
“Siapa gadis ini?” bisik riuh di salah satu kru wanita yang menatap lekat sosok Megan, mengamatinya lebih dalam.
Tatapan kesal juga terpancar di sana, Megan yang duduk di sebelah Jakson, mengambil posisi yang mereka idamkan sedari dulu. Megan sengaja duduk di sana, karena masih kaku bila harus berbincang dengan para kru wanita yang sama sekali tak di kenalnya. Tapi niatnya bukan duduk berdampingan dengan Jakson, melainkan dengan Davin, dan di mata yang menatap berkata lain.
Jakson tau tatapan mereka, tatapan yang siap memberi komentar dan gosip pada Megan yang mencuri perhatian “Dia adalah asistenku, Megan” serunya memperkenalkan, yang tau akan apa yang tengah orang itu pikirkan.
Megan hanya terdiam, padahal tak ada yang bertanya tentangnya, mengapa Jakson memperkenalkan dirinya? pikir Megan sekarang.
“Aahaha.. ternyata asisten, pantas saja dia boleh duduk di samping Anda!” ujar seorang wanita, sedikit bercanda tapi terdengar seperti ejekan.
“Apa tidak boleh dia duduk di sampingku!” tegas Jakson, sebenarnya ia malas bergabung dengan hal kecil seperti ini karena tau dirinya akan jadi topik perbincangan dan modus dari para kru wanita. Tapi ia memberi pengecualian hari ini karena ingin mengajak Megan, sedari tadi ia terus menatapi Megan yang tampak letih dan bosan.
“Silakan dinikmati!” seru sang fotografer mempersilahkan mereka menyantap makanan.
Suasana memang tampak canggung, beberapa karyawan dan kru duduk di depan Megan, mereka kian berbincang dengan saling berbisik. Sedangkan Jakson dan timnya sama sekali tak mengobrol atau saling mengucap kata hingga acara makan itu selesai.
“Terima kasih atas makanannya, kami akan kembali setelah ini!” seru Jakson saat selesai, memgamati Megan dan lainnya yang juga telah selesai.
“Apa Anda tidak bisa lebih lama bersama kami!” ujar salah satu kru wanita yang berusaha membuatnya tetap tinggal.
__ADS_1
“Tidak bisa, ini sudah hampir malam, kami akan kembali!” jelas Sam.
“Sekali lagi terima kasih atas makannya, kami permisi!” pamitnya memberi hormat dan kesan yang lebih baik sebelum meninggalkan tempat.
Mereka beranjak dari sana, Megan hanya mengekor mengikuti mereka. Dan lagi-lagi di luar gedung masih setia para penggemar Jakson yang kian riuh melihatnya keluar dari sana. Dengan ekspresi tersembunyi dari balik masker dan kacamata, Jakson melambaikan tangan menyapa kedua sisi penggemarnya hingga Davin tiba membawa mobil.
“Jekky..” seru para penggemar meramaikan suasana. Jekky tak lain adalah panggilan sayang yang di berikan penggemar untuk Jakson.
Suara riuh masih menggema, dan mobil yang membawa Jakson kian berlaju meninggalkan tempat keramaian. Sungguh melelahkan, hal itu terpancar dari raut wajah Jakson sekarang. Megan dan yang lainnya tak berani mengajaknya berbicara, hingga akhirnya tiba di rumah.
Satu persatu mereka kembali ke kamar masing-masing, makan malam juga terlupakan karena sudah di jamu oleh makanan sebelumnya. Jakson kembali termenung, ia kerap kesal jikalau mengingat Megan dan Davin bersama. Entah mengapa hal itu terlintas di matanya.
“Apa yang ku pikirkan, dan kenapa? Kenapa aku resah melihat Megan bersama Davin seharian!” gerutunya saat mengingat kembali ia sibuk di depan kamera tapi matanya terus saja fokus pada Megan dan Davin yang berbincang bersama dan saling tertawa.
“Aaakkk..” resahnya lagi kerap menggeliat di bidang empuknya.
Klak..
Tiba-tiba saja lampu mati, gelap mulai melanda. Jakson terkejut, sungguh tak terduga jika lampu padam sekarang.
__ADS_1
“Ada apa dengan lampu ini, aku sudah membayar tagihan bulan lalu!” gumamnya kesal kemudian mulai mencari senter, ia mengingat bulan lalu sudah membayar tagihan listrik.
“Akkk..” terdengar suara jeritan dari dapur.
Jakson terkejut, bergegas ia mencari sosok yang barus saja berteriak. Langkahnya kian di sinari cahaya senter, hingga tiba di dapur. Di sana sudah ada Davin dan Sam yang tengah menenangkan Nadia yang gemetar takut.
“A ada apa?” tanya Jakson, ia menyenteri setiap sudut ruangan yang tampak berantakan.
“Se seseorang tadi di sini, dia, dia menarik ku, u untung saja aku bisa melawan! Aku takut, hampir saja dia berhasul membiusku!” getar Nadia menjelaskan apa yang terjadi.
“Akkk.. tolong..” terdengar jeritan lagi, tepatnya dari kamar Megan.
“Itu Megan!” ujar Davin kemudian berlari menuju kamar Megan dengan penerangan cahaya senter dari ponselnya.
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.