Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 11


__ADS_3

“Siapa aku? Kau tak tau, aku Jak.. penyelamatmu!” balas Jakson terbata sedang tak ingin memberi tahu bahwa dia seorang bintang dan penyebab dari kecelakaan itu.


“Ternyata begitu, mengapa tak biarkan aku mati saja!” gumam Megan dengan desahan lemah, dirinya seolah tak bermaksud melanjutkan hidup dengan apa yang kian menimpanya.


Ting tong.. ting tong.. ting tong..


Suara bel berbunyi berkali kali di depan pintu, yang membuat dua sosok yang masih lekat dengan penampilan khas baru bangun menatap lekat arah pintu, penasaran siapa gerangan sosok di balik pintu itu yang sungguh tak sabaran.


“Jakson apa kau di rumah!” teriaknya kian berusaha membuka pintu dengan menggenggam gagang pintu seraya mendorongnya maksud membukanya.


“Siapa, siapa di luar?” tanya Megan kerap penasaran menatap Jakson yang kian mendekat pada pintu, di dengarnya suara itu khas perempuan paru baya.


“Aku juga tidak tau!” balasnya kain membuka pintu, di duganya itu mamanya dan Julia saudarinya.


Tepat saat Jakson kerap membukakan pintu, dengan keras pula pintu terbuka mengenai wajahnya, lebih tepatnya pada hidungnya.


Bukk...


“Akk, aakkkkkk hidungku!!” ringisnya kesakitan seraya memegangi hidungnya yang kian memerah.


Sontak sosok di balik pintu juga terkejut atas apa yang terjadi. Mereka kian memasuki ruangan, perempuan paru baya itu kian memeriksa wajah tampan yang tengah meringis sakit.


“Sayang, apa kau tak apa, mama tak sengaja, apa sakit, biar mama lihat dulu!” serunya kian panik menatap wajah Jakson, berharap tak membekas.


“Mama!” batin Megan.


Megan hanya menatap lekat sosok itu, dirinya juga merasa canggung ingin menolong, tapi ia tak berkutik dan malah duduk bersimpuh di sofa tak ingin ikut campur.


Julia menatap lekat sosok yang baru saja duduk di sana, jelaslah ia merasa heran, siapa gerangan wanita berantakan itu.

__ADS_1


“Ma, siapa wanita itu, dia tampak aneh!” bisik Julia di telinga Jasmine yang menghentikan kegiatannya dari mengamati wajah Jakson.


Ia membulatkan mata menatap Megan, di tatapnya Megan dengan intens. Luka di bagian kaki, rambut berantakan, pakaian agak campang camping memberikan kesan buruk untuk pertemuan pertama.


Pikirannya kerap tak karuan. Di letakkannya barang bawaan yang ia tenteng di kedua tangannya seolah siap memberi semburan.


“Siapa wanita ini? Temannya? Tidak tidak, pacar?” batin Jasmine menduga, dirinya juga kerap pusing jika harus memikirkan hal ini, mengingat Jakson hanya punya sedikit teman wanita.


“Hei anak tengik, apa yang kau lakukan pada wanita itu!” bentaknya kemudian memukul bokong Jakson dengan kasar.


“Aaakkk apa maksud mama!” ringisnya kesakitan, terkeju tangan kasar itu mendaratkah pukulan sukses di sana.


“Aku tanya apa yang kau lakukan pada wanita malang itu?” jelasnya kerap memukul bahu Jakson, berharap Jakson tak menganiayanya.


“Aku, aku menyelamatkannya!” jelas Jakson yang membuat Jasmine membulatkan mata dan tak memukulnya lagi.


“Menyelamatkannya dari apa?” tanyanya mulai menginterogasi.


“Ternyata begitu, syukurlah tak seperti dugaan ku, kenapa tak memberi tahu mama!” jelasnya dengan desahan lega.


“Aku mau menjelaskannya, tapi mama terus saja memukulku” gerutu Jakson memegang sisi bahunya.


Julia mendekati Megan, tampak tatapannya sendu mengamati luka dengan pecahan kaca yang masih menempel di kulit mulusnya.


“Aku Julia” jelasnya menyodorkan tangan bermaksud bersalaman dengannya.


“Me, Megan” balasnya tampak kaku sambil meraih tangan itu.


“Apa ini tak sakit” seru Julia mulai berjongkok menatap luka itu.

__ADS_1


“Apa yang terjadi padanya?” seru Jasmine bertanya pada Jakson.


“Aku tidak tahu!” gerutunya tak peduli, kemudian berlalu menuju kamarnya ingin mengganti piama yang ia pakai. Tapi sebelum dirinya beranjak, ia kerap menatap intens pada Megan, dirinya merasa kasihan kemudian mengingat kejadian di dapur tadi.


“Sungguh gadis sembrono!” gumamnya kemudian berlalu.


Megan menggeleng kepala atas ucapan Julia.


“Ini tidak sakit, kamu, kamu tak perlu bersedih seperti itu!” seru Megan kerap menatap sosok di depannya yang masih setia menatap luka di sana dengan wajah tampak sendu.


“Bagaimana mungkin tidak sakit! Tunggu sebentar aku akan mengambil obat” jelas Julia kerap beranjak mencari keberadaan kotak obat.


"Kakak, dimana kotak obatmu!!" teriak Julia seraya mencari di seisi lemari.


"Tidak ada, tunggu Jim datang!" balas Jakson pula berteriak.


Jasmine hanya mendesah lemah, sikap yang di tunjukkan putrinya itu adalah cerminan bahwa Julia menginginkan saudara perempuan. Ia juga kerap mendekat, menatap intens pada Megan.


Brak..


Pintu terbuka lebar dengan agak kasar. Di sana berdiri sosok Jim yang langsung menatap dua sosok yang duduk di sofa. Ia melangkah dengan tatapan tak percaya pada apa yang di lihatnya sekarang.


Tangannya penuh kantong berisikan makanan dan beberapa camilan pesanan Jakson, juga beberapa obat luka, mengingat stok obat sudah habis di gunakannya.


To


Be


Continue

__ADS_1


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2