Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 18


__ADS_3

Brak...


Megan menuju kamarnya, ia menutup pintu dengan keras karena kesal.


“Penyelamat! Dia berbohong padaku ternyata, apa dia juga berbohong soal dirinya yang aktor terkenal itu!” umpat Megan yang termakan kesal sejenak karena mendapati kedok kebohongan Jakson.


Jikala di hadapkan pada suatu kebohongan ia kerap kesal, ini salah satu bentuk pembelaan atas sikap jujurnya. Kata-kata manis yang masih terbayang di ingatannya yang tak lain berasal dari bibir cinta pertama yang menghianatinya juga sudah merupakan racun baginya.


Dirinya sudah kebal, walau selama ini ia tak merasakan manis dan rasa lainnya di lidah yang sudah mati rasa. Tapi kebohongan lain halnya, dua orang terdekatnya sudah menghianati kepercayaannya yang mendorongnya kerap tak suka akan sikap itu.


“Tapi, aku juga berlebihan.. Sudah untungkan dia mau menolong ku!”


“Aakk, sifat ku ini tidak berubah sama sekali.. Dari kemarin aku ingin diam saja!”


“Tapi.. bagaimana aku balas budi sekarang? Aku saja sudah tak punya pekerjaan, dompet dan ponselku juga aku tak tau dimana!” gumamnya lagi seraya berpikir, di ingatnya pada malam berhujan itu ia sempat menghubungi taman kantornya menyatakan dirinya mengundurkan diri di sela isakan tangisnya.


“Ponselku! Mungkin sudah rusak!” sambungnya.


“Apa aku bisa tinggal di sini sebentar” jelasnya.


Megan kerap menatap seluk beluk ruangannya, dengan desahan lemah ia membaringkan tubuhnya di kasur empuk itu. Terngiang bayangan Devan dalam lamunannya. Selama ini jika ia butuh sesuatu pasti yang berpikir adalah sosok itu.


“Megan sudahlah, jangan pikirkan dia lagi, sekarang kau bukan siapa-siapanya lagi!”


“Lebih baik kau harus bisa mandiri, bisa untuk tak bergantung pada banyak orang, walau kau ceroboh setidaknya kau bukan Megan yang dulu lagi” gumamnya lemah dan perlahan ia menutup matanya terlelap dalam dunia mimpi.


Tok.. tok..


Di depan pintu kamar Jakson berdiri sosok Davin. Hari pertamanya di sini tentu saja harus berbicara panjang lebar akan situasi rumah besar ini. Jakson membukakan pintu seraya mengajak Davin ke salah satu sofa di ruang tamu. Sedikit sibuk Jakson kerap menuju dapur dan mengambil beberapa minuman kaleng dari kulkas.


“Jadi bagaimana rencana sekarang?” tanyanya seraya menyodorkan sekaleng minuman itu.


“Seperti yang sudah di diskusikan sebelumnya, aku di sini sebagai bodiguard mu!” jelas Davin seraya mengingat sebelumnya ia sudah berdiskusi bersama Jakson melalui telepon.

__ADS_1


“Ya ya, tapi apa sudah ada jejak dari pembunuh itu!” tanyanya penasaran sudah sampai mana penyelidikan yang di lakukan polisi ini.


“Kemarin dia terlihat di gang sekitar supermarket yang tak jauh dari sini, mungkin dia juga sudah menyadari keberadaan Megan!” jelas Devin.


“Di sekitar sini, berarti dia sangat dekat!”


“Lalu sebenarnya apa yang dia inginkan dari Megan!” tanya Jakson.


“Hmm.. Di lihat dari motifnya sih dia terobsesi dengan Megan, waktu itu Megan sempat menolongnya yang membuatnya merasa nyaman” jelas Davin.


“Kalau begitu bukankah seharusnya ia lebih suka pada Megan mengapa harus membunuhnya” jelas Jakson.


“Justru karena dia tertarik, makanya nafsu membunuhnya juga lebih besar pada orang yang di targetnya!” jelas Davin.


“Hmm.. apa bisa begitu!”


“Oh iya.. dari luar aku melihat cctv apa kau yang memasangnya?”


“Tentu saja, ini kan rumahku!”


“Lalu dimana monitornya?” sambungnya bertanya.


“Ada di kamarku!” ajak Jakson seraya menghampiri kamarnya.


Dengan interior kamar Jakson yang lengkap akan peralatan canggih Davin kerap tercengang. Barang yang di liatnya sekarang adalah salah satu kesukaan nya.


“Wah.. Alat secanggih ini dimana kau mendapatkannya?” Tanyanya langsung yang terkagum.


“Aaa.. Itu semua hanya hadiah dari kakakku!” ujarnya.


“Kemari, jangan hiraukan itu lagi, kau ingin mengamati monitornya kan!” ujar Jakson seraya meraih tangan Davin menariknya duduk di depan monitor.


Tak butuh waktu lama, Davin mengamati seluk beluk yang di perlihatkan cctv. Dengan kelincahan tagannya ia memulai aksinya.

__ADS_1


“A apa yang kau lakukan?” tanya Jakson heran.


“Aku bermaksud menyambungkan cctv ini ke ponselku, dengan begini aku juga bisa mengawasi situasi rumahmu ini” jelasnya yang kerap fokus.


“Begitu, kalau begitu ponselku juga!” ujar Jakson.


“Bukannya kau sudah ada monitor!”


“Aku tidak mungkinkan membawa monitor ini setiap aku pergi kan!”


“Baiklah tunggu sebentar!”


“Tapi kapan aku bisa resmi jadi bodiguardmu?” tanya Davin.


“Tentu saja saat kau kerja!”


“Kapan?”


“Senin depan!”


“Baiklah, sekarang aku masih harus mengawasi rumahmu bukan!” ujar Davin.


“Sudah selesai.. Dan ya terima kasih kau sudah menjaga Megan selama beberapa bulan ini, sisanya serahkan padaku saja!” ujar Davin yang kian beranjak keluar dari kamar Jakson dengan menatap lekat ponselnya.


“Apa hubungan mu dengannya!” tanya Jakson yang menghentikan langkah Davin.


“Apa ya, aku juga tak tau! Tapi yang ku tau dia adalah cinta pertama ku!” ujarnya dengan senyum seringai sebelum beranjak dari ambang pintu yang membuat Jakson tercengang menatap kepergiannya.


To


Be


Continue

__ADS_1


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2