
Karin termakan amarah, dengan kasar ia meneguk segelas air hingga tak tersisa. Dua hari yang lalu, ia menyewa seseorang untuk membuntuti Megan, dengan maksud melenyapkannya. Alasannya tak lain karena Devan masih saja mengingatnya, masih saja mencintainya walau tak berani mencarinya.
Karin sudah jadi menantu di kediaman ini, tapi belum juga mendapat hak sebagai seorang istri sepenuhnya. Bahkan ia sudah lelah jika harus berhadapan dengan orang tua Devan yang selalu saja memerintah dan melarangnya akan banyak hal yang dapat merusak reputasi keluarga.
Terlebih lagi saudara perempuan Devan yang sama sekali tak suka dengannya. Selama ia tinggal di rumah besar ini, ia hanya sebagai tahanan rumah yang mengurus banyak hal. Dan salah satu tantangannya dalam mengambil hati dan waktu Devan tak lain adalah Devina sang adik dari Devan, dan sudah sedari dulu Devina lebih suka dengan Megan.
Jikala mengingat itu, Karin kerap kesal, situasinya berada di ujung tanduk jika ia tak bisa mengambil hati Devan. Walau ia sudah berusaha membuat Devan melupakan Megan, tapi tetap saja Devan masih diam-diam memandangi Megan lewat foto mereka.
“Karin! Tolong temani Oma di taman, aku ingin keluar sebentar!” teriak sang ibu mertua yang mulai memberinya perintah, susah paya ia mencari alasan agar menelpon dan sekarang perintah lain sudah menantinya.
“Wanita itu selalu saja.. Mengapa harus aku? Banyak pelayan di rumah ini dan dia selalu memerintah ku, aku ini juga ingin bersantai!” kesal Karin kian menahan emosinya yang meluap.
“Iya bu” balasnya kemudian berlalu menuju taman menunaikan perintah itu.
Di taman pula, tepatnya di salah satu rumah kecil, Oma duduk bersama seorang pelayan. Mereka sedang merajut. Memang sudah jadi hobi bagi Oma melakukan hal itu, salah satu syal yang di rajutnya sudah ia berikan pada Karin sebagai hadis kecil kedatangannya di keluarga ini.
__ADS_1
“Orang ini sangat membosankan, akan lebih baik jika aku bisa keluar dari penjara ini sebentar saja!” batinnya kesal yang perlahan menghampiri Oma di sana.
“Karin! Ke marilah nak” sapa Oma menyuruh Karin duduk di sampingnya.
Karin duduk di sana sesuai perintah “Oma merajut lagi, apa tidak lelah, lebih baik Oma istirahat saja dan jaga kesehatan!” tuturnya memberi nasihat dengan sopan, “Dengan begini aku bisa bersantai sejenak, tidak perlu menemaninya lagi” sambungnya berkata dalam hati, harapnya perkataan itu dapat di dengarkan Oma agar menghentikan kegiatannya sekarang.
“Oma tidak bisa berhenti sekarang!” jelas Oma yang membuat Karin kian kesal dengan nafas kasarnya.
“Kamu juga sudah bisa merajut bukan? Cobalah buatkan satu syal untuk Devan” tutur Oma yang malah memberi perintah, karena sebelumnya ia juga telah mengajarkan Karin cara merajut.
“Tak apa, kamu mulai dari awal lagi, belajar dengan ini! Perlahan-lahan kamu pasti bisa!” jelas Oma yang malah memberikan salah satu contoh rajutannya untuk pemula.
Karin mendesah kasar karena kesal, hal yang tak di inginkannya malah terjadi “Wanita tua ini sungguh tak bisa mendengar, aku sama sekali tak mau melakukan ini” decak Karin dalam hati. Kata telaplah jadi kata, dengan pasrah Karin mulai merajut tanpa ada penolakan lagi.
“Apa kamu ingat tamanmu? Dia juga pernah belajar merajut denganku! Rajutannya sangat indah dan rapi, dan rajutan pertamanya ia berikan pada Devan waktu itu, dia sungguh anak yang manis dan sopan!” tutur Oma yang mengingat masa lalu bersama Megan, cerita singkat yang membuatnya selalu mengingat sosok itu.
__ADS_1
“Mulai lagi, aku sudah muak mendengar nama itu!” batin Karin berteriak kesal.
“Dia memang pandai dalam hal apa pun!” responnya yang menahan kesal.
“Oma pikir dia yang akan jadi menantu di keluarga kami, aku sangat menyukainya! Tapi sudahlah, siapa yang tau kehendak takdir, sekarang kamu ada di sini menggantikannya.. itu sudah bagus!” tutur Oma lagi yang masih menceritakan Megan, seolah dirinya lebih ingin jika Megan yang menjadi bagian dari keluarganya ini.
“Wanita tua ini baru saja menyebut ku sebagai pengganti?” batin Karin kesal.
To
Be
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
__ADS_1