
Acara berakhir tepat pukul satu dini hari. Tapi para penggemar Jakson masih saja setia menyoraki di luar gedung, teriakan masih riuh di depan studio. Tampak ragu para penggemar meninggalkan tempat lantaran masih ingin melihat sang bintang.
Di sisi lain pula, Megan bertemu dengan Jasmine dan Jonatan di ruangan sebelumnya. Ia datang mengembalikan kamera yang di gunakannya tadi, dengan bangga Megan memperlihatkan hasil jepretannya.
“Wah.. Foto-foto ini sangat bagus! Dan lagi, nak Megan mengambil banyak foto!” ujar Jasmine mengamati setiap hasil jepretan di sana, tampak ia berseri menatap sang putra yang bersinar dalam foto itu.
“Ternyata nak Megan pandai sekali memotret ya!” sambungnya memuji.
“Ahaha.. Bi biasa aja tante!” balas Megan bangga walau sedikit gugup, yang sebenarnya ia juga tak percaya pada hasil jepretannya ini.
“Kalau begitu foto aku dengan dia!” sahut Jonatan, tak lain menyuruh Megan agar mengambil gambarnya bersama sang istri, setidaknya ini bisa di jadikan kenangan.
“E.. Maksudnya dengan tante!” jelas Megan yang di balas anggukan sinis oleh Jonatan sendiri.
“Kalau begitu maaf ya merepotkan nak Megan lagi!” jelas Jasmine yang mulai menyerahkan kamera itu pada Megan.
“Tak apa tante!” jelas Megan meraihnya.
Perlahan Megan mulai menujukan fokusnya pada sepasang suami istri di depannya, dan siap mengambil foto, dengan aba-aba menggunakan hitungan mundur dari jarinya.
Ceklek.. Ceklek..
__ADS_1
Beberapa foto sudah tersimpan dengan baik. Megan mengamatinya, apakah hasilnya memuaskan. Setelah mengamati, ia tersenyum kemudian memperlihatkan foto itu pada Jasmine dan Jonatan.
“Apa begini sudah bagus?” tanyanya, sempat terpikir bahwa hasilnya mungkin tak sesuai keinginan Jasmine.
“Ini sudah lebih bagus, terima kasih!”
“Sama-sama tante.. Saya merasa lega kalau tante merasa puas!”
“Kalau tak ada hal lain.. Saya ingin pamit, yang lain sudah menunggu saya!” sambung Megan berpamitan.
“Pergilah.. Terima kasih sekali lagi, kalau ada apa-apa telepon tante ya!” jelas Jasmine yang mulai melambai akan kepergian Megan yang di balas lambaian pelan oleh Megan sendiri.
“Hmmm, mereka terlihat sangat cocok!” jelas Jasmine saat menatap hasil karya itu yang menurutnya sangat memuaskan.
*
*
Megan kembali menyusuri lorong, ia lega karena Jasmine merasa puas atas hasil jepretannya yang pas-pasan, apalagi tak ada bakat bahwa ia bisa menggunakan kamera dengan baik. Kembali Megan menatap layar ponselnya yang menampilkan fotonya dengan Jakson di panggung tadi. Sesuai permintaan Jakson, ia menyalin beberapa foto ke ponselnya.
“E.. Kenapa foto ini juga ikut tersalin! Tapi tak apalah, mereka ini juga sangat lucu!” katanya saat mendapati beberapa foto masa kecil Jakson bersama dua saudaranya.
__ADS_1
Kembali Megan melanjutkan langkahnya. Di salah satu ruangan, dimana Jakson dan yang lain berkumpul, Megan dengan sangar bersama hati yang riang membuka pintu tanpa mengetuk.
Pintu terbuka lebar, sosok yang duduk di barisan kursi dalam ruangan itu menatap Megan yang baru saja tiba, begitu pun Megan yang membalas tatapan itu bersama senyumnya yang kaku.
Tapi, kala matanya menerawang jauh tiap sosok yang duduk berjejer rapi di sana, senyum Megan kian berubah, matanya terbelalak saat mendapati Devan dan Devisa bersama Karin di kursi itu. Jelas saja Megan berharap tak bertemu mereka, tapi takdir berkata lain. Mereka malah di pertemukan pada situasi canggung seperti ini.
Megan terdiam bagai patung, ia ragu, haruskah bergabung di sana atau kembali menutup pintu dan pergi. Tapi, tanpa aba-aba tubuhnya refleks dan berbalik kemudian membanting pintu dengan sedikit kasar, meninggalkan mata yang masih keheranan di sana.
“Haa.. Kenapa mereka ada di sini? Apalagi dia bersama Karin?” gumam Megan yang bernafas lega, tapi hatinya masih bimbang dan syok karena belum dapat menerima semuanya.
“Pertama, aku harus pergi dulu! Aku tidak ingin bertemu mereka!” sambungnya kemudian berlalu di depan pintu mencari suasana.
Berlari Megan menyusuri lorong sampai akhirnya tiba di atap. Angin sepoi, malam berbintang, menemani kegelisahan dan hatinya yang tengah resah. Tempat itu begitu sunyi, penuh dengan cahaya kerlap kerlip lampu berwarna-warni. Megan duduk di salah satu sofa empuk, seolah sofa itu memang di peruntukkan untuknya. Dengan santainya ia bernafas lega di sana, menikmati angin lembut yang menyapa kulit.
To
Be
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
__ADS_1