Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 63


__ADS_3

Megan masih menatap lekas foto Jakson dan Justin sambil menyusuri lorong yang sunyi ke arah panggung dan memenuhi tugasnya.


Ia terkesima, terkesima pada rupa di balik layar yang mirip Jakson ini. Memang benar bahwa mereka begitu mirip, hanya saja karakter dan prinsip mereka sangat berbeda. Semua orang yang melihat ini juga pasti beranggapan bahwa Jakson dan Justin saudara kembar, padahal perbedaan usia mereka berjarak setahun.


Meski begitu, Justin dan Jakson saling akur seperti saudara pada umumnya. Hanya saja teman dan pergaulan mereka sangat terbatas. Tidak seperti Jakson yang suka melanggar dan melakukan tindakan nekat, Justin malah takut melakukan semua itu, takut jikala ia menjadi beban bagi orang tuanya.


Justin lebih penurut dan pendiam. Semua tindakan dan perbuatannya selalu di perhitungkan, ia sangat berhati-hati dalam memilih keputusan, keputusan yang akan menjadi penentu keberhasilannya.


Mengingat latar belakang keluarganya yang begitu terpandang, Justin mengabdikan diri untuk perusahaan dan ayahnya, ia tau bahwa jalannya sudah di tentukan, walau bagaimana pun ia tetap akan menjadi penerus dari apa yang di miliki ayahnya sekarang.


Sangat penurut dan patuh akan apa yang di perintahkan oleh Jonatan, terkadang Justin juga sangat lelah, lelah hingga tak bisa meluangkan waktu untuknya sendiri. Jonatan juga sama, ia berharap terlalu tinggi pada anak sulungnya ini.


Memang kepribadian Justin sangat dingin dan pendiam, bahkan tak pernah bisa bercanda sedikit pun, terlebih dalam mengambil tindakan dan keputusan.


Memang benar, sebagai anak pertama pastilah memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk menopang keluarga. Tanggung jawab untuk masa depan keluarga yang tenteram dan damai. Dan karena itu, dia lebih mendedikasikan dirinya untuk lebih fokus bekerja dan bekerja. Padahal di usianya sekarang yang menginjak 26 tahun, sudah cocok untuk memulai hidup baru bersama keluarga baru.

__ADS_1


Tapi hal itu pun sama sekali tak terlintas di benaknya. Setelah putus hubungan dengan cinta pertamanya, ia tidak pernah menyentuh wanita lain, atau memulai hubungan baru dengan wanita lain pula.


Kembali pada Megan, ia masih serius melihat-lihat isi kamera itu, mengamati Justin sedari tadi. Di salah satu lorong pula yang bersebelahan dengan Megan berjalan, Devan dan Devina tengah berlari kecil berburu dengan waktu.


“Kak.. Cepat, konsernya sudah di mulai!” jelas Devina panik yang tengah menarik dan menuntun Devan agar bergegas mengikutinya, lantaran konser sudah di mulai takutnya kursi yang sudah di pesannya akan di duduki orang lain.


“Devina hati-hati.. Nanti kita jatuh, Karin masih di belakang!” tutur Devan yang kian menatap ke belakang, menanti sosok Karin yang tak kunjung terlihat.


“Biarkan saja dia.. Siapa suruh mau ikut, dia hanya jadi penghambat saja!” gerutunya.


“Iya iya.. Akan ku kabulkan asal kau menjaga sikap, dia adalah teman kakak, jadi jangan mempermalukan aku! dan.. kakak tau kau ingin bertemu Jakson, tapi jangan lari-lari begini dong.. Kakak tidak kuat lagi” jelas Devan yang mulai ngos-ngosan, kehabisan nafas menyamai langkah kaki Devina dalam berlari.


“Kalau soal itu kakak tenang saja, aku akan jaga sikap! Dan sekarang ini kita harus bergegas.. Kita udah telat banget..” tegas Devina yang berusaha menarik Devan bersamanya walau langkahnya sudah tak seperti sebelumnya.


Berusaha Devan menarik nafas dalam-dalam kemudian kembali melanjutkan jalannya bersama adiknya ini. Di sudutnya lorong yang sunyi itu, suara teriakan penonton terdengar bergemuruh memecah hening. Dan saat yang bersamaan, Devan melihat sosok Megan dari lorong yang berlawanan.

__ADS_1


Jelaslah Devan terkejut, ingin ia pastikan apa yang di lihatnya sekarang, sehingga sama sekali tak melepaskan pandangannya. Saat sudah yakin bahwa itu adalah Megan, langkahnya terhenti membuat Devina juga ikut terhenti.


“Ada apa lagi kak?” ujar Devina yang kian kesal.


“Me Megan? Aku melihat Megan di sana!” tunjuknya pada lorong di sebelah yang di masuki Megan hingga sosoknya tak terlihat lagi.


“Kak Megan?” jelas Devina tak percaya, menatap arah pandang Devan sekarang seraya mencari sosok Megan yang di sebutnya.


Siap-siap Devan ingin mengejar sosok yang di lihatnya, tapi dengan sigap pula Devina menarik tangannya, “Kakak, tidak mungkin kan Megan ada di sini! Bukankah kakak pernah bilang dia tidak suka tempat yang berisik! Mungkin Kakak salah lihat!” yakin Devina.


To


Be


Contnue

__ADS_1


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2