Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 46


__ADS_3

“Sekarang ini, dia? Apa benar akan menciumku hanya karena adegan ini?” batin Megan yang kian gugup saat menunggu bagian Jakson selesai di ucapkan.


Saat adegan di mulai ia sudah tersulut kegugupan, lantaran pikirannya tak bisa membayangkan lebih jauh lagi tentang adegan yang sudah pasti itu.


“A apa sekarang?” batin Jakson yang gugup melakukannya, walau ini hanyalah akting tapi tetap saja ini ciuman pertamanya.


Mereka hanya berdua dan Jakson sudah berkeringat hebat bersama kegugupannya, apalagi kalau harus beradu akting dengan lawan mainnya nanti di depan kamera yang tentu saja banyak mata menyaksikannya.


Selesai sudah dialog mereka ucapkan, dan sekarang ketahap yang serius. Walau tampak gugup, Jakson memberanikan diri tuk mendekat. Terus mendekat, dan semakin dekat. Jelas terlihat di depan matanya, Megan juga semakin gugup tak keruan.


Entah yang mereka lakukan ini benar atau tidak, yang jelas adegan ini jelas sekali memberi keduanya ketakutan tersendiri.


“Aaakkk.. Aku tidak bisa!” batin Jakson berteriak.


Cup ...


Jakson sukses mendaratkan satu ciuman di pipi Megan, cepat-cepat Jakson menjauh, dan dengan sigap ia berlalu meninggalkan Megan yang masih memejamkan mata. Megan terdiam kaku, rasanya jantungnya baru saja berhenti bersama nafsanya yang tertahan.


Di bukanya mata tapi terkejut karena tak mendapati Jakson di sana. Bahkan suara langkah kaki Jakson sama sekali tak terdengar di telinganya karena degupannya yang bergema.


Pintu terbuka lebar, Megan hanya menatap heran, “A apa yang terjadi! A apa Jakson sudah pergi?” gumamnya, pikirnya Jakson kabur setelah menciumnya di pipi.

__ADS_1


Cepat-cepat Megan menutup pintu. Saat setelah menutupnya, ia bersandar di sana, dan perlahan berjongkok.


“Di dia, dia baru saja menciumku!” gumamnya merona yang kian salah tingkah, meraba pipinya meraskaan bekas Jakson di sana.


Dengan sigap, Megan berlaju dan langsung menyelusup masuk dalam balutan selimut di bidang empuknya. Ia sangat malu, juga sangat berdebar. Sesekali ia tersenyum mendapati dirinya yang begitu bodoh.


Entah mengapa ia tak menghindar dari kecupan tadi atau bahkan merasa marah. Mungkin karena ketampanan Jakson yang memikat sehingga ia merelakan diri untuk itu. Tapi pikiran itu tentu saja jauh dari bayangannya.


Sementara Jakson sudah terbaring di atas bidang empuknya. Jantungnya masih berdebar hebat. Tanpa memberi tahu Megan, ia kabur dari sana. Sudah mencium langsung pergi, sungguh tak bertanggung jawab. Bagaimana bisa, Jakson juga sangat gugup tak berani menatap Megan. Sungguh salah, seharusnya ia tak menjadikan Megan teman latihannya, dan hal ini tak akan terjadi.


“Me megan pasti mengira aku aneh! Mengapa aku pergi begitu saja?” gumamnya.


“Ta tapi.. Jika aku terus di sana, entah apa yang akan ku katakan padanya! ini pertama kalinya aku..” sambungnya kian merona.


“Aakkkk.. Seharusnya aku tidak menyuruhnya jadi lawan mainku!” gerutunya.


Jakson masih gelisah memikirkan perbuatannya tadi. Berusaha ia memejamkan mata agar terlelap, tapi bayangan Megan terus menyambar di depan matanya.


Jakson mendesah kasar, sekali lagi ia memperbaiki posisi tidurnya lalu terlelap, dan lagi-lagi, sosok Megan masih terbayang di sana.


“Aaakk.. Sial! Aku tidak bisa tidur!” decaknya seraya bangun dari baringnya, mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan sedari tadi.

__ADS_1


Dengan kasar Jakson menyambar sebotol air di atas meja tepat di sampingnya kemudian meneguknya dengan kasar pula. Nafasnya tersengal saat setelah meneguk habis air itu.


Setelah merasa baikkan, Jakson kembali membaringkan tubuhnya, memaksa matanya terpejam walau bayangan Megan terus terngiang di depan matanya.


Jakson tak peduli lagi, ia berusaha terpejam dengan bantal menimbun kepalanya, memaksanya tak memikirkan Megan lagi.


Jam kian bergema, malam juga semakin larut, gelap melanda bersama sunyi. Tampak hening rumah besar itu, begitu pun di setiap kamar, tentu saja penghuninya sudah terlelap di dunia mimpi.


Kring ... Kring ...


Suara alarm bergema, tanda pagi sudah tiba. Dengan kasar Jakson meriahnya dan mematikan alarm itu yang sungguh mengganggu. Jakson duduk dari baringnya, matanya sebam, wajahnya suntuk bersama tampangnya yang tak karuan.


Ya, semalaman ia tidak bisa tidur. Sampai sekarang Megan masih memenuhi otak dan matanya. Sungguh nasib cinta yang ironis. Bahkan seorang Jakson bisa memikirkan seorang gadis sampai-sampai tidak bisa tidur seperti ini.


“Apa aku sudah gila! Mengapa? Mengapa dia selalu saja ada di mana-mana! Sepertinya aku harus meminta Jim memeriksaku!” gumamnya lemah tak bersemangat.


“Aaakk.. Ada apa ini, kenapa perutku terasa sakit!” sambungnya yang kerap menyentuh perut ratanya, merasakan sakit yang menusuk di sana.


To


Be

__ADS_1


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2