Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 32


__ADS_3

“Pose yang lebih manis lagi Jakson!” ujar sang fotografer.


Ceklek..


“Jesika, pertahankan posemu” sambungnya yang sekarang mengkritik Jesika.


Sudah beberapa jam berlalu, tapi tempat ini masih sibuk akan kegiatan pemotretan. Baru saja selesai dengan video pendek dan sekarang sesi pemotretan.


Dari tempatnya berdiri bersama Davin dan Sam, Megan terkagum akan penampilan dua orang yang tengah beradu di depan kamera itu. Baru kali ini ia melihat langsung kegiatan seperti ini, dan rasanya sungguh melelahkan.


“Oke, selesai.. Kerja bagus hari ini!” ucap fotografer mengakhiri kegiatan saat setelah ia puas mengambil beberapa gambar terakhir.


Dari arah altar, Jakson langsung menuju kearah Megan, meraih minuman dingin yang sedari tadi Megan pegang. Tampak lelah dan letih cerminan usahanya hari ini. Dengan desahan kasar, Jakson duduk di salah satu kursi menikmati minumnya dan mulai bermain pada ponselnya.


Megan hanya menatapnya, sungguh ia tau rasa lelah dari Jakson. Tapi jelaslah ia juga tak bisa membantu menghilangkan lelahnya. Sam duduk di samping Jakson mengajaknya mengobrol. Di sudut juga hanya berdiri Megan bersama Davin.


“Kamu kenapa Megan!” tanya Davin.


“Ngga papa, aku cuman tidak terbiasa meliat yang seperti ini!” ujar Megan menjelaskan keheranannya.


“Jelaslah kamu tidak terbiasa, inikan bukan jurusanmu! Aku juga tidak terbiasa, tapi mau bagaimana lagi ini pekerjaanku!”


“Dan ya, kamu jangan terlibat lebih jauh dengan Jakson, dunia kita berbeda darinya, secepatnya aku akan membawa mu keluar dari rumah itu!”

__ADS_1


“Ke keluar?”


“Kita tidak mungkin tinggal selamanya di rumah itu kan?, Jakson hanya bertanggung jawab padamu karena kecelakaan waktu itu! Kau Juga punya masalah lain yang harus di selesaikan bukan, dan lagi, Jakson akan mendapat masalah besar kalau reporter tau kecelakaan itu, bisa menjadi bumerang bagi Jakson kalau media memberitakannya!” jelas Davin mengingat kan.


Megan terdiam, ia mencerna apa yang baru saja di sampaikan Davin padanya “Kamu memang benar, terima kasih telah menggiatkanku akan posisi ku!” jelas Megan sendu dengan senyum lesunya.


Yang dikatakan Davin memang benar, tapi menurutnya sama saja bahwa nantinya ia juga akan merepotkan Davin setelah keluar dari kediaman Jakson. Masalah tentang pembunuh berantai yang mengincarnya juga menjadi masalah terberatnya sekarang.


Beberapa hari ini ia memang tak berpikir jauh tentang pembunuh berantai itu, ia hanya berusaha menutupi ke panikan dan kegundahannya agar yang lain tak merasa cemas padanya. Dalam hal ini ia tak bisa mengandalkan diri sendiri, tapi juga tak mau melibatkan banyak orang.


Selagi Megan berpikir, Davin hanya menatap sendu. Mungkin kata yang baru saja ia ucapkan menjadi beban pikiran Megan. Setelah pembunuh itu tertangkap Davin bermaksud membawa Megan bersamanya, tinggal bersama memulai hidup baru.


“Apa pembunuh yang kamu maksud itu masih berkeliaran mencari ku!” tanyanya dengan tertunduk dalam.


“Tapi mengapa? Mengapa dia mencariku”


“Mungkin dia tertarik padamu!”


“Apa itu lelucon..”


“Tidak!”


“Hidupku memang sudah suram, dan sekarang seorang pembunuh mengincarku! Dosa besar apa yang sudah ku lakukan di masa lalu!” jelas Megan yang tak percaya akan situasinya sekarang, entah harus bagaimana menanggapinya

__ADS_1


“Jangan bicara seperti itu dan jangan pikirkan itu lagi, aku ada bersamamu, kau akan baik-baik saja dalam lindungan ku!” balasnya, berusaha menenangkan Megan dengan membelai lembut tangan Megan dalam genggamannya.


Dari tempatnya duduk, Jakson menatap lekat dua sosok itu, tatapannya langsung tertuju pada tangan Davin yang kian menggenggam tangan Megan, tampak Megan sama sekali tak menepis tangan itu, entah ada apa hingga Jakson merasa terganggu pada yang di lihatnya sekarang, padahal situasi ini memang sudah di perkirakannya.


“Sam ayo kita segera kembali, aku sangat lelah!” ujar Jakson memberi perintah.


“Tu tunggu dulu Jakson, kamu dan temanmu ikutlah makan bersama kami di lantai dua, sebentar saja, baru setelah itu kamu bisa pulang!” ajak salah satu kru yang menyampaikan niat baik dari atasannya.


“Baiklah, hanya sebentar bukan!” setujunya yang tanpa menimbang dulu permintaan itu walau tampak acuh tak acuh.


“A apa sudah waktunya kita pulang!” tanya Megan yang kian menatap orang-orang mulai mengemas beberapa barang.


“Mungkin!” jelas Davin kemudian menghampiri Jakson dan yang lainnya di sana.


Davin bersama Megan bergabung dengan Jakson dan beberapa kru lainnya menuju lantai dua. Di salah satu ruangan sudah menunggu beberapa orang, mereka terkejut melihat Jakson yang hadir dan ikut bergabung, entah ada apa gerangan. Walau terasa canggung, Megan bergabung bersama Jakson dan Davin yang duduk di sisi kanan dan kirinya, dan lagi-lagi mata heran tertuju, bukan untuk Jakson tapi pada Megan.


“Sebenarnya ada apa ini, kenapa semua orang melihat ku seperti itu!” batin Megan gugup.


To


Be


Continue

__ADS_1


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2