
"Padahal aku sudah menangkap pelakunya, tapi tetap saja suasana hati Megan seperti itu!" gumam Davin.
"Ponsel Jakson juga tidak aktif sama sekali! Apa dia bahkan belum tau aku dan Megan sudah pergi?" duganya.
Sebelumnya, ia telah menceritakan mengenai pelaku yang menancapkan pisau di lengan Jakson. Pelaku itu sekarang ada di kantor polisi, tapi sudah satu minggu masih saja tak ada informasi yang lebih penting. Penjahat itu malah menyembunyikan banyak hal. Ia tak ingin angkat bicara, tak pula membocorkan siapa dalang di balik ini, seakan mulutnya terkunci bagai lem.
Davin juga telah memberikan kabar pada Sam bahwa pelaku itu ada di penjara. Walau hanya mengirim dan memberi info lewat pesan tertulis karena agak canggung untuknya menelpon Sam saat ini, mengingat Sam dan Nadia mulai kesal pada Megan.
Isakan tangis Megan kian menjadi. Mendengar itu membuat Davin juga ikut bersedih. Ia merasa bersalah karena membawa Megan, tapi mau bagaimana lagi, jika tetap di sana Nadia dan Sam juga tak akan peduli lagi dan malah menyakiti Megan nantinya.
Tring ... Tring ...
Ponsel Megan bergetar, membuyarkan pandangannya kemudian menyeka air mata di sela matanya. Panggilan masuk atas nama Jessy yang tak lain dan bukan lain teman kuliah sejurusan Megan.
Megan terkejut, sudah begitu lama semenjak terakhir kali ia di hubungi oleh temannya ini. Tanpa basa basi lagi sambil mengatur diri, Megan mengangkat panggilan.
“Halo Megan!”
“I iya!”
“Ya ampun.. Akhirnya kau mengangkat telpon juga! Sudah lama aku tidak mendengar kabarmu! Kau baik-baik saja kan? Aku rindu padamu, bisakah kita bertemu!”
“Pertanyaan mu banyak sekali, tapi aku juga merindukan mu!” balas Megan sedikit tersenyum.
“Makanya kita harus bertemu sekarang, banyak yang ingin ku ceritakan padamu!”
“Ba baiklah! Kirimkan saja alamatnya padaku, aku akan ke sana! Sampai nanti!” tutup Megan.
Tut ... tut ...
__ADS_1
Kembali Megan mendesah kasar. Sudah sekian lama, akhirnya bisa berbicara dengan teman dekatnya Jessy. Bahkan selama tiga bulan terakhir ia tak terpikir untuk menghubunginya. Jessy masih jadi pengangguran terakhir kali mereka bertemu, saat itu Jessy meminta Megan agar membantunya menjadi karyawan di Jione grup.
“Dengan siapa kau berbicara?” seru Davin bertanya setelah mengumpulkan keberaniannya dan memasuki kamar Megan.
“Aa.. dari teman kuliah, aku ingin keluar dan bertemu dengannya, bolehkan!” tutur Megan.
“Itu baik untukmu dari pada berdiam diri di rumah terus-menerus! Aku akan mengantarmu!” jelas Davin, ia senang karena akhirnya Megan akan keluar diri ruangan terpuruk ini, lebih baik lagi jika Megan juga bisa keluar dari beban pikirannya tentang Jakson.
“Hmm..” setuju Megan menggangguk.
*
*
Davin menghentikan mobil tepat di depan salah satu kafe terkenal. Sebelum keluar dari mobil, ia menengok dan mengamati suasana kafe yang kian ramai.
“Iya.. Kalau begitu kau juga masuk!” ajak Megan.
“Kau duluan saja, aku ingin membeli sesuatu di depan sana!”
“Baiklah, hati-hati!” seru Megan sebelum turun dari mobil.
Megan tersenyum, kemudian melambai pada Davin yang kian melajukan mobilnya. Sekarang Megan terfokus pada kafe besar di depannya.
Walau gugup ia melangkahkan kaki masuk ke sana. Setelah membuka pintu, di sudut ruangan melambai seorang wanita berkulit putih yang terlihat anggun bersama tataan rambutnya yang agak pendek.
Dialah Jessy, teman karib Megan saat kuliah. Megan membalas lambaian itu dan juga perlahan mendekat kemudian duduk tepat berhadapan dengan temannya ini.
Tak butuh waktu lama, Davin kembali dari urusannya, ia memarkir mobil di sisi kafe. Davin yang masih duduk di dalam mobil tersenyum senang melihat Megan berbincang bersama temannya itu, setidaknya Megan punya teman berbicara saat ini dari pada harus terkurung di rumah.
__ADS_1
Davin tak melihat dengan jelas sosok Jessy di sana, tapi terdapat perasaan yang begitu familiar kala melihat punggung dan bahu wanita itu.
“Tapi siapa wanita itu? Aku seperti pernah melihatnya!” tutur Davin yang mulai menebak dan mengingat teman perempuannya.
Klakk ...
Davin keluar dari mobilnya, ia menuju kafe itu bermaksud bergabung bersama Megan di sana. Di sela berbincangnya dengan Jessy, Megan menatap Davin yang baru tiba.
“Maaf, menunggu lama!” seru Davin setiba di sana.
Tentu saja ucapannya tadi di tujukan oleh Megan, tapi tampaknya Jessy langsung terdiam kala melihat Davin, suaranya seakan tertahan karena mulutnya yang ternganga.
“Tidak juga, duduklah!” balas Megan.
“Oh.. Kenalkan dia teman SMA ku Dav..” sambung Megan memperkenalkan, tapi ucapannya terhenti saat melihat tingkah Jessy yang tengah keheranan sekarang ini.
“Kau Davin bukan?” jelas Jessy menunjuk lekas sosok itu.
Davin terkejut, belum sempat ia duduk pandangannya sudah di buyarkan oleh wanita anggun di depannya.
“Ka kau Jessy?” balas Davin pula yang juga terkejut, hampir saja ia tak megenali sosok ini.
To
Be
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
__ADS_1