan penasaran untuk mengangkat panggilan.


“Halo, selamat pagi, apa benar ini nomor ponsel saudari Megan?” ucap seseorang memulai pembicaraan.


“Ya benar, saya walinya ada apa pak?” balas Jakson agak canggung.


“Apa! Jadi begitu, saya mengerti.. bapak bisa datang ke alamat yang saya kirim” jelas Jakson saat beberapa menit dirinya berbincang singkat lewat telepon.


“Baiklah, saya tunggu kedatangan bapak” ucap Jakson mengakhiri.


Tampak ia tertegun dengan wajah terkejut. Dirinya seolah tak percaya pada apa yang baru saja di dengarnya dari kantor polisi.


“Jakson, Jim datang!” teriak Jasmine dari arah ruang tamu.


Jakson mendekat, dirinya juga telah mengganti pakaian, raut wajahnya tampak tak bersemangat.

__ADS_1


“Jakson, jelaskan pada mama apa yang terjadi di sini?” tanyanya kerap penasaran apa hubungan Jim dengan Megan, dan mengapa harus tinggal di kediaman besar ini bersama Jakson yang jelas-jelas tak suka dengan wanita asing.


“Apa maksud mama!” tanya Jakson pula kian duduk tepat di depan Megan.


“Siapa gadis ini, dari mana asalnya, dan apa hubungan kalian?” jelasnya dengan semburan pertanyaan di pikirannya.


Sontak Jakson dan Sam saling mengirim tatapan isyarat, belum sempat terpikir olehnya untuk memperkenalkan Megan pada mamanya, lebih tak mungkin lagi jika ia bercerita tentang kecelakaan itu.


“Itu, Megan ini sepupunya Nadia! Dia lagi sakit, beberapa waktu lalu dia kecelakaan, makanya Nadia nitip Megan di sini biar Jim yang mengobatinya!” ujarnya kerap mencari alasan dengan tatapan canggung dan senyum polos berharap Jasmine percaya.


“Terus Nadianya mana? Ngga mungkin kan dia mempercayakan kalian menjaganya!” tanyanya lagi dengan insting detektifnya kian aktif menginterogasi.


“Tante, Nadia ada urusan di luar, dia nitip sepupunya ini sama aku!” seru Jim menjelaskan dengan agak canggung pula mencari alasan.


“Oh seperti itu, tapi ada bagusnya juga nak Megan di sini!” jelasnya yang seolah tak masalah jika Megan tinggal serumah dengan Jakson, harapnya Jakson akan betah dengan gadis ini sehingga bisa sedikit mengurangi phobia gilanya.


“Maaf, tapi.. saya tidak kenal dengan Nadia!” jelas Megan dengan polos berkata jujur yang tampak bingung.


Krik.. Krik...


Sontak mama, Jakson, Jim, dan Julia tersentak heran akan penuturan itu. Jelaslah yang di katakannya berbeda dengan penjelasan yang baru saja Jakson dan Jim tuturkan.


“Gadis bodoh, kenapa tak diam saja sih!” gerutu Jakson dalam hati kemudian menatap Jim dengan memberi isyarat.

__ADS_1


Tampak mamanya kerap menatap dua pemuda itu, pikirnya mereka menyembunyikan sesuatu.


“Haha, jangan hiraukan apa yang barusan dia katakan ma, dia ini mengalami amnesia, beberapa hari pasti akan sembuh, benarkan Jim!” saru Jakson sebelum mama mengucap satu kata interogasi lagi. Jakson kerap tersenyum polos menatap Jim agar mengiyakan ucapannya itu.


“Benarkah seperti itu?” tanya Jasmine lagi kerap menunggu kepastian dari bibir Jim.


“Be be be, benar tante, dia masih sakit, makanya aku datang memeriksanya lagi” seru Jim membenarkan, dirinya sudah terlibat dalam kebohongan besar Jakson, mau bagai mana lagi, situasi memaksanya.


“Sungguh gadis malang, kau pasti sudah banyak menderita!” seru Jasmine kerap peduli seraya mengusap lembut rambut berantakan Megan.


“Kau mau makan apa, aku banyak membawa makanan dari rumah!” sambungnya yang kerap membuka beberapa kotak makanan bawaannya kemudian di sodorkan pada Megan.


Tampak Julia juga dengan sigap mengambil posisi di samping Megan, menyingkirkan Jim yang sedari tadi duduk di sana.


“Kak Megan, luka kakak juga harus di obati” jelas Julia yang kerap membuka obat bawaan Jim, ia dengan lembut mengobati luka di sana, menggantikan peran Jim yang seharusnya melakukan itu.


Jakson mendesah lemah atas perhatian mama dan adiknya pada Megan yang jelas baru mereka kenal. Ia serasa di asingkan tak di hiraukan lagi di sana.


Dirinya hanya kerap menatap Jim, saling mengirim tatapan pertanyaan seolah sedang berkomunikasi.


To


Be

__ADS_1


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2