
Megan terdiam, terbayang lagi wajah Jakson di benaknya. Nama itu juga yang Jakson berikan saat ia berusaha menyembunyikan identitas dari Devan waktu itu.
“Melly ya!” Megan tersenyum sambil mengusap pucuk kepala gadis itu, “Usia mu?” tanya Megan lagi.
“6 tahun!”
“Kau masih kecil, seharusnya bersama orang tuamu kan!”
“Kakak sendiri kenapa tidak bersama orang tua?”
“Aku kan sudah besar!” tutur Megan yang mulai menikmati perbincangan kecilnya dengan Melly.
“Melly juga sudah besar!”
“Kamu memang sudah besar, tapi masih harus bersama ayah dan ibu! Bagaimana kalau orang asing membawamu pergi, ayah dan ibumu akan khawatir padamu!”
“Kakak kan juga orang asing?”
“Hmm, benar! Kamu juga orang asing bagi kakak, tapi kita bicara seperti ini juga termasuk berkenalan bukan?” tutur Megan memberi penjelasan dengan lembut.
“Iya.. Hmm, kakak punya teman?”
“Ada, Mereka sedang bermain di sana!” tunjuk Megan pada salah satu wahana, di sana Jessy dan Davin tengah bersenang-senang menikmati komedi putar.
“Kenapa kakak tidak ikut!”
“Kakak bosan, dan juga sangat lelah, jadi beristirahat di sini!”
“Kak, dari tadi ponsel kakak bergetar, kenapa tidak di jawab!” ujar Melly yang mulai fokus pada tas Megan yang tepat di antara mereka.
__ADS_1
Anak kecil seperti Melly bisa tau jika ponsel Megan bergetar di dalam tas, yang mana membuat Megan terkejut akan kepekaannya ini. Megan antara segan dan tidak menjawab panggilan itu yang sudah jelas dari Jakson.
“Tidak perlu, itu hanya nomor salah sambung!” jelas Megan sambil mencubit pipi imut Melly.
“Siapa nama kakak?” tanyanya polos.
“Megan!”
“Kak Megan, tadi aku melihat kakak bersedih, apa kakak punya masalah?” tanya Melly.
“Hmm, masalah ya? Ada.. Malahan banyak!”
“Aku tidak tau apa masalah kakak, tapi kakak harus kuat dan sabar! Mama juga selalu bilang begitu pada papa!”
Megan tersenyum, tak di sangka ia mendapat saran dari seorang anak berumur 6 tahun “Papa mu memang benar?” ujar Megan.
*
*
“Dia hanya temanku?”
“Hanya teman? Hei-hei, aku juga temanmu dan aku tau seperti apa diri mu! Kau tidak akan terlibat dengan seorang wanita kecuali kau ada rasa padanya? Jadi kesimpulannya, apa kau menyukai Megan?” jelas Jessy.
“Mungkin?”
“Mungkin? What the hell about maybe!”
“Kau ini kepo sekali!”
__ADS_1
“Bagaimana tidak, kau sekarang bersama teman kuliahku! Dia wanita cantik dan polos sedangkan kau si playboy, bagaimana aku tidak khawatir! Jelaskan padaku apa maksud dari mungkin itu?”
“Bisa tidak, aku tidak usah menjelaskan apa pun?”
“Tidak bisa!”
“Kita ke wahana itu!” sela Davin menunjuk rumah hantu.
“Terserah saja! Hei.. jangan mengubah topik pembicaraan, jelaskan dulu!” setuju Jessy tapi tersadar bahwa Davin tengah menghindari pertanyaannya.
“Nanti kujelaskan!” tutur Davin kemudian menggenggam erat tangan Jessy memasuki rumah hantu itu.
Mau tak mau Jessy mengikutinya, ia juga termakan api penasaran atas ke ingin tahuannya. Tapi ia tertipu, lantaran Davin terus saja menggenggam tangannya. Tak terbayang, selama ini ia hanya menjadi sahabat bagi Davin dan mengubur perasaan sukanya dari dulu.
Ya, Davin adalah cinta pertamanya. Orang yang pernah ia sukai diam-diam. Karena kepopuleran Davin saat SMP membuat Jessy tak berani mengungkapkan perasaannya, terlebih ia juga takut jika perasaannya malah memberi jarak diatara mereka, tapi Jessy lebih menyesal karena tak memberi tahu Davin sebelum pindah.
Tentu saja kepindahan Davin menjadi putusnya harapan suka yang ia pendam saat itu. Dan sekarang ia berpikir bahwa Megan adalah orang yang disukai Davin, orang yang tepat untuk Davin. Walau masih samar, perasaan suka pada cinta pertamanya ini masih tersisa, entah sebesar apa. Jessy bahkan ragu, apakah ini masih cinta monyet atau hanya harapannya yang belum pudar.
“Megan adalah cinta pertama ku!” tutur Davin tiba-tiba, membuyarkan lamunan Jessy dari tatapannya mengamati Davin sedari tadi.
“Ci cinta pertama ya!” Jessy tersenyum kecut, ia masih terhanyut dalam pikirannya, dugaannya benar, benar bahwa Megan bukan teman biasa bagi Davin.
To
Be
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
__ADS_1