Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 53


__ADS_3

“Lelaki ini siapa?” lagi-lagi Jasmine bertanya, ia kian penasaran siapa gerangan pemuda yang dekat dengan Megan dalam foto ini.


“A.. Dia? Mama juga tau, dia Devan!” tutur Jakson polos, mengingat perkataan Sam sebelumnya yang mengenalkan Devan saat dia bertanya seperti Jasmine sekarang.


“Devan? Devan ini pacar Megan atau..?”


“Dia hanya mantan ma!” sela Jakson dengan sigap mengejutkan Jasmine yang belum selesai dari perkataannya.


Jakson meraih ponsel itu, ia menatap foto di layar itu kemudian mematikan ponsel dan melemparnya asal di bidang empuknya. Tentu saja foto itu menyulut kekesalannya, lantaran walpaper itu masih saja seperti sebelumnya, padahal Megan dan Devan sekarang sudah atak ada hubungan apa-apa.


Ingin sekali Jakson mengganti dengan fotonya sendiri di sana. Tapi di urungkan, takut nantinya Megan akan berpikir bahwa dia sudah kelewatan. Sedari tadi pula, Jasmine menatap ke arahnya, ia tau bahwa Jakson kesal karena foto sepele itu.


“Tunggu ... lelaki itu bukan Devan yang mama kenal kan?” tutur Jasmine menebak, yang kerap mengamati foto di layar itu lagi, walau setengah wajahnya tertutup masker tapi tetap saja Jasmine mengenal tatapan mata Devan yang sayu.


“Ya, dia Memang Devan yang mama kenal!” jelas Jakson ketus.


"Hebat! Megan bisa mendapatkan lelaki sempurna seperti Devan sebelumnya!” tutur Jasmine yang malah merasa kagum, bisanya seorang lelaki dari keluarga kaya bersama seorang gadis biasa yang entah bagaimana latar belakangnya, pikirnya.


“Mama ini! Devan dan Megan sudah lama putus hubungan!" jelas Jakson lagi.

__ADS_1


"Dan lagi.. mama juga sudah menghadiri pernikahan Devan sebelumnya!” sambungnya kesal lantaran ponsel itu masih saja menampilkan foto yang tak ingin di lihatnya, di tambah dengan ucapan kagum mamanya, yang serasa menambah garam di lukanya.


Jasmine makin terkejut. Siapa yang menyangka bahwa Devan yang sekarang ini sudah jadi CEO dari Jione grup, ternyata pernah menjalin hubungan dengan Megan sang gadis biasa.


"Jika media tau hal ini, maka Devan akan jadi perbincangan nomor satu! Untung saja Devan sudah menikah! Jika tidak, dia akan mencari Megan lagi.. lalu, anakku yang malang ini..” gumam Jasmine memikirkannya, jika hal itu terjadi maka saingan Jakson tak lain adalah mantan kekasih Megan.


“Mama! Apa yang mama pikirkan?” seru Jakson yang mendengar samar gumamam itu, mengagetkan Jasmine dari pikiran negatifnya.


“Ti tidak ada, mama hanya berpikir bahwa Megan sangat di sukai para lelaki, kalau tidak mana mungkin Devan akan tertarik!”


“Dan lagi.. sepertinya teman Megan itu juga sedang menyimpan rasa pada Megan! Kalau tidak cepat, maka kamu akan tertinggal!” ujar Jasmine kian mendekat di telinga Jakson yang membuat Jakson membulatkan mata terkejut.


“Sudahlah, mama sudah tau! Kamu tidak perlu malu begitu, mama mendukung mu!” tutur Jasmine dengan seringai kemudian tertawa kecil menganggap tingkah anaknya sekarang sangat lucu.


“Cukup ma! Aku tidak ingin mendengar itu!” jelas Jakson seraya menarik nafas dalam-dalam lantaran sekarang dirinya sudah seperti bawang merah.


"Ba gaimana mama bisa menebak sembarangan! aku hanya peduli pada Megan bukan berarti aku menyukainya!" batin Jakson kian berdebar hebat.


“Hmm.. Baiklah-baiklah! Mama tidak akan melakukannya lagi!” tutur Jasmine yang mulai beranjak dari sana.

__ADS_1


Jasmine menatap Jakson yang terus melihat sinis padanya, kemudian beranjak dari kamar itu. Jasmine ingin memulai rencananya agar Megan masih tetap tinggal di sini lebih lama, setidaknya sampai Jakson sudah mengakui bahwa ia menyukai Megan.


“Mama akan pulang?” tanya Jakson.


“Hmm.. Mama tidak bisa belama-lama di sini, kau tau sendiri papa mu bagaimana?” ujar Jasmine yang perlahan menutup pintu.


Jakson mendesah kasar, lantaran tau akan situasinya sekarang. Walau bagaimana pun, Jasmine sudah bersusah paya mengunjunginya, meski ayahnya melarang.


Ya, karena perang dingin yang sudah ia jalankan dengan ayahnya selama lebih dari 5 tahun. Kala itu, pertengkaran hebat terjadi, pertama kalinya Jakson meminta untuk memilih jalannya sendiri tapi malah mendapat tamparan dari papa yang di banggakannya.


Saat itulah Jakson kesal, dan buah dari amarahnya kala itu adalah meninggalkan istana besar yang sudah menyimpan banyak kenangannya sedari kecil.


Begitu juga dengan Jonatan, selama ini tidak pernah ia bertemu dengan Jakson. Sikap Jakson tak lain di turunkah darinya. Ia juga sudah mengatur semua jalan sukses untuk anak-anaknya, tapi Jakson sama sekali tak menginginkan hal itu.


To


Be


Continue

__ADS_1


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2