Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 23


__ADS_3

“Bu, bukannya itu Davin ya..” jelas Karin di salah satu toko dengan menatap tiga sosok yang masih berbincang di sana.


Sedari tadi karena penasaran ia mengikuti Megan, ia juga kerap penasaran siapa sosok lelaki yang sedari tadi bersama Megan itu. Sudah tiga bulan lamanya ia sudah mencari Megan. Terakhir kali ia sempat menyuruh seseorang mencelakainya. Ya, dialah dalang yang menyuruh dua orang misterius itu mendorong Megan ke jalan raya.


“Aku pikir dia sudah menghilang selamanya, dengan begini Devan tak akan khawatir lagi! tapi ternyata aku salah!” tegasnya lagi tampak kesal.


Karena kehilangan Megan, Devan juga kian depresi. Meski sudah menikah tapi rumah tangga Devan dan Karin tampak tak harmonis. Jelaslah karena di hati Devan masih hidup sang cinta pertama, Megan.


“Tapi.. Bagaimana dia bisa bertemu Davin?” serunya lagi seraya mengamati lekat sosok Davin. Diingatnya saat masih SMA, Davin adalah teman akrab Megan sekaligus saingan cinta dari Devan.


“Nyonya mau pesan apa?” seru salah satu pelayan toko menyambut Karin yang sedari tadi berdiri di salah satu sudut toko mengintai Megan dari sana.


“Aku? Pesan apa saja!” jawabnya asal seraya mengamati toko yang tak lain adalah toko es krim kemudian kembali mengintai sosok Megan.


“Tapi nyonya, kami tidak bisa memberi anda pesanan jika anda tak memilih salah satu!” seru pelayan itu lagi tampak bingung.


“Sudahlah.. Kalau begitu aku traktir anak-anak itu saja tidak perlu memesankan apa pun padaku!” jelasnya tak ingin di ganggu.


“Ba baik nyonya!” seru pelayan itu seraya mulai beranjak meninggalkan Karin di sudut ruangan itu.


Karin tampak penasaran akan Megan, jikalau ia mengingat sosok itu yang terlintas di benaknya pastilah rasa cemburu dan iri. Selama SMA Karin sudah menyukai Devan lebih dulu, Megan sendiri tak tau akan hal itu, makanya ia lebih memilih dekat dengan keluarga besar dari Devan, ketimbang Devan sendiri. Walau ia sudah tau hubungan asamara Megan dan Devan, tapi tujuannya juga sudah bulat, ia bisa melalukan apa saja agar menang.


*

__ADS_1


*


“Apa kau sudah membeli barang keperluanmu!” tanya Davin pada dua sosok itu.


“Aku.. Lupakan saja, aku bisa membelinya lain kali!” jelas Jakson.


“Apa maksudmu lain kali! Kita sudah di sini kenapa tidak sekalian kau beli sekarang saja!” jelas Davin memberi masukan.


“Dan lagi, ini sudah waktunya makan siang, kita makan sebentar baru lanjut!” tuntun Davin memberi perintah.


Megan dan Jakson hanya mengangguk pelan mengikuti perintah kecil itu, mereka juga tak bisa menolaknya mengingat tuntutan perutnya kian bergemuruh. Mereka beranjak dari depan toko tepat di samping toko es krim tempat Karin mengintai mereka.


“Mau kemana mereka?” seru Karin yang juga siap mengikuti.


“Aku memang tak bisa bertemu denganmu sekarang, aku harus mencari tau tentang mu dulu Megan!” sambungnya yang tak akan membiarkan Megan lepas dari pandangannya.


“Nyonya Anda belum membayar apa yang mereka pesan!” seru pelayan itu memberi tahu dengan sopan, seraya memperlihatkan anak-anak di salah satu meja yang kian asik dengan es krimnya.


“Ini.. segini apa cukup! Kembaliannya ambil saja!” ujarnya seraya memberikan pecahan uang seratus ribu tiga lembar pada pelayan itu, yang membuat sang pelayan toko terdiam kaku menatap Karin yang kerap menjauh dari pandangannya.


“Apa orang kaya seperti itu tak punya sedikit sopan santun!” pekik pelayan toko yang kesal menatap tingkah Karin yang seolah merendahkan dirinya.


“Aakk.. Sial, gara-gara pelayan itu aku kehilangan jejak Megan!” pekiknya pula yang termakan kesal karena tak kunjung mendapati Megan dalam jangkauan pandangannya.

__ADS_1


Di keramaian pula, tiga sosok Davin kerap mencari toko untuk di singgahi, di ikuti Megan dan Jakson sedsri tadi.


“Sepertinya ada yang mengikutiku!” gumam Jakson ragu seraya berbalik menatap keramaian, mencari kejanggalan di sana, pikirnya seorang penggemar yang mengikutinya lagi.


“Ada apa!” tanya Megan dengan nada pelan.


“Tidak ada!” balasnya.


Jakson hanya mengekor mengikuti langkah kaki Megan di sampingnya, takut para penggemar akan mengerumuninya lagi seperti sebelumnya.


“Kita makan di sini saja, tak apa kan?” tanya Davin pada dua sosok itu.


“Hmmm..” angguk Megan setuju.


Jakson hanya mengamati toko, memang tampak sunyi jadi ia setuju saja pada Davin. Mereka duduk di sudut ruangan paling dalam. Tepat setelah mereka memesan makanan, seseorang mendekat dan langsung menepuk keras punggung Jakson.


Pakkk..


“Uhuk uhuk.. Si siapa sih!” seru Jakson refleks terkejut.


To


Be

__ADS_1


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2